Belajarlah Sampai ke China…!

Andi Suruji
Selasa, 5 Februari 2008 | 02:40 WIB

kompas-cetak192

http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.kompascetak.xml.2008.02.05.02401177&channel=2&mn=44&idx=44

Jauh sebelum saya mendapat kesempatan berkunjung ke China untuk pertama kali, yaitu pada tahun 2005, sudah sangat ramai pembicaraan orang tentang Negeri Tirai Bambu yang berpenduduk sekitar 1,5 miliar jiwa itu. Keramaian pembicaraan meliputi berbagai aspek. Mulai pembangunan fisiknya, kemajuan ekonominya, sampai kepada kehidupan sosial budayanya.

Lebih jauh lagi ke belakang sebelum itu, yakni di tahun-tahun ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi, saya juga telah berkunjung ke Hongkong dan Makau, dua “negeri” yang sesungguhnya masih dalam wilayah China. Apa saja yang saya lihat di dua kota ini tetap belum cukup memadai untuk memberi gambaran yang jelas tentang China secara keseluruhan. Maklum, dua kota itu berada dalam “kekuasaan” negara lain. Hongkong di tangan Inggris dan Makau di tangan Portugal.

Bayangan tentang kehidupan di China “asli” di benak masih seperti penggambaran dalam film-film kungfu yang banyak menampilkan kehidupan tradisional China. Juga masih terbayang kota-kota pecinan alias China town yang pernah saya lihat di Yokohama, Jepang, atau Washington DC, AS. Ada kuil, toko yang kecil-kecil, dan gang-gang yang sempit. Lalu lintas padat merayap, paling banter ramai lancar.

Buku-buku tentang China juga belum mampu mengubah alam bawah sadar saya tentang China Tua. China modern yang ramai jadi buah bibir para pebisnis dan pelancong yang pernah berkunjung ke sana belum menancap betul di benak saya.

Ada pertanyaan yang tersisa ketika saya berada di Makau. Hotel-hotel pada Jumat sore ramai sekali kedatangan tamu. Selalu begitu kata seorang karyawan hotel. Namun, mengapa demikian? Menurut karyawan hotel tersebut, itulah saat-saat kedatangan orang-orang dari China yang melancong ke Makau. Bukan berwisata, tetapi untuk menikmati akhir pekan dengan mempertaruhkan uangnya di meja judi kasino. Makau memang kota kasino.

Stigma dagang
Orang-orang China memang mungkin bak senyawa dengan stigma dagang, kerja keras, dan berfoya-foya di meja makan dan meja judi. Namun, tentu ada kelebihan uang yang dimiliki orang- orang China itu sehingga semakin deras mereka mengalir ke Makau untuk berjudi, bermain di meja kasino. Dari mana uang itu, tentu bersumber dari pergerakan ekonomi yang melaju cepat sehingga rakyat memiliki kesempatan untuk memupuk modal untuk berdagang dan bermain di kasino.
Sebagai jurnalis, hal-hal semacam itulah yang selalu menggoda. Hadir di lokasi untuk menyaksikan dan merasakan denyut peristiwa yang sedang berlangsung menjadi suatu kemutlakan.

Ketika menyusur jalan-jalan besar dari bandara menuju Beijing, ibu kota China, angin perubahan China memang terasa berembus. Segera sirna semua bayangan lama, tergantikan dengan suatu ketakjuban. Pembangunan gedung-gedung tinggi terlihat di sana-sini, seolah berpacu dengan laju pertumbuhan ekonominya yang rata-rata 10 persen per tahun.

Jalan raya yang lebar-lebar disesaki kendaraan. Di sisi jalan, penduduk naik sepeda masih banyak terlihat. Di sisi kiri dan kanan jalan, bangunan dengan arsitektur modern berselang-seling dengan bangunan tua dengan arsitektur China, membentuk citra tersendiri dari simbol dan dinamika masyarakat China. Tembok China tentu telah menjadi saksi sejarah peradaban China di bidang seni bangunan, bahkan akan tetap menjadi saksi sejarah hingga peradaban manusia ini berakhir kelak, entah kapan.

Jalan raya yang membentang di depan Hotel Grand Hyatt menuju Lapangan Tiananmen yang berhadapan dengan Kota Terlarang (Forbidden City) sungguh luar biasa lebarnya. Mungkin dua kali lipat dari jalan negara Sudirman-Thamrin di Jakarta. Tidak jauh dari hotel, ada sebuah jalan lebar yang ditutup pada sore hari sampai malam untuk digunakan sebagai arena berjualan aneka makanan dan minuman, ada pameran karya seniman, ada penjual cenderamata, dan apa saja yang mesti dipamerkan dan dijual.

Di sela-sela gedung yang ada di situ terdapat lorong-lorong yang menuju ke bagian belakang gedung-gedung tersebut. Di gang- gang sempit itulah juga terdapat aneka macam barang “Made in China” digelar dengan harga obral. Ada yang terang-terang bertuliskan “Made in China”, tetapi tidak sedikit yang tanpa label sama sekali. Mulai dari kaus yang dijual lembaran, jam tangan bermerek mahal semisal Rolex, sampai kamera dan perlengkapan rumah tangga. Jelas memerlukan kehati-hatian untuk membeli suatu barang agar tidak sampai membayar harga yang mahal ketimbang harga di negeri sendiri.

Merek global
Terlepas dari persoalan hak kekayaan intelektual, revolusi industri manufaktur China memang bergerak dinamis. Boleh jadi semula untuk sekadar berproduksi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang luar biasa besarnya. Meniru dan memalsukan barang bermerek global dengan harga murah untuk kebutuhan dalam negeri bisa menjadi suatu strategi menghidupkan dan memajukan industri-industri yang ada.

Setelah itu, tahap selanjutnya adalah modifikasi untuk meningkatkan kualitas sehingga dapat bersaing dengan kualitas barang aslinya. Pada tahapan selanjutnya, China akan keluar dengan produk dengan merek sendiri dan cap “Made in China” menjelajah dan menjajah pasar di luar negeri. Kini, Amerika Serikat pun dibuat repot oleh barang-barang China yang berharga relatif murah.

Gerak dinamis industrialisasi manufaktur kemudian menyeret gerbong sektor perdagangan melaju cepat. Ditunjang industri keuangan dan sistem finansial yang tangguh, serta kebijakan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan di berbagai wilayah, tentu saja menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi yang melesat luar biasa. Akhirnya, tercipta lapangan kerja yang terus melebar ke berbagai wilayah untuk memberi penghasilan bagi rakyatnya.

Stabilitas dan pertumbuhan telah digenggam China. Kini pekerjaan selanjutnya adalah pemerataan yang sesungguhnya mulai pula terasa nyata, bukan sekadar jargon dan janji kosong kampanye politik. Orang-orang desa yang bergerombol masuk ke Beijing untuk pertama kali dalam hidupnya, pertama kali naik pesawat terbang, pertama kali menginap di hotel mewah, adalah orang-orang yang punya duit lebih hasil dari strategi pembangunan tersebut.

Kini Pemerintah China terus membangun simbol-simbol kebanggaan rakyatnya berupa proyek bangunan atau peristiwa-peristiwa berkelas dunia. Pesta olahraga sejagat, Olimpiade Beijing 2008, misalnya. Hal-hal semacam itu terasa semakin meredup di negeri ini. Belajarlah walau sampai ke negeri China…!

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: