Ekonomi; Melancong Menikmati Kemajuan Ekonomi

Senin, 18 September 2006

kompas-cetak172

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/18/sorotan/2959151.htm

Paul Miyagi, pekerja sosial di Nagasaki, makan siang dengan Kompas di restoran kapal pesiar Costa Allegra dua pekan lalu. Paul asyik menuturkan pengalaman ayahnya, John Miyagi, seorang korban bom Nagasaki, tentang situasi di kota itu pascabom atom tahun 1945.

Paul merasa leluasa dengan meja yang agak besar sehingga ia benar-benar menikmati makanan. Tiba-tiba ia terdiam beberapa jenak ketika empat pria muda di depannya berdiri dan mengangkat piring kotor mereka, lalu meletakkannya di meja makan Paul. Empat pria itu pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah menghela napas, Paul melanjutkan makannya. Tiba-tiba semenit kemudian, dua pria setengah tua yang duduk di belakang Paul berdiri pula dan meletakkan piring kotornya di meja Kompas, lalu ngeloyor pergi begitu saja.

Paul berpikir bahwa orang- orang itu sudah selesai makan, tetapi ternyata mereka masih datang ke meja makan, dan makan lagi dengan lahap.

Hebatnya, empat pria muda di depan meja Paul rupanya merasa piring yang mereka bawa lebih. Mereka enteng saja menaruh piring lebih itu di meja Paul sehingga Paul benar-benar sudah tidak bisa makan sama sekali.

Paul menunjukkan ketidaksenangannya. Ia protes, tetapi protesnya tidak digubris anak-anak muda yang dari logatnya datang dari Shanghai itu. Akhirnya datang tiga pelayan restoran Costa Allegra, mengangkuti piring-piring itu.

“Maaf, kelakuan mereka memang begitu,” ujar salah seorang pelayan tersebut. “Tamu-tamu di meja lain juga mengeluh hal yang sama,” tambah pelayan itu.

Penuturan Paul tentang Nagasaki akhirnya terhenti, dan pembicaraan beralih ke kelakuan tamu-tamu kapal yang unik itu. Tetapi, percakapan sudah tak enak dan makan siang pun disudahi.

Kapal pesiar Costa Allegra yang berlayar dengan rute Shanghai-Nagasaki-Jeju-Shanghai memang rata-rata diminati warga golongan menengah Republik Rakyat China. Mereka cukup royal membelanjakan uang mereka untuk pelesir. Kemajuan ekonomi China demikian cepat 20 tahun terakhir sehingga pendapatan per kapita negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu melonjak dari 100 dollar AS menjadi lebih kurang 2.000 dollar AS.

Sekitar 10 persen di antara penduduk China diduga berpendapatan di atas 7.000 dollar AS per tahun. Mereka inilah yang di antaranya kini menikmati hidup nyaman dan memanfaatkan uang lebih untuk memenuhi gaya hidup, berbelanja, dan melancong. Mereka ingin melihat negara lain, dan tidak sekadar menerima sekitar 100 juta wisatawan asing ke negeri mereka setiap tahun.

Kapal Costa Allegra termasuk disukai karena menyinggahi dua kota dari dua negara yang mempunyai perekonomian maju, yakni Jepang dan Korea Selatan.

Orang-orang Indonesia juga suka naik kapal ini untuk berlibur, seperti yang diselenggarakan oleh Panen Tour Jakarta, dua pekan lalu. Panen mengajak wartawan Indonesia dan juga biro-biro perjalanan di Indonesia untuk melihat bagaimana kapal pesiar itu beroperasi, potensinya, pasarnya, kemungkinan beroperasi di Indonesia, dan bagaimana sebuah bisnis perjalanan yang gemuk dikemas. Costa sendiri adalah perusahaan raksasa Italia yang mempunyai sejarah panjang pelayaran kapal pesiar di lima benua.

Keajaiban ekonomi
Amat pesatnya perekonomian China bukan hanya dapat dilihat dari pendapatan per kapita, luar biasanya perkembangan industri, perdagangan, dan pertumbuhan kota-kota di Negeri Tirai Bambu itu, tetapi juga dari pertumbuhan ekonomi yang selalu di atas 10 persen. Cadangan devisa China kini mendekati 1.000 miliar dollar AS, angka yang sungguh fantastis. Media massa cetak dunia ramai mengulas keajaiban ekonomi China dengan pelbagai variabelnya.

Hal yang tampak transparan, orang-orang dari daratan China tersebut terkesan berperilaku agak unik. Sebagian kecil di antara mereka bertindak suka-suka, tidak menghormati orang lain, suka meludah di sembarang tempat, termasuk di kapal.

Akan tetapi, yang menarik, dengan segala ketidakdisiplinan dan keunikan itu, mereka toh bisa diajak bekerja ekstra keras dan menjadi raksasa ekonomi dunia bersama Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, Perancis, dan Italia. Secara sederhana, ini sama artinya dengan kemajuan ekonomi tidak selalu berjalan paralel dengan kelakuan yang beradab.

Adi Harsono, eksekutif sebuah perusahaan asing yang pernah bertahun-tahun berdomisili di Shanghai, menyatakan, di mata warga dunia yang lain, sebagian warga China memang unik, suka-suka.

Akan tetapi, keunikan itu menjadi cair manakala mereka bekerja. Mereka amat disiplin, pekerja keras, serta taat pada sistem dan atasan.
Adapun para eksekutif China bersikap tegas dan amat keras dalam lingkup pekerjaan. Tidak heran kalau negeri itu mampu meraih prestasi mencengangkan dalam waktu singkat.

Hal lain yang patut dicatat, sebut Adi Harsono, China bangkit dalam tempo amat cepat karena bisa ulet dan mempunyai kultur bisnis yang sudah termasyhur sejak ribuan tahun silam. “Ibaratnya tinggal disetel sedikit, kultur bisnis, keuletan, dan kerja keras itu langsung terbit kembali,” ujar Adi pekan lalu.

Aspek lain, China mempunyai kemampuan “meniru” dan adaptasi yang mengesankan. Korek api, misalnya, kalau bangsa lain mampu membuat korek api yang bagus, dengan dua warna api, merah dan biru, China mampu membuat korek api yang mempunyai empat warna api.

“Pasar China pun luar biasa. Sekali membuat korek api, arloji, mesin jahit, sepeda, atau sepeda motor, jumlahnya bisa mencapai 60 juta unit. Ya, otomatis mereka sangat efisien,” tambahnya.(Abun Sanda)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: