Kehidupan Berbangsa; Tertinggal karena Tidak Punya Mimpi Besar

Sabtu, 25 Agustus 2007

kompas-cetak156

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/25/jogja/1041528.htm

Yogyakarta, Kompas – Bangsa Indonesia tertinggal karena tidak punya mimpi besar untuk masa depannya seperti dimiliki bangsa-bangsa lain. Bangsa ini justru masih sering bertengkar yang menonjolkan kepentingan kelompok dan perorangan, sementara kepentingan negara justru dikalahkan.

Berbeda dengan negara yang memiliki sejarah berbangsa sudah lama, mereka memiliki mimpi masa depan yang besar. Mimpi itu yang menjadi semacam mitos dan semangat untuk menggapainya. Itu sebabnya, walaupun terjadi pergantian kepemimpinan pemerintah atau negara, keinginan untuk mewujudkan mimpi besar itu tetap ada.

Hal ini dikemukakan Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Komarudin Hidayat pada semiloka pengembangan pendidikan kewarganegaraan yang diadakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta bekerja sama dengan The Asia Foundation di Yogyakarta, Jumat (24/8).

Komarudin mencontohkan, bangsa yang memiliki peradaban dan pembentukan negara yang panjang itu seperti Amerika, Jepang, Eropa, China, dan India. Jepang, misalnya, menyebut bangsa mereka sebagai keturunan dewa matahari. India menyebut bangsa sebagai keturunan terbaik dari bangsa Arya. Sementara, bangsa Indonesia justru ada karena suku-suku dari Aceh hingga Papua sepakat mendirikan negara.

Demarkasi
Ia menuturkan, dalam sejarah kerajaan-kerajaan sebelum terbentuknya negara Indonesia, ternyata bangsa ini juga kurang memiliki kerajaan yang bertahan lebih dari ratusan tahun. Yang terjadi justru sebaliknya banyak saling menghancurkan. Nama Indonesia sendiri juga diberikan oleh orang asing menyebut nama daerah di kepulauan Hindia.
Meski masa lalu bangsa ini dari sejarah kurang baik, lanjutnya, namun ketika memasuki kesepakatan membentuk negara, bangsa ini semestinya bisa membuat demarkasi dari masa lalu tersebut. Kenyataannya tidak. Dalam pemerintahan saja, misalnya, Indonesia belum punya sejarah presiden turun dengan baik. “Bahkan, bangsa ini terjebak sinisme melihat masa depannya,” katanya.

Untuk mengatasi itu, ujarnya, pemberian pendidikan kewarganegaraan (civic education) menjadi sangat penting sebagai bingkai mimpi tentang masa depan bangsa ini. Untuk menggerakkan, diperlukan orang-orang mandiri dalam keahliannya, bukan sekadar menempatkan orang mencari ijazah, lalu melamar dan meminta kerja melalui koneksi. (FUL)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: