Visi yang Belum Tuntas

Yoyon Ahmudiarto, Peneliti LIPI
Kamis, 18 Januari 2007

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=279347&kat_id=16

Belakangan kita banyak dikejutkan oleh musibah akibat perubahan dan pergerakan alam seperti tsunami, gempa, badai, banjir, longsor dan cuaca buruk lainnya. Semua itu mengakibatkan banyak korban manusia, rumah-rumah terendam, perahu dan kapal laut tenggelam serta terakhir hilangnya pesawat Adam Air dalam penerbangan Surabaya-Manado. Mungkinkah semua kejadian ini karena kelalaian kita pada penguasaan iptek yang menjadi visi pertama BJ Habibie dan lebih menyuburkan balitbang ‘politik’?

Di samping itu kita juga terpana menyaksikan ungkapan yang berkembang di masyarakat dalam memandang fenomena ‘bencana’. Peristiwa yang hampir bertubi-tubi silih berganti saat ini malah dijadikan peluang untuk bahan ‘mengadili’ pemerintah sekarang dengan sejumlah label mulai dari yang rasional sampai irrasional. Misalnya SBY-JK sebagai kepanjangan dari sering bencana ya jalaran kala (sering bencana ya karena kala atau waktu). Masyarakat pun cenderung mengamini saja karena keterbatasan waktu dan tenaga.

Visi Habibie
Awal 1980-an kita diberi ramuan sederhana oleh menristek yang saat itu dijabat BJ Habibie. Visi itu menekankan agar target pengusaan iptek modern menjadi ‘terjangkau’, secara sistematik, sederhana, dan mudah. Untuk kita mampu menguasai teknologi modern, mesti dilakukan secara bertahap. Habibie sebagai seorang profesor genius tidak malu-malu menyodorkan konsep alih teknologi yang sangat sederhana yang dinamakan reverse engineering. Bersamaan dengan itu para pemuda Indonesia secara paralel dan berkala dikirim ke luar negeri menimba ilmu untuk memperkuat basis iptek.

Beberapa sektor secara serentak dikembangkan oleh Habibie menjadi industri strategis. Gairah pembangunan manusia menjadi sangat terasa di kalangan generasi muda dan industriawan. Tidak tanggung-tanggung, anggaran Kementerian Ristek mencakup dana non budgeter yang dimintakan langsung kepada Pak Harto sampai kepada pinjaman World Bank. Semua itu digunakan untuk mengirim putra-putri bangsa Indonesia melanjutkan pendidikan terutama di negara-negara yang dianggap maju seperti di Amerika Serikat, Inggeris, Jerman, Perancis, Jepang, dan Australia.

Habibie secara diam-diam menerapkan visi pertama bahwa penguasaan sains dan teknologi oleh suatu bangsa adalah kunci utama yang harus diprioritaskan dalam pembangunan. Namun semua itu menjadi sirna ketika Habibie tergiur dengan visi yang lebih besar yaitu terjun pada bidang politik dan kemudian kalah bersaing. Visi pertama untuk membangun penguasaan sains dan teknologi tampaknya mesti kita revive lagi. Jangan sampai apa yang terjadi pada zaman Gus Dur menjadi presiden ada upaya menghapuskan semua yang berbau Habibie seperti PT IPTN menjadi PT DI dan seterusnya.

Besarnya peran penguasaan sains dan teknologi inilah yang diharapkan dapat meringankan beban dalam membangun bangsa menjadi bangsa yang kuat dan dapat menekan ekses perubahan dan pergerakan alam yang sekarang kita sebut bencana. Perlu kita sadari pula bahwa yang namanya tsunami dan gempa di Jepang sudah sangat lama dan sering terjadi. Namun karena bangsa tersebut sudah dapat ‘menjinakannya’, tsunami dan gempa tidak lagi menjadi bencana, malah menjadi potensi bisnis.

Dalam pengejawantahanan visi ini, Habibie mengorbankan dirinya dan mendapat kritik dari para ekonom yang saat itu memberi ‘cap’ langkah tersebut sebagai pemborosan, program mercusuar, tidak berpihak pada industri kerakyatan atau hanya fokus pada teknologi tinggi. Namun sebagai seorang yang mempunyai tekad kuat dan berkeyakinan, program berjalan terus sambil menghargai perbedaan-perbedaan pendapat atau konsep.

Tampak apa yang dilakukan Habibie mirip dengan gebrakan yang dilakukan oleh para pemimpin Malaysia termasuk Mahathir Muhammad. Mereka tak acuh dengan kritik dari oposisi dan yang seolah tahu hasil yang akan diperoleh untuk jangka pendek dan jangka panjang dan berdampak positif pada hampir semua sektor kehidupan berbangsa. Malaysia sejak awal tahun 1970-an hingga sekarang secara besar-besaran mengirimkan putera- puterinya melanjutkan pendidikan ke luar negeri tentunya dengan nilai investasi yang luar biasa besar. Namun tampak hasilnya sekarang. Pembangunan di Negara Jiran tersebut sangat pesat.

Untuk mewujudkan visi yang besar, memerlukan waktu lama, jumlah pelaku yang sangat besar, dan konsistensi dengan waktu yaitu secara terus menerus. Jumlah penduduk negara kita yang sudah hampir seperempat miliar orang tidak cukup ditangani dengan melibatkan ratusan atau ribuan orang yang mempunyai skill. Tetapi idealnya skill penduduknya hampir merata. Untuk itu, pembangunan manusia yang dilakukan Pemerintah Malaysia dengan mulai dari program ‘pemerataan pendidikan’ mungkin perlu kita jadikan acuan.

Kelemahan implementasi
Seperti sudah kita maklumi bersama bahwa permasalahan di negara kita sangat kompleks. Habibie kemudian dipercaya menjadi one man show dan mengelola lebih dari 20 BUMN. Perlu dipertanyakan apakah delegating forces yang diberikan Habibie tidak mampu dijalankan oleh bawahannya sehingga program-program yang besar dan mempunyai visi besar tersebut tidak dapat dijalankan dengan baik.

Program ini sesungguhnya not completely fail. Data-data menunjukkan, tenaga-tenaga terbaik PT Inka mampu membuat dua set Kereta Rel Listrik Indonesia (KRLI) serta saat ini (2006-2007) dengan segala keterbatasannya masih mampu mengekspor 10 set kereta ke Bangladesh. Tenaga-tenaga ahli bidang aeronotika dari PT DI banyak yang ‘dimafaatkan’ oleh perusahaan-perusahaan raksasa di Amerika Serikat, Jerman dan Malaysia. Begitu juga tenaga-tenaga terampil di PT LEN, PT Pindad, PT PAL, dan seterusnya.

Sebagai contoh, pada sektor transportasi darat, PT Inka mendapat amanah sebagai industri strategis bidang kereta api. Perusahaan BUMNIS ini sangat antusias membuat kereta-kereta untuk menunjang sistem transportasi nasional dengan tangan putera-puteri terbaiknya. Sejak 1989 hingga 1999, PT Inka menjalankan program reverse engineering secara bertahap yaitu program transfer teknologi KRL BN-HOLEC phase I, II dan rencana phase III, juga KRLI yang dijalankan bersama-sama industri strategis lainnya yakni PT LEN dan PT Pindad.

Untuk program tersebut, Habibie ‘mencarikan’ proyek sehingga menguntungkan semua pihak. Operator diuntungkan dengan dengan penambahan unit sarana baru dan pihak industri mendapat pekerjaan. Manfaat non-meteri yang diberikan kepeda Kementerian Ristek adalah pelatihan sumber daya manusia.

Hal serupa juga terjadi pada sektor transportasi udara, seperti pengembangan pesawat CN-235 dan N-250 oleh tangan putera-puteri PT DI. Pada era Habibie pula Industri Telekomunikasi Indonesia (PT Inti) mendapat kesempatan membangun jaringan telekomunikasi dan satelit untuk PT Telkom. Kontras sekali dengan apa yang terjadi saat ini, yang mana industri telekomunikasi luar sedang berpesta dengan maraknya penjualan hand phone. Sebaliknya, industri peralatan telekomunikasi dalam negeri justru lagi megap-megap.

Akhirnya, visi yang dicanangkan seorang Habibie sangat menyentuh segala aspek kehidupan dan berwawasan sangat jauh ke depan. Suatu gebrakan yang kelihatannya sederhana tetapi berdampak panjang. Sayangnya implementasi visi tersebut belum tuntas dan tidak terintegrasi dengan upaya pemerintah saat ini yang sedang gencar-gencarnya berpromosi agar investor luar masuk ke Indonesia dengan menyodorkan program ‘Pembangunan Infra struktur’. Kita tetap berharap agar kepercayaan pemerintah terhadap BUMN Industri Strategis yang didasari format dalam rangka pembangunan ekonomi yang berwawasan pembanguan SDM, perlu dihidupkan kembali dengan tidak mengorbankan pihak/sektor lain.

Ikhtisar
– BJ Habibie telah jauh-jauh hari mencanangkan visi penting untuk mendukung kemajuan bangsa, dengan penguasaan sains dan teknologi. Generasi muda yang disekolahkan negara untuk menimba ilmu dari negara maju pun sangat banyak.
– Gejolak politik yang terjadi di negeri ini, kemudian mengaburkan visi tersebut.
– Masyarakat Indonesia saat ini pun akhirnya sekarang menjadi sangat bergantung pada hasil teknologi yang dikembangkan negara lain.
– Pemerintah saat ini diharapkan bisa kembali menghidupkan pembangunan ekonomi yang berwawasan pembangunan sumber daya manusia.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: