Produk China; Sulit Disaingi di Pasar Dalam Negeri

Jumat, 03 November 2006

kompas-cetak171

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0611/03/ekonomi/3068257.htm

Jakarta, Kompas – Dominasi produk impor dari China terhadap pasar domestik dipandang tidak mengherankan.

Kelemahan regulasi, kacaunya pola tarif yang berlaku, serta standar nasional yang tidak efektif membuat produk impor leluasa merajai pasar Indonesia.

Sementara daya saing produk dalam negeri terus melemah karena praktik ekonomi biaya tinggi. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, yang ditemui di Jakarta, Kamis (2/11), mengatakan, serbuan produk China menjadi peringatan tentang pentingnya upaya melindungi pasar.

“Standar nasional itu mesti benar-benar diberlakukan. Harmonisasi tarif juga penting. Sampai sekarang masih kacau balau, mana yang mau kita proteksi nggak jelas. Semuanya jadi peluang memasukkan barang ke pasar Indonesia, baik legal maupun ilegal,” kata Sofjan.

Terlebih lagi, dominasi produk impor dari China terjadi di tengah melemahnya daya saing produk dalam negeri.

“Bagaimana mau berkompetisi kalau daya saing kita memang lemah. Infrastruktur nggak bagus atau malah nggak ada. Kita bayar bunga lebih tinggi, high cost ekononi, komponen masih impor, kita cuma jadi tukang jahit saja,” kata Sofjan bernada gusar.

Kualitas dan diferensiasi
Di tempat terpisah, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengakui, produk dalam negeri memang sulit bersaing dengan produk-produk tertentu dari China, terutama garmen.

Akan tetapi, kesulitan itu juga dialami oleh produsen negara lain. “Dengan kondisi begitu, Indonesia harus bisa meningkatkan kualitas atau menghasilkan produk diferensiasi agar bisa bersaing dengan China. Dengan begitu, kita tidak hanya bersaing dengan harga murah, namun pada kualitas dan spesifikasi unit produk. Ini tugas pemerintah dalam melindungi produk domestik agar bisa beralih,” katanya.

Untuk meningkatkan nilai ekspor ke China, ujar Mari, Indonesia masih perlu meningkatkan promosi dan mengidentifikasi kebutuhan utama negara itu.
Indonesia harus mencari produk yang tidak diproduksi di China atau telah diproduksi namun jumlahnya kurang banyak, seperti minyak goreng dan minyak kelapa sawit.

“Selain itu, Indonesia juga perlu mengidentifikasi strategi investasi China yang menanamkan modal di Indonesia untuk mengekspor komoditas tertentu ke China, seperti kopi dan buah-buahan,” katanya.

Pemerintah, ujar Mari, belum bisa menilai tingkat bahaya impor China yang terus meningkat terhadap industri domestik. Pemerintah masih harus menghitung angka-angka impor China berdasarkan jenis komoditasnya secara detail. (DAY/TAV/OIN/JAN/JOE/OTW)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: