Memenuhi Kebutuhan Globalisasi

René L Pattiradjawane
Senin, 19 Desember 2005

kompas-cetak169

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/19/ln/2288147.htm

Menjadi sebuah bangsa yang besar bukan hanya diukur dari jumlah penduduk dan luas geografi, tetapi ada aspek-aspek lain yang ikut memengaruhi, seperti latar belakang budaya maupun sejarah yang ikut menentukan kebesaran sebuah negara. Negara seperti China memang terlahir sebagai bangsa yang besar karena latar belakang yang memang sangat panjang jauh sampai sebelum Masehi lengkap dengan catatan sejarahnya yang utuh.

Salah satu aspek budaya China yang memengaruhi dan menjadikan negara dengan penduduk 1,3 miliar orang ini menjadi besar dan berjaya sekarang ini adalah bahasa. Secara alami, bahasa Mandarin yang kita kenal memang mengharuskan orang-orang yang menggunakannya untuk secara tekun mempelajarinya agar mampu bertutur kata secara benar (karena sistem intonasi nada) serta mampu membaca dan menulis huruf-huruf kanji yang unik dan menjadi salah satu tulisan resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Seperti bahasa dan tulisan China, sistem pendidikan yang berkembang di daratan China juga merupakan sebuah proses panjang yang secara tekun berevolusi menjadi sebuah China modern yang sekarang kita saksikan. Bisa dipastikan, tanpa sistem pendidikan yang panjang dan tertata dengan baik (lihat juga sejarah sistem pendidikan di India yang diwarisi dari masa era kolonialisme Inggris), tidak mungkin sebuah bangsa mampu membangun dirinya menghadapi derasnya persaingan di era globalisasi.

Keberhasilan China mengembangkan pembangunan nasionalnya, antara lain, tercermin dari jumlah orang-orang yang mampu dididik negara. Sebagai contoh, pada tahun 2004 jumlah mahasiswa baru program pascasarjana tercatat 326.286 orang, menjadikan keseluruhan mahasiswa pascasarjana China berjumlah 819.896 orang. Dari jumlah itu, sarjana yang dihasilkan RRC tahun 2004 tercatat 23.446 doktoral (41,57 persen di antaranya wanita) dan 127.331 orang magister (44.15 persen wanita).

Memang jika dibandingkan jumlah penduduk, jumlah lulusan pascasarjana ini sangat kecil. Namun, jika dibandingkan dengan Indonesia, jelas jumlah sarjana yang dihasilkan tidak seimbang dengan jumlah penduduk yang mencapai sekitar 200 juta orang.

Mengikuti perkembangan
Sejak dicanangkannya Empat Modernisasi (Sige Xiandaihua), banyak perubahan yang diberlakukan pada sistem pendidikan yang tercerai-berai setelah Revolusi Kebudayaan 1965-1976. China kembali memberikan sistem 6-3-3 (SD 6 tahun, SMP 3 tahun, dan SMA 3 tahun), tetapi pada filosofi dasar pendidikannya tetap mengacu pada pemikiran yang disebut Zhongxue weiti, Xixue wei yong (pendidikan China sebagai basis, pendidikan Barat sebagai penggunaan praktis).

Pola ini tercermin dalam sistem pendidikan yang diberlakukan pada Sekolah Menengah Atas Jianping yang terletak di kawasan Pudong, Shanghai. Dalam percakapan dengan Kompas, Ci Xiang, pengajar bahasa Inggris pada sekolah ini, mengatakan, pada umumnya sekolah di China memberlakukan dua pendekatan dalam pendidikan, dengan mengombinasikan pengajaran tradisional dan modern.

”Kami menerapkan metode dinamis mengikuti perkembangan reformasi yang sekarang gencar terjadi di China,” kata Ci Xiang. Ia menambahkan, dalam metode pengajaran tradisional di kelas, sistem pengajaran tidak hanya mendengarkan guru di depan kelas, tetapi juga mengundang para profesor terkenal dari Universitas Fudan atau Universitas Jiaotong (dua universitas terkenal di Shanghai) datang ke sekolah untuk mengajar atau memeriksa riset yang sudah dilakukan para pelajar.

”Seminggu sekali kami mengundang seorang profesor yang sedang melakukan penelitian, misalnya melakukan penelitian AIDS atau dalam bidang ilmu pengetahuan sosial hubungan antarmasyarakat,” lanjutnya.

Sedangkan pengajaran modern yang disebut Ci Xiang adalah adanya kunjungan ke lapangan dilakukan setiap semester. Di antara kunjungan ke lapangan ini (SMA Jianping biasanya melakukan kunjungan ke Nanjing atau Chongqing di Propinsi Sichuan), juga ada kunjungan ke museum atau tempat-tempat bersejarah lainnya. Menjelang tahun ajaran baru, para murid tinggal bersama masyarakat dan bisa melihat sendiri apa yang terjadi dan tidak hanya dari buku saja.

Menjadi komoditas
Perhatian Pemerintah China pada pendidikan memang mengikuti semangat reformasi dan modernisasi yang menjadi kebijakan dasar yang berlaku di daratan China. Berdasarkan China Statistical Yearbook 2005, alokasi anggaran pendidikan untuk tahun 2004 mencapai 314,62 miliar renminbi (2004) atau sekitar 39,328 miliar dollar AS.

Yang menarik, alokasi anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah 14 kali lebih besar dibandingkan yang dianggarkan pemerintah pusat. Artinya, perencanaan dan penetapan perkembangan pendidikan memang sepenuhnya ditentukan pemerintah daerah yang memproyeksikan pertumbuhan pendidikan.

Di tengah-tengah globalisasi sekarang ini, pendidikan di China sekarang menjadi sebuah komoditas tidak hanya untuk para penyelenggara pendidikan dalam negeri, tetapi juga bagi universitas asing yang mulai bertebaran di seluruh daratan China.

Di Universitas Beijing, misalnya, mulai menyelenggarakan program pendidikan populer untuk pejabat pemerintah dan para eksekutif bisnis. Pendidikan bergelar ini mencakup pelajaran mulai dari administrasi bisnis, komunikasi, dan ilmu sosial.

Dalam 20 tahun terakhir, pendidikan di China berkembang pesat menyesuaikan kebutuhan modernisasi. Dan sistem pendidikan China sekarang ini tidak hanya menurunkan tingkat di bawah 4 persen (dari 80 persen ketika RRC berdiri), tetapi bergerak menuju ke standar internasional mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: