Visi 2030

Jumat, 13 April 2007

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=289347&kat_id=19

Tak banyak kabar baik yang di hari-hari sekarang dapat kita dengar. Walaupun kabar baik itu sekadar berupa harapan, hal yang semestinya tak perlu modal apa pun untuk dapat memilikinya. Tetapi, harapan seperti itu pun tak banyak kita miliki. Kita jarang memperbincangkannya. Bahkan, jarang mendengarnya. Apalagi kabar baik berupa keadaan nyata. Sedangkan kabar buruk tak terhitung lagi jumlahnya.

Di tengah paceklik kabar baik itu, orang-orang Kamar Dagang dan Industri (KADIN) membuat terobosan. Rachmat Gobel, salah seorang pemangku lembaga itu, sudah lama mengemukakan Indonesia perlu punya visi jelas. Visi itu yang akan menjadi tujuan bersama bangsa. Berujung pada visi tersebut, bangsa dapat membuat roadmap buat mencapainya. Jika semua sepakat untuk menuju visi itu, maka –insya Allah– kemakmuran penuh berkah yang diharapkan bangsa ini akan terwujud.

Wacana seperti itu sebenarnya sering terdengar. Tapi, wacana sering berhenti sekadar sebagai wacana. Akhirnya menguap bersama waktu. Namun, pengusaha tak akan pernah mau berhenti di tataran wacana. Pengusaha selalu ingin konkret. Maka, Kadin bergerak agar wacana itu dapat menjadi konsep yang utuh. Suatu konsep yang dapat diwujudkan secara nyata. Maka, lahirnya Visi 2030 itu, berserta jalannya untuk menuju ke sana. Itulah yang kemudian dipresentasikan pada Presiden.
Di tengah ‘paceklik’ kabar baik sekarang, lontaran Visi 2030 itu menyegarkan. Lontaran itu membuat kepercayaan diri bangkit kembali. Yakni bahwa kita, bangsa ini, bukanlah bangsa yang telah ditakdirkan untuk menjadi pecundang selamanya. Bahwa, kita ternyata masih punya masa depan gemilang. Masa depan yang memang akan mewujud bila kita meyakininya sungguh-sungguh. Menurut perhitungan konsep Visi 2030, 23 tahun lagi kita akan menjadi kekuatan ekonomi nomor lima di dunia. Kita hanya akan kalah oleh Cina, India, Amerika Serikat, dan Brasil. Pendapatan rata-rata setiap penduduk saat itu 18.000 dolar AS per tahun. Tiga kali lipat dari perkiraan pendapatan minimal yang memudahkan untuk mengatasi kemiskinan, yakni 6.000 dolar AS.

Realistiskah visi itu? Ataukah itu cuma mimpi untuk menghibur diri atas kegagalan mengatasi berbagai persoalan? Boleh jadi kritik itu benar. Tetapi, tanpa visi, kita tak akan sampai ke manapun. Baik kita sebagai pribadi, apalagi secara bersama sebagai bangsa. Para trainer pengembangan diri banyak yang mengemukakan bahwa visi kita harus sejelas di mana letak rumah kita sendiri. Jika kita tahu di mana rumah kita, maka hambatan apa pun tak akan menghalangi kita untuk pulang dan benar-benar sampai di rumah. Visi harus sejelas itu agar tercapai.

Marwah Daud Ibrahim, salah seorang pimpinan ICMI yang aktivitasnya sekarang banyak keluar masuk kampung guna memberi pelatihan, juga selalu bicara tentang visi. “Persolan bangsa ini,” katanya, “tidak punya visi.” Energi akhirnya habis untuk saling mengkritik, dan bukan saling mendukung untuk mewujudkan visi tersebut. Padahal, tanpa visi tidak ada sukses sejati. Dalam istilah agama, visi adalah ‘azzam’. Visi adalah niat. Maka, Allah SWT pun merasa perlu menegaskan seruan lewat Alquran agar kita “berazzam”.

Tak sedikit pula penegasan Rasullullah SAW agar kita meluruskan dan meneguhkan niat. Lalu, mengapa kita masih saja tak bervisi? Jalan masih panjang memang untuk dapat melihat sejauh apa visi itu dapat mewujud. Tapi, setidaknya visi besar itu telah dipancangkan. Lalu apa visi diri kita sendiri? Apa visi anak-anak kita? Apa visi keluarga kita?

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: