Kendaraan China Menuju Modernisasi

kompas-cetak168
Senin, 19 Desember 2005

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/19/ln/2292646.htm

Adalah Pavel Feodorovich Yudin, Duta Besar Uni Soviet di China (1953-1959), yang membuat Deng Xiaoping penasaran. Tatkala Deng berkunjung ke Moskwa tahun 1957, Yudin menceritakan bom atom yang dimiliki Uni Soviet dikembangkan hanya oleh tiga peneliti muda berusia sekitar 30-40 tahun, Deng sungguh tergerak.

Saat itu China membangun ekonomi pertaniannya pun tidak mampu, apalagi membangun industrinya. Deng lalu keluar dengan terobosan bahwa China harus unggul dalam sains dan teknologi. Tumpuannya adalah dunia pendidikan. ”Tantangan akan dihadapi dunia pendidikan, yang kalau gagal akan menghambat China masuk dalam era modernisasi,” kata Deng tatkala berbincang dengan pemimpin Lembaga Ilmu Pengetahuan China, 26 September 1975.


Sejak tahun 1978 pemerintah secara gencar mengirim anak-anak pintar untuk mencari ilmu ke negara lain. Pada tahun itu tercatat hanya 860 orang yang belajar ke luar negeri. Namun dari tahun ke tahun, jumlah mereka yang belajar meningkat tajam. Tahun 1990 jumlahnya naik tiga kali lipat menjadi 2.950 orang.

Sepuluh tahun kemudian bertambah lagi sehingga berjumlah 38.989 orang. Berdasarkan statistik, tahun 2004 jumlahnya meningkat pesat menjadi 114.682 orang. Secara kumulatif selama kurun waktu 1978-2004 telah pergi 651.766 orang untuk belajar ke negeri orang. Berdasarkan periode yang sama, sebesar 144.975 orang kemudian pulang. Sebagian besar tidak kembali. Hanya 22,2 persen yang kembali dan ikut membangun sebuah China modern.

Sains dan teknologi
Tidak kembalinya orang-orang pintar China tidak berarti sebuah kerugian bagi China. Mereka menjadi bagian dari warga China perantauan yang tersebar di seantero dunia. Pendidikan di dalam negeri sendiri dipacu maju untuk mengejar ketertinggalan. Kendaraannya adalah lewat pengembangan pendidikan berbasis sains dan teknologi.

Tahun 2004 diluluskan 2,4 juta sarjana baru dengan latar belakang pendidikan teknologi menjadi yang terbanyak, yakni 34 persen. Pada tingkat pascasarjana, baik tingkat master maupun doktoral, pola yang sama terjadi. Dari 150.777 lulusan 37 persen di antaranya berlatar belakang pendidikan teknologi. Pola ini sangat tampak terutama di pusat pendidikan lembaga-lembaga penelitian yang meluluskan 40 persen mahasiswa berlatar belakang teknologi dan 38 persen pendidikan sains.

Selain tingkat doktoral, sejak tahun 1985 Pemerintah China membuka kembali pendidikan pascadoktoral. Pada tingkat itu peneliti pascadoktoral memperoleh kemampuan yang lebih tinggi dalam penelitian dan inovasi, dan menjadi pimpinan tim dalam tugas akademik dalam dua sampai empat tahun. Selama 20 tahun China sudah menghasilkan 30.000 peneliti pascadoktoral dan masih 12.000 orang lagi yang sedang dididik dalam program ini.

Pendidikan bisa diperoleh masyarakat tidak saja dari lembaga formal berbentuk universitas atau perguruan tinggi. Mereka juga dapat menuntut ilmu lewat penyelenggaraan pendidikan di internet dengan gelar setingkat sarjana. Tahun 2004 berhasil diluluskan hampir 400.000 orang dari interaksi belajar-mengajar di internet. Di sini terjadi pergeseran pola kelulusan. Latar belakang pendidikan manajemen dengan kelulusan terbanyak (27 persen), disusul pendidikan hukum (23 persen), dan ekonomi (16 persen).

Pusat pendidikan
Upaya menggenjot output pendidikan ini sejalan dengan anggaran yang dialokasikan pemerintah. Tahun 1978 pemerintah hanya menyediakan dana 0,4 persen dari total pengeluaran pemerintah. Tahun 2004 besar alokasi dana (pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan kesehatan masyarakat) yang dikucurkan melonjak menjadi 18,1 persen. Khusus untuk sains dan riset, dana yang disediakan juga meningkat dari hanya 52 juta yuan tahun 1978 menjadi 1,1 miliar yuan tahun 2004.

Dana pemerintah untuk sains dan riset membuktikan keseriusan pemerintah dalam membangun modernisasi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahun 2004 terdapat 3.136 asosiasi riset dan teknologi (ristek) yang tersebar di kabupaten, prefekturat, maupun provinsi, serta 3.784 kelompok masyarakat terpelajar ristek.

Asosiasi maupun kelompok ini terlibat dalam berbagai aktivitas ristek seperti pertemuan, kuliah umum, pameran, kompetisi, perkemahan, konsultasi. Mereka cukup produktif dalam pembuatan buku, jurnal, dan koran. Tahun 2004 dihasilkan sebanyak 1.421 judul buku ristek yang dicetak sebanyak 14,3 juta buku, 2.158 jurnal yang dicetak sebanyak 107,5 juta buah, di samping 103 koran dengan tiras 183 juta eksemplar.

Upaya pemerintah membangun sebuah China modern lewat pendidikan menampakkan hasilnya. Hal ini sejalan dengan pola pembangunan ekonomi yang diterapkan. Berbagai zona pembangunan ekonomi yang berbasis teknologi dan hi-tech bertebaran di seluruh kota, daerah, dan provinsi. Keberadaan zona ini ditopang oleh banyaknya tenaga sains dan teknologi.

Keberhasilan dunia pendidikan China pun dilirik negara lain. China dewasa ini bahkan telah menjadi salah satu pusat pendidikan dunia. Pada tahun akademik 2003-2004 sebanyak 4.737 pelajar Amerika Serikat terdaftar di berbagai universitas di China. Pada tahun 2004 terdapat 110.844 pelajar asing dari 178 negara. Mereka menuntut ilmu di 420 kolese dan universitas yang tersebar di seluruh China. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya terdapat peningkatan 42 persen jumlah pelajar, dengan pelajar dari Korea Selatan yang terbesar.

Keputusan Deng Xiaoping mereformasi dunia pendidikan sudah membuahkan hasil. China dewasa ini bahkan memiliki teknologi angkasa luar. Setelah Uni Soviet mengirim kosmonot, Amerika mengirim astronot, China kemudian tahun 2005 mengirim taikonot lewat pesawat ulang alik Shenzhou VI yang berpangkalan di gurun pasir Provinsi Gansu, wilayah barat China. (F Harianto Santoso/ Litbang Kompas)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: