Setelah Visi Dicanangkan

Agus Suwignyo
Selasa, 24 April 2007

kompas-cetak152

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0704/24/opini/3467631.htm

Setelah Visi Indonesia 2030 dicanangkan, pembenahan kebijakan dan praktik pendidikan nasional harus diprioritaskan. Perangkat hukum kuat mendasari komitmen dan wacana. UU Sisdiknas, UU Guru dan Dosen, serta segala peraturan turunan dihasilkan dengan mahal dan penuh pengharapan.

Melalui Visi 2030, pemerintah menegaskan, Indonesia akan menjadi negara sejahtera urutan kelima dunia. Pendapatan per kapita 18.000 dollar AS dengan produktivitas, kemandirian, dan daya saing tinggi (Kompas, 23/3/2007). Realisasinya kini dinantikan.

Seberapa jauh proyeksi kesejahteraan ekonomi sebagai tekanan Visi 2030 akan mencerminkan peningkatan derajat kualitas hidup (well-being) manusia Indonesia seluruhnya? Politik-kebijakan pendidikan seperti apa yang sejalan semangat itu?

Sejumlah kalangan menilai visi itu mimpi. Hitung-hitungan potensi riil pertumbuhan ekonomi saat ini jauh dari target yang diangankan (Kompas, 2/4/2007). Selain itu, aroma teknokratis, visi menciptakan pertumbuhan ekonomi dengan dasar keropos ala Orde Baru (Kompas, 12/4/2007).

Tulisan ini hendak menegaskan, entah dianggap ilusif atau realistis, Visi 2030 harus dijadikan pancingan bertindak menuju perbaikan kualitas hidup.

Proyeksi
Hari-hari ini, kebijakan dan praktik pendidikan kita diwarnai berbagai persoalan teknis yang ruwet dan pelik. Ujian nasional masih kontroversial. Kurikulum 2006 membingungkan. Banyak gedung sekolah yang roboh karena bencana atau usia. Agenda sertifikasi guru yang entah kapan akan terwujud, dan lainnya.

Meski berbagai persoalan itu ruwet dan pelik, penyelesaiannya tidak harus menjadi tujuan akhir kerja Depdiknas. Artinya, upaya mengurai keruwetan persoalan teknis tidak boleh membatasi dan mengaburkan proyeksi Depdiknas tentang pembangunan pendidikan dalam konteks luas.

Konsepsi itu penting guna menegaskan peran strategis pendidikan dalam Visi 2030. Tekanan Visi 2030 adalah kesejahteraan. Semua maklum, konsep dasar kesejahteraan mencakup tiga indikator: kecukupan ekonomi, ketersediaan layanan dan akses kesehatan, serta pendidikan.

Dalam buku pelajaran sekolah tahun 1938 ada ungkapan, “Tidak ada kekoeatan rakjat (volkskracht) tanpa kesehatan, dan pendidikan rakjat (volksgezondheid en volksonderwijs).”

Tanpa kenaikan secara merata tingkat “keterdidikan” dan kesehatan masyarakat, kesuksesan pencapaian ekonomi menjadi indikator timpang dari kesejahteraan yang diangankan. Di sisi lain, perwujudan Visi 2030 memerlukan daya dukung sumber daya manusia sehat dan terdidik.

Singkatnya, pembenahan pendidikan dan kesehatan saling memengaruhi keberhasilan pencapaian target ekonomi. Maka, jika yang dimaksud “kesejahteraan” dalam pencanangan Visi 2030 adalah kepenuhan well-being warga, maka bukan hanya ekonomi tetapi juga pendidikan dan kesehatan harus diprioritaskan, dibenahi, dan diberdayakan.

Dimiliki
Gagasan Emil Salim (Kompas, 29/3/2007) tentang integralitas penataan ruang mungkin bisa diadopsi sebagai kerangka pengembangan. Dengan integralitas, teknokratisme Visi 2030 dapat diminimalkan.

Kerja Depdiknas kini harus mencakup pengolahan peran strategis pendidikan dalam konteks perwujudan kesejahteraan umum. Target perlu diperluas dari sekadar pelaksanaan agenda- agenda sektoral.

Berbagai persoalan teknis pendidikan dipetakan dalam Rencana Strategis Depdiknas, yaitu pemerataan akses, peningkatan mutu, dan tata kelola. Namun, untuk menentukan arah dan penyelesaian masalah-masalah itu, Depdiknas mutlak memerlukan kerja sama terprogram dengan departemen-departemen lain.

Seluruh uraian mengandaikan, Visi 2030 telah dimiliki sebagai prioritas kerja seluruh jajaran pemerintahan. Ego sektoral departemen, tarik-ulur kepentingan pusat-daerah, kemauan sepihak partai politik, dan kepentingan pribadi pemangku jabatan diandaikan telah redup.

Presiden diandaikan telah sukses menebarkan semangat visi sehingga seluruh staf birokrasi menghidupinya dalam kerja. Setelah visi dicanangkan, hanya satu hal yang tersisa, karya nyata untuk perbaikan kualitas hidup.

Agus Suwignyo Alumnus Faculteit der Pedagogische Onderwijskundige Wetenschappen, Universitas Amsterdam

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: