Meraih Harapan di Masa Depan

Jumat, 19 Mei 2006

kompas-cetak144

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0605/19/utama/2658775.htm

Thomas L Friedman jelas tidak sedang memprovokasi apabila mengatakan dunia bergerak sangat cepat dan bahkan sepertinya sekarang ini dunia itu datar. Itu adalah fakta yang sebenarnya sedang terjadi dan kita alami bersama.

Apa yang sedang terjadi di satu tempat di belahan dunia tidak perlu lagi menunggu waktu untuk diketahui. Revolusi informasi membuat segala sesuatu mempunyai tiga sifat sekaligus, yakni serentak, seketika, dan mendunia.

Setiap orang dipaksa untuk ikut irama itu. Siapa yang tidak mau harus siap menjadi penonton dan bahkan menjadi pecundang.

Gugatan terhadap apa yang dikatakan ahli ekonomi Joseph Schumpeter sebagai creative destruction itu bukan tidak ada. Perlawanan terhadap kesepakatan perdagangan bebas di bawah payung Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di mana pun berjalan sangat keras dan bahkan brutal.

Bahkan, bukan hanya pertemuan WTO yang menjadi sasaran kemarahan. Pertemuan organisasi dunia lain, seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, Forum Ekonomi Dunia, dan Pertemuan Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan, tidak pernah lepas dari demo besar.

Meski berbagai penentangan berjalan begitu keras, kenyataannya globalisasi tetap saja berjalan. Yang namanya arus lalu lintas barang, modal, dan bahkan manusia berjalan pada tempo yang bahkan semakin tinggi.

Arus global pun melanda Negeri Tirai Bambu. Namun, itu tidak dilihat sebagai ancaman karena pada saat bersamaan produk mereka membanjiri pasar dunia. Dengan harga yang lebih murah, produk massal mereka justru membuat negara-negara yang memperkenalkan globalisasi berteriak ketakutan.

Orientasi ke depan
Persaingan atau kompetisi kini menjadi sebuah kata kunci. Kualitas sumber daya manusia kini menjadi kunci utama. Mereka yang mampu memprediksi apa yang terjadi di depan, dan merealisasikan apa yang menjadi kebutuhan ke depan, akan memetik manfaat paling maksimal.

Ahli ekonomi Brian Arthurs melihat hal itu, misalnya, pada diri pemilik Microsoft, Bill Gates, dan pendiri Apple, Steve Job. Dua tokoh itu merupakan contoh orang yang visioner. Kemampuan mereka untuk bisa melihat apa yang akan terjadi di depan sungguh sangat luar biasa. Mereka bukan sekadar melihat, tetapi juga merealisasikan apa yang diperkirakan secara nyata.

Orang-orang yang mampu melihat dan melompat jauh ke depan semakin banyak. Itu tidak lagi terbatas pada bangsa-bangsa dari negara maju, seperti Jepang, Jerman, Inggris, atau Perancis, tetapi juga negara berkembang, seperti India, mulai menapak maju.

Visi menjadi sesuatu yang sangat penting. Bukan hanya pada tingkat perusahaan, pada tingkat negara pun dibutuhkan adanya visi. Itulah arah yang dibutuhkan bagi setiap orang yang berada di dalamnya untuk menjalankan kegiatannya setiap hari.

Banyak pihak tidak berani menetapkan masa depan yang hendak dituju karena takut akan adanya kesenjangan antara apa yang diinginkan di masa mendatang dan realitas yang terjadi. Karena itu, sering kali orang cenderung untuk tidak melangkah dengan menetapkan masa depan yang ingin dituju, tetapi belajar dari masa lalu.

Cara itu memang tidak juga keliru, sepanjang yang terjadi pada masa lalu adalah praktik-praktik yang memang benar. Namun, ketika pelajaran yang didapat pada masa lalu itu keliru, maka yang terulang adalah kekeliruan-kekeliruan baru.

Apalagi setelah terjadi revolusi informasi, perubahan itu terjadi dengan begitu cepatnya. Sekarang ini yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Cara belajar dengan melakukan refleksi terhadap pengalaman di masa lalu tidak lagi memadai.

Untuk itulah ilmuwan sosial seperti Peter Senge berpendapat, penetapan visi harus diupayakan dan bisa dilakukan. Tidak perlu ada kekhawatiran akan adanya kesenjangan antara apa yang diinginkan dan yang sesungguhnya terjadi. Untuk mengurangi apa yang disebut sebagai tension gap, adalah mendekatkan realitas itu dengan visi atau sebaliknya mendekatkan visinya kepada realitas.

Sepanjang dilakukan dengan pikiran terbuka (open mind) dan hati terbuka (open heart), maka visi ke depan bisa ditetapkan. Apalagi jika diikuti dengan kemauan terbuka (open will), maka visi itu akan bisa diaplikasikan.

Kumpulan beberapa orang yang serba terbuka tadi bahkan bisa melakukan perubahan besar di banyak negara. Di Afrika Selatan (Afsel), inisiatif yang dilakukan beberapa orang mampu membawa negara itu melakukan lompatan besar. Mereka membuat skenario politik mengenai masa depan Afsel.

Inisiatif yang digagas oleh orang-orang yang serba terbuka membawa perubahan besar bagi Afrika Selatan. Pada tahun 1990 Presiden FW de Klerk memutuskan untuk mengakhiri politik apartheid dan Afsel mampu melewati transisi demokrasi multirasial tanpa ada perang saudara dan pertumpahan darah.

Hal yang sama terjadi di Guatemala. Pertemuan secara intens yang dilakukan 45 warga negeri itu dengan melibatkan berbagai individu dari berbagai latar belakang, mulai dari pejabat pemerintah, militer, gerilyawan, rohaniwan, mahasiswa, anggota lembaga swadaya masyarakat, wartawan, hingga pelajar, mampu melahirkan apa yang disebut Vision Guatemala.

Dengan visi itu, Guatemala yang tidak pernah berhenti dirundung perang saudara bukan hanya mampu mengakhiri masa gelap itu, tetapi secara bertahap juga membangun kembali negeri itu.

Memang, perjalanan Afsel dan Guatemala untuk menyejajarkan diri dengan negara-negara maju lainnya masih membutuhkan waktu. Namun, mereka sudah memulai langkah itu dan menuju arah yang jelas, yakni sesuai dengan visi yang mereka sepakati bersama.

Melihat ke depan
Dengan kenyataan seperti itu, kita, bangsa Indonesia, harus melakukan hal yang sama. Menetapkan Visi Indonesia agar bisa menjadi arah bagi setiap orang dalam memberikan sumbangsihnya kepada negeri. Apalagi dengan kondisi dunia yang bergerak begitu cepat, dibutuhkan adanya pegangan bagi kita bersama untuk menapaki masa depan.

Setiap orang pasti ingin memberikan yang terbaik kepada negerinya dan kalaupun sumbangan kecil itu tidak bisa dirasakan sekarang ini, diharapkan menjadi legacy yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang.

Indonesia akan bisa lebih maju apabila lebih banyak orang yang memiliki komitmen seperti itu. Apalagi, seperti dikatakan seorang panelis pada diskusi “Sewindu Reformasi Mencari Visi Indonesia 2030”, proses menjadi Indonesia barulah setahun jagung. Proses menjadi Indonesia baru terjadi 19 Februari 1922 ketika terbentuk Perhimpunan Indonesia dan pergantian nama Nederlands-Indie menjadi Indonesia.

Visi Indonesia dibutuhkan untuk membuat agar potensi yang ada tidaklah sia-sia. Indonesia tidak kekurangan manusia berbakat.

Dalam praktik pun, putra- putra Indonesia tidak kalah dari bangsa lain. Hampir dalam setiap bidang putra-putra Indonesia mampu mengerjakan apa pun, termasuk dalam industri rekayasa berteknologi tinggi. Seperti diungkapkan seorang panelis lainnya lagi, yang dibutuhkan tinggal kesempatan bagi putra-putra Indonesia untuk melakukannya.

Dengan mengeksplorasi potensi-potensi lokal, menangkap kearifan lokal, penetapan visi Indonesia bukan hanya mencakup, tetapi juga menjadikan visi itu sebagai visi bersama bangsa. Apalagi jika kemudian bisa dibangun etos, maka akan mampu membuat bangsa ini menggapai cita-citanya.
Delapan tahun reformasi yang telah kita jalani sepantasnya menyadarkan kita untuk melakukan itu semua. Tidak ada waktu lagi karena kita telah menyia-nyiakan waktu yang berharga dan tanpa visi yang jelas kita tidak akan pernah pergi ke mana-mana.

Pilihan untuk mencari Visi Indonesia 2030 jelas bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Dengan waktu 24 tahun yang membentang ke depan, kita memberikan jalan untuk membangun generasi baru Indonesia yang lebih baik, yang mampu mandiri dan penuh percaya diri untuk membawa Indonesia menjadi negeri yang lebih sejahtera dan menjadi tempat bernaung bagi seluruh suku bangsa yang menyatakan dirinya sebagai bangsa Indonesia. (Suryopratomo)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: