Ekonomi Global Dan Nation-State

Oleh : Khalid Zabidi *)

http://www.indeso.org/artikel/0002.html

Yang Mampu Bertahan yang Sesungguhnya
Berbagai sumber mengatakan bahwa globalisasi dunia ekonomi telah berawal sejak 35 tahun yang lalu, kematian nation-state telah diramalkan secara luas. Sebenarnya, para pemikir hebat dan cerdas telah memperkirakan kematian nation-state selama 200 tahun, dimulai oleh Immanuel Kant dalam essaynya yang berjudul “Perpetual Peace” (Perdamaian Abadi) dan melalui Karl Marx dalam “Whitering away of the State” (Menghilangnya Negara), dan lalu pidato-pidato Bertrand Russel pada tahun 1950-an dan 1960-an. Ramalan yang serupa terakhir muncul dari orang yang terkenal dan serius dalam buku yang berjudul “The Sovereign Individual” yang ditulis oleh Lord William Rees-Mogg, mantan editor London Times dan sekarang menjabat sebagai wakil ketua BBC, dan James Dale Davidson, ketua Serikat Pembayar Pajak Nasional Inggris (Britain’s National Tax Payers’ Union). Rees-Mogg dan Davidson menegaskan bahwa semua peraih pendapatan terendah internet akan terhindar dari pajak-pajak, begitu mudah dan tanpa resiko, sehingga kedaulatan tanpa bisa dihindarkan beralih ke arah individual, meninggalkan nation-state sekarat dalam kelaparan bidang fiskal. Meskipun datang secara sekilas, nation-state telah menunjukkan pergerakan yang mengagumkan. Ketika Chekoslovakia dan Yugoslavia telah menyebabkan dan mengalami perubahan tatanan, Turki, sebuah negara yang tadinya belum pernah terdengar berubah menjadi negara yang teratur. India, yang dikuasai oleh negara asing sekarang berdiri sebagai negara bangsa (nation-state). Dan banyak lagi negara-negara yang sebelumnya berada di bawah kolonialisme Barat telah mewujudkan kemerdekaannnya dan muncul sebagai nation-state. Demikian juga negara-negara Eurosian yang bangkit dari keruntuhan Czar dan kemudian terikat secara kokoh, bahkan lebih kuat oleh orang-orang komunis yang menggantikan Czar.

Sejauh ini, setidaknya, tidak ada lagi dalam kehidupan politik di dunia lembaga-lembaga yang mampu mempunyai integrasi politik dan segala efektivitasnya. Dengan segala kemungkinannya, bagaimanapun nation-state akan terus hidup pada globalisasi ekonomi dan revolusi informasi yang menyertainya. Hal tesebut akan menyebabkan adanya perubahan secara drastis dari konsep nation-state, terutama permasalahan fiskal di tingkat domestik dan segala kebijakan keuangan, kebijakan ekonomi luar negeri, pengendalian terhadap bisnis internasional, dan mungkin saja dapat menyebabkan perang.

Terendamnya Nation-State
Pengendalian uang, kredit, dan kebijakan fiskal adalah salah satu dari tiga pilar yang telah dikatakan Jean Bodin, seorang pengacara tangguh dari Perancis, yang mengeluarkan terminologi “sovereignity” –kedaulatan–, ia juga merancang teori tentang nation-state dalam bukunya yang bertajuk “Six Books of the Republic” pada tahun 1576. Tetapi hal tersebut tidak pernah menjadi pilar yang kokoh. Di akhir abad ke-19, nilai mata uang yang beredar bukan lagi uang koin atau uang kertas, tetapi kredit tercipta didorong oleh pertumbuhan sektor swasta yang mengendalikan bank-bank komersil. Hal tesebut membuat nation-state merasa perlu melakukan antisipasi dengan mendirikan bank sentral negara. Pada tahun 1912, setelah Amerika Serikat mendirikan Bank Federal (Federal Reserve System), banyak negara memiliki bank sentral untuk mengendalikan bank-bank komersil dengan kredit mereka. Dan setelah melalui abad ke-19, satu-per satu nation-state menggantungkan (dipaksa menggantungkan) mata uangnya dengan sistem standar emas yang menekan secara ketat sistem keuangan dan kebijakan fiskal di setiap negara. Nilai tukar uang yang berdasarkan emas disahkan pada Perjanjian Bretton Woods selepas perang Dunia ke-2. Kebijakan itu dianggap lebih baik dan fleksibel dibandingkan standar emas yang dipakai sebelum Perang Dunia ke-1, tetapi hal tersebut belum juga memberikan keleluasaan secara penuh terhadap kebijakan keuangan dan fiskal negara yang berkaitan. Baru setelah tahun 1973, ketika presiden Nixon mengambangkan mata uang Dollar Amerika, kebijakan yang secara penuh dilakukan oleh nation-state. –atau setidaknya dikenal seperti itu– melaksanakan secara penuh kebijakan urusan keuangan dan fiskal. Dengan begitu jajaran pemerintahan dunia dan para pemikir ekonomi telah cukup belajar untuk menerapkan tanggung jawab melakukan kedaulatan ekonomi di negaranya masing-masing.

Tidak banyak para ekonom –setidaknya ekonom yang berbahasa Inggris–mempunyai keinginan kembali ke sistem nilai mata uang tetap (fixed exchange rates) atau keinginan untuk mengulang kembali apa-apa yang pernah diterapkan pada masa sebelumnya. Sedikitnya mereka akan mengakui bahwa nation-state telah menunjukkan kemampuannya atau telah mencerminkan tanggung jawab yang semestinya dalam menjalankan kebebasan sistem kebijakan fiskal baru dan keuangan. Nilai tukar mengambang, adalah sebuah janji yang akan membuat nilai tukar akan berlangsung stabil dengan kontrol dari pasar mata uang melalui penyesuaian-penyesuaian kecil. Di samping itu, tidak pernah ada masa damai, sebagai contoh pada awal masa Great Depresion yang pada masa itu nilai mata uang berfluktuasi secara luas dan terus memburuk sejak tahun 1973. Terbebas dari permasalahan yang terjadi di luar negeri, pemerintah telah melakukan pengeluaran yang yang sia-sia. Bundesbank di Jerman secara praktis terlepas dari kontrol yang bersifat politik dan seluruhnya diserahkan kepada perbaikan sisitem fiskal itu sendiri. (fiscal rectitude). Hal tersebut diketahui ketika para politikus melakukan tawaran pada masa proyek reunifikasi negara, hal tersebut dikatakan sebagai kebodohan ekonomi, hal tersebut tersebar luas dan sangat jelas. Para politikus masih saja berada di jajaran depan, mencari posisi jangka pendek dengan berakibatkan resiko ekonomi jangka panjang. Bundesbank telah memprediksikan segala sesuatunya, termasuk ancaman munculnya tingkat pengangguran baik di Jerman Barat maupun Timur yang belum pernah terlihat semenjak masa sekarat di zaman Weimar Republic. Di mana saja politikus bersikap tidak jauh berbeda dengan apa yang telah ditulis di atas; hal itu membuat perbedaan sedikit mengenai partai apa yang sedang berada dalam kekuasaan atau bagaimana janji-janji untuk melakukan pemotongan atau kontrol.

Uang Virtual
Sementara pemerintah berharap akan melakukan praktek disiplin adalah hanya sebuah impian, ekonomi global mempengaruhi dengan segala macam perkembangannya dalam pemerintahan itu sendiri. Hal tersebut menekan jajaran pemerintahan untuk memperhatikan tanggung jawab fiskalnya. Nilai mata tukar uang telah menciptakan ketidastabilan nilai tukar yang sangat tajam yang berbalik mendorong terciptanya sebuah massa yang sangat besar pada “dunia uang.” Uang tersebut tidak memiliki eksistensi di luar ekonomi global dan itu adalah pasar-pasar uang utama. Hal tersebut bukan tercipta oleh aktivitas ekonomi seperti lazimnya seperti; investasi, produksi, konsumsi, atau perdagangan. Hal tersebut tercipta terutama oleh perdagangan mata uang. Hal itu belum pernah ada sebelumnya dalam praktek ekonomi tradisional mengenai definisi uang, apakah itu standar ukurannya, muatan nilainya, atau media pertukarannya. Benar-benar baru, tidak dikenal. Hal tersebut tampak maya (virtual) dibanding dengan hal yang nyata (real). Tetapi kekuatannya begitu nyata. Volume peredaran uang dunia begitu besar pergerakaannya yang masuk maupun yang keluar, mata uang memiliki dampak yang besar dan jauh dibandingkan arus keuangan di sektor perdagangan atau investasi. Dalam satu hari uang maya (virtual money) yang diperdagangkan senilai dengan seluruh uang dibutuhkan dalam transaksi keuangan sektor perdagangan dan investasi selama satu tahun penuh. Virtual money ini memiliki daya gerak yang sangat tinggi karena tidak terikat dengan fungsi-fungsi ekonomi yang sudah ada. Trilyunan uang dapat diganti dari satu mata uang ke mata uang yang lain secepat jari para pedagang uang meng-klik tombol keyboard komputer di hadapan mereka. Hal tersebut dimungkinkan karena hal tersebut tidak memiliki kaitannya dengan fungsi ekonomi maupun fungsi keuangan sama sekali. Uang ini bahkan tidak mengikuti pola logika ekonomi maupun hal-hal yang rasional. Hal itu begitu rentan dan mudah panik oleh isu-isu dan rumor atau sesuatu peristiwa yang tidak diperkirakan.

Satu contoh adalah ketika Dollar Amerika di buru pada musim gugur 1995 yang membuat tekanan terhadap Presiden Clinton mengabaikan rencana dia tentang rencana pengeluaran dan neraca belanja seimbang. Kekacauan dimulai oleh kegagalan para politikus Partai Republik di Senat untuk meloloskan amandemen konstitusi mengenai neraca belanja. Meskipun amandemen tersebut lolos, hal itu akan tidak berarti apa-apa. Hal tersebut akan sulit karena harus melalui upaya ratifikasi di 38 Negara Bagian untuk dibuat menjadi peraturan yang biasanya akan memakan waktu selama satu tahun. Tentu saja hal itu membuat para pedagang mata uang menjadi panik dan mulailah kekacauan Dollar Amerika. Penurunan nilai 10 % terhadap mata uang Yen, kekacauan itu menekan Dollar terus turun yaitu menjadi 35 % –dari 106 yen terhadap Dollar menurun hingga 80– dalam waktu dua minggu. Yang lebih penting adalah hal tersebut mengakibatkan semakin dekatnya kejatuhan pasar uang Amerika di mana Amerika bergantung pada defisit keuangannya. Bank sentral Amerika, Inggris, Jerman, Jepang, Swiss, dan Perancis langsung melakukan aksi untuk menyokong nilai tukar Dollar. Mereka gagal, kehilangan trilyunan dalam upayanya itu. Hal tersebut membuat Dollar menjadi bagian yang lebih baik dalam satu tahun untuk mendaki kembali ke posisi (walau masih di bawah) nilai tukar semula. Kepanikan serupa dialami mata uang Perancis Franc pada tahun 1981, yang membuat Presiden Mitterand melakukan upaya janji-janji perubahan yang hal itu membuat dia terpilih kembali menjadi presiden tiga bulan kemudian. Juga telah terjadi kepanikan yang menimpa mata uang Swedia Krona, Poundsterling Inggris, Lira Italia dan mata uang Peso Mexico. Virtual money selalu muncul sebagai pemenangnya. Itu membuktikan bahwa ekonomi global telah menunjukkan kemampuannya menjadi penengah yang baik di sektor keuangan dan kebijakan fiskal.

Kekacauan mata uang, bagaimanapun juga bukan hal yang baik bagi ketidakstabilan fiskal suatu negara. Kasus di Mexico sesuatu yang mengerikan telah terjadi yang konon lebih parah dari epidemi penyakit. Pada tahun 1995 kekacauan yang menimpa Peso menghempaskan perjuangan ekonomi selama enam tahun yang berhasil mengangkat Mexico dari negara miskin menjadi negara yang makmur. Sejauh ini belum ada yang dapat mengontrol ketidastabilan fiskal. Satu-satunya yang sistem dapat bekerja ialah kebijakan fiskal dan keuangan suatu negara yang terbebas dari hutang jangka pendek Mudah berubahnya dunia uang yang mampu menutupi defisit. Jelas ini sepertinya membutuhkan suatu neraca seimbang –atau sesuatu yang lebih cenderung ke bentuk keseimbangan– selama tiga atau lima tahun periode berjalan. Dan hal ini lalu menempatkan keterbatasan kepada otonomi kebijakan keuangan dan fiskal nation-state –yang pada tahun 1973– nilai tukar mengambang telah terlepas sepanjang masa. Proses perbaikan di tingkat non-nasional dan supranasional sedang berjalan. Mata uang Eurobank beredar untuk seluruh Masyarakat Ekonomi Eropa yang akan diedarkan sebelum akhir abad yang sekaligus memindahkan kontrol atas uang dan kredit di negara angggota ke suatu lembaga transnasional yang independen. Pendekatan lain juga dilakukan oleh Badan Cadangan Federal Amerika (US Federal Reserve Board) akan menyerahkan otoritas yang serupa kepada konsorsium bank sentral sekaligus mengatur, mengatupkan, dan menahan kedaulatan fiskal nasional yang sudah terambil banyak dikarenakan kenyataan yang telah berlaku. Kedua pendekatan tersebut bagaimanapun juga hanya berupa peng-institusi-an apa-apa yang sudah menjadi suatu realitas ekonomi: Bahwa keputusan ekonomi yang mendasar diputuskan oleh pengaruh ekonomi global daripada pengaruh yang terjadi di dalam negeri nation-state. Bentuk tidak mengekangnya keuangan dan kedaulatan kebijakan keuangan yang diberikan nation-state dalam nilai tukar mengambang 25 tahun yang lalu sama sekali tidak baik bagi pemerintah.Terjadi pemindahan pengaruh; pengambil keputusan bukan lagi pemerintah tetapi malah para kelompok yang lebih khusus. Sehingga pemerintah kehilangan kewibawaannya dan hal itu tentu saja menganggu jalanya kebijakan-kebijakan yang lain. Dan itu hampir terjadi di setiap negara di dunia. Ada fenomena menarik, yaitu ketika nation-state kehilangan kedaulatan atas sistem keuangan dan fiskal malah terjadi penguatan.

Menghantam Aturan-Aturan
Far Subtler mungkin saja yang lebih penting ialah dampak ekonomi global terhadap asumsi dan teori-teori dasar yang digunakan jajaran pemerintahan di dunia terutama negara-negara Barat bagi dasar perekonomian internasional. Ada beberapa tanda yang selama satu dekade membayangi perekonomian dunia, yaitu sesuatu yang berubah, berganti melabrak tatanan ekonomi lama.

*) Deputi Direktur Eksekutif Independent Society Foundation, Bandung, Indonesia

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

2 responses to “Ekonomi Global Dan Nation-State

  • khalid zabidi

    apa kabar,terimakasih telah menyimpan artikel lama saya…keep in touch..salam kenal

  • iswekon

    Alhamdulillah, salam kenal dan terima kasih juga. Saya pernah mengunduh tulisan Bapak untuk kepentingan makalah. Sayang jika hanya tersimpan di harddisk. Saya unggah di blog, siapa tahu ada yang mendapat kemanfaatan. Pernah saya masuk ke URL-nya tapi tidak bisa. Sekali lagi terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: