Ekonomi; China, Pesona Kapitalisme

Abun Sanda
Senin, 18 September 2006

kompas-cetak170

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0609/18/sorotan/2959492.htm

Ding Lik termangu-mangu tatkala tahun 1956 menjejakkan kaki di desa-desa di Provinsi Guangdong, Republik Rakyat China. Desa-desa yang terletak puluhan kilometer dari kota Guangzhou tersebut amat memelas. Semua penduduk terkesan miskin, berpakaian hitam-hitam yang butut atau biru tua. Sebagian besar warga menggunakan bakiak, rambut digelung panjang.

Rumah-rumah dan jalan-jalan yang ada di sana pun dalam kondisi menyedihkan. Rumah berlumut tanpa cat dan sebagian bahkan tanpa plester. Jalan-jalannya rusak, sebagian dari tanah liat. Sampai runtuh air mata Ding Lik melihat pemandangan itu. Tidak seujung rambut pun ia membayangkan daratan China seperti ini. Namun, ia tidak lama disergap kesedihan. Ia mengambil segenggam tanah, lalu menciumnya.

Ding Lik datang ke China dalam usia 25 tahun bersama sekitar 320 orang Tionghoa yang hijrah dari Indonesia ke Republik Rakyat China (RRC). Naik kapal sederhana, rombongan tersebut tiba di Pelabuhan Hongkong 15 hari kemudian. Ketika tiba di Hongkong ia masih sempat melihat gemerlap sebuah kota yang tertata oleh tangan-tangan terampil Inggris. Namun, ia tidak bisa berlama-lama terpesona sebab sudah mesti naik bus menuju Lowu, desa kecil di perbatasan Hongkong dengan China.

Dalam perjalanan ke Lowu ia banyak melamun, membayangkan cerita tentang daratan besar China yang amat dahsyat, yang ia ketahui dari aneka buku serta penuturan ayah ibunya.

Mendapat kenyataan pahit di China, Ding Lik berusaha belajar dengan tekun. Ia tahu bahwa hanya kecerdasan dan kerja keras yang dapat membawanya ke gerbang kesuksesan, sekaligus membuka gerbang ke dunia luar.

Maka, ia belajar lagi akuntansi sambil secara serius menyempurnakan bahasa Inggrisnya. Tahun 1966, ketika Mao Zedong menggelar Revolusi Kebudayaan, ia tidak tahan lagi tinggal di China. Ia tidak menyana peradaban China yang hebat dihancurkan oleh Mao Zedong dengan pola Revolusi Kebudayaan yang kacau, amuk hantam, dan hampir membawa China ke peradaban terendah. Ia mencari segala cara dan jalan untuk hijrah ke Hongkong. Akhirnya kesempatan itu ia raih tahun 1972.
Dalam perjalanan ke Hongkong, ia lewati lagi desa-desa yang ia lihat ketika masuk China tahun 1956. Keadaannya masih sama, warga masih dengan bakiak, rambut digelung panjang dan pakaian hitam-hitam. Padahal, rentang waktu ia masuk dan keluar dari China mencapai 16 tahun.

Pada tahun 1977, tatkala ia sudah lima tahun berdomisili di Hongkong, ia sempat jalan-jalan ke Desa Lowu dan melihat lagi keadaan desa-desa sekitar Lowu. Situasi masih sama, termasuk Shenzhen, yang masih merupakan desa kecil dengan sekitar 25.000 penduduk. Keadaan baru berubah ketika pemimpin baru China, Deng Xiaoping, mencanangkan kebijakan satu negara dua sistem. Shenzhen menjadi salah satu proyek percontohan zona ekonomi khusus.

Dunia tertawa dan menyebut Deng ngawur karena mana mungkin sistem komunis dipasangkan dengan sistem perekonomian yang menekankan mekanisme pasar?

Akan tetapi, tahun 1985, enam tahun setelah sistem itu diberlakukan, Shenzhen mewujud sebagai salah satu kota modern dunia. Gedung pencakar langit tegak di mana-mana, aneka industri dengan predikat level tinggi berdiri di sana. Shenzhen disebut-sebut sukses sebagai laboratorium ekonomi sebab menjadi salah satu pusat pertumbuhan dunia. Penduduk yang tahun 1978 masih berjumlah 25.000 menjadi tiga juta jiwa pada tahun 1985. Kini penduduk Shenzhen menjadi tujuh juta jiwa.

Apa yang menyebabkan Shenzhen mampu meraih kinerja fantastis? Banyak studi mengenai hal itu. Entah berapa ratus buku, skripsi, dan artikel yang mengupas kehebatan Shenzhen. Puluhan ribu, malah mungkin lebih, warga dunia yang khusus datang ke Shenzhen untuk melakukan studi banding. Hampir seluruhnya memuja Pemerintah China dan suksesnya aplikasi teori satu negara dua sistem.

Han Dan, usahawan konveksi di Shenzhen, menyatakan, ia dan teman-teman usahawan di kota itu suka menerima tamu- tamu dari pelbagai negara di dunia. Mereka selalu datang dengan pertanyaan yang sama, mengapa Shenzhen, juga sekitar seratus kota lainnya, dapat meraih perkembangan yang demikian fantastis. Ia menuturkan, ketika Deng mencanangkan sistem kapitalis di Shenzhen, kota itu diserbu ibarat semut menyerbu makanan manis. Para investor Hongkong, untuk sekadar menyebut contoh, tertarik karena memprediksi laba yang fantastis.

“Bayangkan saja, upah di Shenzhen hanya 10 persen dari upah di Hongkong. Semua barang kebutuhan pokok murah, rumah murah, tanah murah. Dan, pasar di China amat luas. Bayangkan saja, jika produk di Shenzhen sukses, maka pasar yang jelas terbuka adalah penduduk yang mencapai 1,3 miliar jiwa,” katanya.

Lalu, jika bangun gedung perkantoran di atas 30 lantai, dengan cepat terserap pasar karena Shenzhen belum mempunyai gedung tinggi. Membangun hotel selalu penuh karena turis dunia ingin melihat seperti apa Shenzhen. Membangun perumahan dan apartemen pun segera dapat diserap pasar karena warga membutuhkan rumah dan apartemen yang layak. Bangun industri juga amat mudah. Semua persyaratan dimuluskan, dan pasar amat luas. Uang semir atau korupsi pasti ada, tetapi Pemerintah China pun amat galak kepada para koruptor.

Siapa pun yang ketahuan korupsi pasti dihukum berat.

Apakah setelah Shenzhen tumbuh demikian pesat dan semua fasilitas sudah dibangun, lalu perkembangan kota itu melambat? Tidak juga karena pasar terus melebar dan kebutuhan terus naik. Sejarah kemudian mencatat bahwa teori dua sistem dalam satu negara bukan utopia. Adapun ideologi komunis tampaknya hanya semata sebagai ideologi. Dalam praktik kehidupan riil, kapitalisme yang merebut hati rakyat. Kapitalisme menjadi paham yang bisa diterima publik. Lalu, paham komunis bermanfaat untuk mempersatukan RRC yang luas dan berpenduduk 1,3 miliar jiwa.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: