Manusia Indonesia 2030

HM Idham Samawi
Opini Publik, Monday, 22 January 2007

logo_br_kr4

http://www.kr.co.id/article.php?sid=110421

BERBAGAI peristiwa yang belakangan ini muncul, kiranya layak untuk dijadikan bahan perenungan bersama. Refleksi atau perenungan amat perlu, terutama bila dihadapkan dengan kecepatan perubahan, akibat dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Melalui perenungan yang dalam, maka akan ada kesempatan untuk mengambil jarak dan melihat kembali berbagai peristiwa yang sudah berlalu.

Apa yang kiranya penting menjadi bahan refleksi bersama adalah masalah kualitas manusia, atau kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Apa yang dapat dibayangkan dengan manusia Indonesia pada tahun 2030? Apakah kualitas manusia Indonesia akan berkembang pesat, seperti manusia-manusia dari bangsa lain, seperti Jepang, India, Cina, Korea, Inggris, dan lain-lain. Atau sebaliknya?

Kompetisi Global
Barangkali sudah saatnya perhatian yang terlalu ke dalam, diimbangi dengan perhatian ke luar. Apa yang sedang terjadi di luar sana, seperti keinginan kuat dari bangsa-bangsa Eropa untuk bersatu.

Di bagian lain, dapat disaksikan pula kompetisi teknologi digital, antara Eropa dan Asia (Jepang, India dan Korea), yang sangat berdampak pada perkembangan masyarakat di dunia. Masing-masing negara, diwakili oleh corporate masing-masing, telah menghasilkan produk yang membanjiri berbagai negara, termasuk Indonesia.

Di mana posisi bangsa Indonesia di dalam kompetisi tersebut? Jika dilihat dari prestasi para pelajar yang ikut dalam berbagai event olimpiade science, rasanya tidak perlu ada sikap pesimis, meski memang kesemuanya tidak dapat dijadikan indikator kemajuan dunia pendidikan. Yang terpenting untuk masa depan Indonesia, bukan kemampuan untuk saling menyalahkan, akan tetapi kemampuannya untuk melihat tantangan luar secara dingin, objektif dan bijaksana, dan membuat rumusan strategis mengenai apa yang seharusnya dilakukan secara bersama.

Tiga Tantangan
Pengalaman pembangunan daerah, telah memberikan informasi, bahwa setidak-tidaknya terdapat tiga tantangan yang harus dihadapi daerah. Yakni: Pertama, daerah tidak mungkin (lagi) mengandalkan sumber daya alam untuk menopang gerak maju pembangunan, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat. Daerah yang paling kaya sumber daya alam sekalipun, pada akhirnya harus berpikir ulang, karena tidak mungkin selamanya mengandalkan kekayaan alam.

Kedua, setiap daerah pada akhirnya akan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya, terutama untuk mengubah tantangan menjadi kekuatan, untuk mengubah kesempitan menjadi kesempatan.

Ketiga, suka atau tidak suka, bahwa di masa depan, kerja sama dan kompetisi (positif) antar daerah akan terjadi. Daerah satu tidak mungkin menjadi duplikat dari daerah yang lain. Oleh karena itulah, setiap daerah diharapkan untuk dapat mengembangkan identitas lokal dan keunggulan yang berbasis pada sumber daya lokalnya. Suatu identitas lokal, tentu bukan diarahkan untuk memperkuat sukuisme, melainkan untuk meningkatkan kearifan lokal, dan menjadikan kearifan tersebut sebagai modal membangun daerah, sebagaimana yang disebutkan dalam konsep: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Identitas lokal yang kuat, yang dibingkai dengan semangat kebangsaan dan pluralisme, tentu akan menjadi fondasi yang kokoh bagi NKRI.

Kualitas Manusia Indonesia
Jika tantangan daerah dan pengamalan daerah, merupakan representasi dan tantangan nasional, maka perlu kiranya dirumuskan konsep kualitas manusia Indonesia, berdasarkan tiga tantangan tersebut. Di Kabupaten Bantul, rumusannya menjadi: manusia yang cerdas, berakhlak mulia, dan berkepribadian Indonesia.

Konsep cerdas berkait dengan wawasan pengetahuan (keilmuan) dan ketrampilan (skill). Cerdas bukan saja makna persekolahan, tetapi dalam makna yang luas, yakni individu yang mudah dan cepat belajar, cepat beradaptasi dan punya kemampuan berinovasi, serta ketrampilan sebagai pribadi yang mandiri. Kecerdasan di sini mengandung pula muatan teknik dan ketrampilan.

Konsep berakhlak mulia, punya kaitan erat dengan moralitas dan integritas, yang mencerminkan pengamalan nilai-nilai agama, sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya dan juga nilai-nilai sosial yang berakar pada tradisi dan kearifan lokal. Pembentukan akhlak mulia tentu saja tidak dapat dipandang sebagai sebuah proses yang langsung jadi, melainkan sebuah proses panjang, penuh dinamika, dan karena itulah dibutuhkan pemahaman yang utuh dalam rangka membangunnya.

Konsep berkepribadian Indonesia, erat kaitannya dengan semangat cinta tanah air, wawasan kebangsaan dan ke-Indonesia-an. Hal ini juga berkait dengan penghormatan atas kebudayaan dan nilai-nilai lokal (di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung). Di dalam kebudayaan global, lokalitas menjadi identitas yang sangat baik dan penting. Dialog lokal inilah yang pada nantinya menjadi fondasi bagi nilai-nilai ke-Indonesia-an.

Penutup
Dari keseluruhan pengertian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa untuk mencapai maksud membangun generasi yang cerdas, berakhlak mulia dan berkepribadian Indonesia, dibutuhkan dukungan berupa: (1) Upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mempersiapkan, menjaga dan mengembangkan kualitas kecerdasan mereka; (2) Upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kehidupan sosial yang berbasis ajaran moral agama; dan (3) Upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kehidupan sosial yang mencerminkan kebudayaan lokal, atau berbasis pada nilai-nilai lokal.

Kesemuanya ini tidak mungkin dibebankan kepada pemerintah, walaupun memang pemerintah memikul kewajiban untuk mengusahakannya, sebagaimana yang telah dirumuskan dalam konstitusi. Kerja sama untuk sinergi dari seluruh elemen bangsa Indonesia menjadi kunci untuk mencapai maksud tersebut. Kerja sama tentu saja harus dilandasi oleh sikap saling percaya, sikap saling menerima dan sekaligus sikap ingin mengatasi masalah secara baik, demi kepentingan masa depan bangsa. Jika hal itu dapat dilalui, maka tahun 2030, bangsa Indonesia, akan menjadi bangsa yang kuat dan mandiri — bangsa yang dapat mengatasi persoalan-persoalan secara baik, berkualitas dan berkarakter. q – o*) Drs HM Idham Samawi, Bupati Bantul.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: