Visi yang Diterjemahkan

TAJUK RENCANA, Kamis, 22 November 2007

kompas-cetak165

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/22/opini/4017437.htm

Bangsa besar haruslah memiliki visi yang besar. Namun, visi itu harus bisa diterjemahkan ke dalam tindakan agar tidak sekadar menjadi mimpi.
Cita-cita untuk menjadi kekuatan ekonomi kelima terbesar di dunia sudah dicanangkan. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita bisa meraih Visi Indonesia 2030 yang penuh dengan cita-cita besar tersebut?

Tidak ada yang bisa merealisasikan cita-cita kecuali kita sebagai bangsa yang melakukannya sendiri. Bahkan sejak awal kita mengingatkan, semua warga harus ikut terlibat dan memberikan kontribusi terbaik untuk meraih harapan yang tinggi itu.

Di sinilah persoalan yang sering kita hadapi. Kita bukan hanya tidak memiliki pikiran yang besar, tetapi sikap kita juga terlalu terkotak-kotak dan kepentingan kita hanya berorientasi kepada kelompok serta berjangka pendek, yang akhirnya menjadi penghambat.

Kita tidak perlu bicara soal potensi. Seperti disampaikan Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, negeri ini secara geografis mempunyai posisi strategis yang luar biasa. Kita memiliki demografi yang menjanjikan, bahkan pada tahun 2025 kita akan memiliki generasi produktif yang paling optimal. Jangan tanya lagi potensi sumber daya alamnya. Ini negara yang kaya raya.

Semua itu tidak memberikan apa-apa karena kita tidak bisa mengelola kekayaan itu secara optimal. Bahkan tidak salah apabila kekayaan yang kita miliki lebih banyak menjadi “kutukan” daripada menjadi berkah.

Mungkinkah kita membalikkan semua keadaan itu? Sangatlah mungkin sepanjang kita mau melihat tantangan besar yang ingin kita raih bersama. Mengubah sikap kita yang selalu pesimistis, menggampangkan persoalan, dan bahkan mudah menyalahkan orang lain, menjadi sikap yang optimistis, mau bekerja keras, berdisiplin, tidak cepat puas diri, dan tidak lebih dulu menunjuk kelemahan orang, tetapi justru mengangkat kelebihannya untuk bisa disinergikan.

Seperti dituliskan Samuel L Huntington, semua itu berkaitan dengan masalah kultur. Buktinya bangsa Korea bisa bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, karena mereka mampu mengubah kultur bangsanya dari kultur yang lembek menjadi kultur yang kuat.

Besarnya jumlah penduduk bukanlah sebuah kendala. Buktinya, China mampu dalam waktu singkat membangun bangsanya menjadi bangsa yang kuat. Sistem demokrasi pun bukanlah penghalang, karena India terbukti mampu mengelola demokrasi dengan penduduk yang besar, tanpa melupakan pembangunan ekonomi.

Apa boleh buat, pada akhirnya yang menentukan adalah peran pemimpinnya. Sejauh mana ia mampu menggalang semua potensi itu menjadi satu kekuatan untuk mencapai sebuah tujuan besar bersama sebagai bangsa. Bukan dengan cara yang otoriter tentunya, tetapi dengan membangun institusi yang lebih kokoh dan berperan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Tidaklah mungkin kita mencapai sebuah cita-cita besar dengan cara yang biasa-biasa. Hanyalah kegilaan (insanity) kalau kita menginginkan hasil yang luar biasa, tetapi dilakukan dengan cara kerja yang biasa.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: