‘Made in China’ dalam Sorotan

Prabandari
Opini Publik, Friday, 10 August 2007

logo_br_kr7

http://www.kr.co.id/article.php?sid=133624

KEBIJAKAN kurs tetap yuan yang diberlakukan oleh pemerintah Cina telah menghidupkan sektor ekspor. Beijing pun menangguk laba besar dan memegang posisi sebagai lokomotif ekonomi tidak hanya di Asia, melainkan juga dunia. Sekitar 28 persen barang dan jasa yang beredar di dunia merupakan produk Cina.

Tak pelak keberadaan barang-barang Made in China tersebut menunjukkan ketergantungan dunia pada Cina. Bahkan, saat ini ada kredo yang menyebutkan bahwa produk Prancis terkenal mewah, Jepang memiliki presisi tinggi, Jerman efisien, Amerika kreatif, sedangkan Cina murah.

Kemajuan ekonomi Cina telah membuat cemas negara-negara lain dan bahkan memicu terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat dengan Cina. Penyebabnya tidak lain adalah ‘trade imbalance’ di mana pada tahun 2006, defisit perdagangan AS terhadap Cina mencapai 232,5 miliar USD.

Presiden George W Bush pun berusaha menekan Beijing agar defisit itu bisa dikurangi. Saat menjamu Presiden Hu Jintao, Bush mengatakan bahwa rakyat AS harus lebih banyak menabung, sedangkan rakyat Cina perlu meningkatkan konsumsi dan membelanjakan uangnya. AS pun meminta agar penerapan kurs tetap yuan direvisi. Imbauan yang tidak digubris oleh Beijing.

Ketika di Panama terjadi kematian yang diduga karena minum sirup obat batuk buatan Cina, AS bersuara paling lantang. Washington meminta Beijing memperhatikan mutu produknya untuk menjaga kesehatan dan keselamatan konsumen. Produk ‘Made in China’ pun disorot di seluruh dunia. Penelitian itu menghasilkan berita yang mengejutkan, karena ada di antara produk-produk Cina yang tidak memenuhi standar kesehatan. Di AS, produk personal care buatan Cina seperti pasta gigi dan madu diteliti. Tim menemukan kandungan diethylene glycol pada pasta gigi dan antibiotika pada madu. Pada jenis makanan lain ditemukan cemaran pestisida, obat terlarang dan zat karsinogenik (penyebab kanker). Tim pun menemukan cat yang mengandung timah pada produk mainan Cina. Jutaan produk mainan pun ditarik dari peredaran.

Di Manila, Biro Pangan dan Obat Filipina (BFAD) mengumumkan ditemukannya zat berbahaya pada produk permen Cina. Presiden Philippine Food Processors and Exporters Organization Roberto Amores kemudian melarang impor permen White Rabbit. Keputusan ini langsung dibalas Cina dengan punitive action berupa melarang impor pisang Filipina.

Menurut Cina, produk criping pisang Filipina mengandung sulfur dioksida, 25 kali lipat di atas ambang. Filipina pun terkena imbas perang dagang antara AS dengan Cina.

Situasi yang mirip juga dialami Indonesia. Setelah tim Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan sejumlah produk Cina tidak aman dikonsumsi, Cina pun melakukan punitive action dengan melarang sejumlah produk ekspor Indonesia. Dari perhitungan makro, diketahui transaksi perdagangan antara kedua negara mencapai 14,9 miliar USD. Surplus ada di pihak Indonesia, di mana nilai ekspor RI ke Cina mencapai 8,3 miliar AS, sedangkan Cina mengimpor produk RI sebesar 6,6 miliar USD. Cina merupakan mitra dagang yang penting bagi Indonesia.

Sebenarnya, dalam perang dagang ini yang mendapat keuntungan jangka panjang adalah konsumen, karena produsen jadi bekerja keras untuk meningkatkan dan menjaga mutu produknya. Bagi Cina, berita mengenai temuan zat berbahaya itu merupakan pukulan yang menyakitkan, karena selama ini negeri itu menggantungkan pendapatan dari ekspor.

Tidak mengherankan Cina bertindak cepat dengan melakukan razia terhadap ribuan perusahaan yang memproduksi berbagai barang dan jasa. Hasilnya, lebih dari 400 perusahaan telah masuk daftar black list Beijing. Cina meminta waktu kepada negara-negara konsumen untuk melakukan pembenahan. Peristiwa semacam ini bukan baru pertama terjadi di dunia. Beberapa tahun yang lalu perusahaan Jepang juga pernah mendapat klaim serupa dari negara-negara konsumen. Belakangan kritikan konsumen justru melecut Jepang untuk menghasilkan produk yang bermutu tinggi.

Negara besar seperti Amerika pun pernah menghadapi kritikan serupa, yakni ketika Uni Eropa dan Jepang melarang impor daging sapi dan produk peternakan dari AS. Dulu larangan itu diberikan setelah diketahui peternak AS menggunakan hormon rBGH untuk meningkatkan produksi susu dan hormon untuk memacu penggemukan. Sapi yang diberi hormon ini akan memberikan tambahan keuntungan sebesar 80 USD per ekor bagi peternak. Namun menurut Prof Samuel Epstein dari University of Illinois, produk susu dan daging yang dihasilkan mengandung zat karsinogenik dan meningkatkan terjadinya insiden kanker payudara, kanker kolon dan kanker prostat. q – m. *) Prabandari, Wartawan SKH Kedaulatan Rakya.t

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: