Cina dan Globalisasi; Terbunuh karena Sosialisme dan Kapitalisme

Kamis, 29 Agustus 2002

kompas-cetak166

http://www.kompas.com

KALAU ditanya di mana perekonomian dunia paling spektakuler, jawabannya pasti Republik Rakyat Cina (RRC) yang selama dua dekade ini terus-menerus mencapai pertumbuhan yang sangat tinggi setelah mencanangkan keterbukaan dan modernisasi. Dalam kurun waktu ini, perekonomian RRC tumbuh lima kali lipat, pendapatannya meningkat empat kali lebih besar dibanding sebelumnya, dan sekitar 300 juta rakyatnya terangkat ke luar dari kemiskinan absolut.

Cina memang menjadi sebuah fenomena yang menakjubkan siapa saja. Perekonomian Cina yang sebelumnya digerakkan melalui komune pertanian dengan kesengsaraan yang berkepanjangan, sekarang tiba-tiba muncul sebagai sebuah kekuatan dunia baru di tengah-tengah gencarnya globalisasi dengan menempatkan dirinya sebagai pusat manufaktur terbesar di dunia.
Cina memang merupakan sebuah fenomena yang menakjubkan. Tidak ada barang-barang konsumen di negara mana pun di dunia yang tidak dibuat di Cina. Secara ekonomi, dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 10 persen setiap tahunnya, negara dengan penduduk terbesar di dunia ini mampu menyaingi perekonomian siapa saja, mulai dari Jepang yang sekarang terus menghadapi resesi yang berkepanjangan sampai negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang masih terus menggeliat ke luar dari krisis ekonomi dan keuangan yang melanda kawasan ini pada tahun 1997-1998.

Apa yang akan terjadi dalam dua dekade mendatang memang memberikan berbagai kemungkinan akan banyak terjadi perubahan ekonomi yang juga sangat dramatis dibanding dekade-dekade sebelumnya. Pada kurun waktu ke depan ini, Cina secara utuh masuk ke dalam sistem perekonomian dunia serta memiliki potensi untuk menjadi kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS. Semua perjanjian yang berkaitan dengan perdagangan dunia sudah ditandatangani Cina untuk masuk menjadi anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) setelah berupaya keras selama 15 tahun.

Konsekuensinya, dalam kurun lima tahun ke depan, Cina akan menghilangkan berbagai hambatan tarif dan non-tarif serta membuka seluruh sektor perekonomian dan perdagangannya kepada dunia luar, khususnya di sektor perbankan, telekomunikasi, dan distribusi yang selama ini haram untuk dikerjakan oleh orang asing.
Akan tetapi, ini baru sebagian saja dari persoalan-persoalan strategis yang akan dihadapi Cina di masa depan yang tidak terlalu lama lagi. Seperti yang disebutkan oleh majalah terbitan Inggris, The Economist, edisi akhir tahun lalu, bahwa keanggotaan RRC di WTO baru merupakan inisiatif reformasi menyeluruh yang pertama. Masih banyak perosalan strategis yang akan dihadapi Cina, mulai dari pokok perdebatan ideologis tentang “ekonomi sosialisme ala Cina”, pemisahan bisnis yang dikelola pemerintah dalam ribuan BUMN yang merugi, sampai membangun infrastruktur nasional yang akan menjadikan untuk pertama kalinya dalam sejarah “kekaisaran Cina” terciptanya sebuah kesatuan ekonomi yang utuh.

Globalisasi semu
Globalisasi yang sekarang ini terus mencari bentuk dan rumusannya tersendiri di lingkungan akademisi memang berdampak sangat luas dan mendalam terhadap arah perkembangan perekonomian dan pedagangan Cina. Restrukturisasi perekonomian Cina yang dimulai sejak tahun 1979 memang sebagian memperoleh legitimasi politik domestik yang baru setelah meninggalnya Mao Zedong dan berakhirnya era Revolusi Kebudayaan yang tetap masih merupakan misteri politik terbesar dalam sejarah kontemporer daratan Cina.

Di sisi lain, restrukturisasi yang dirumuskan dalam sebuah slogan politik baru di bawah Deng Xiaoping, sebagai Sige Xiandaihua (Empat Modernisasi), sebenarnya juga merupakan bagian dan terpengaruh dari sebuah proses yang disebut oleh Dorothy J Solinger dari Universitas California “globalisasi semu” (virtual globalization). Solinger yang menulis buku China`s Transition from Socialism (1993) menyebutkan, logika dari proses ini adalah sebelum sepenuhnya memperoleh keanggotaan penuh dalam ekonomi global dengan skala penuh dan bukan sebagai reaksi atas pendiktean kekuatan-kekuatan material eksternal, sebuah perekonomian domestik meniru dampak-dampak yang dihasilkan di antara para peserta utama.

Dengan membuka sebagian ke dunia luar, para pemimpin Cina mengikatkan negaranya pada dinamika globalisasi tanpa perlengkapan-perlengkapannya, seperti tenaga kerja asing, stagnasi ekonomi, jumlah utang nasional yang seirus, serta ancaman kompetisi dari luar. Di daratan Cina, karena warisan institusi-institusi sosialis yang khusus, partisipasi paradoks menjadi lebih nyata di banding di negara-negara lain. Tingkat pengangguran dan penurunan, merjer perusahaan, dan kebangkrutan di Cina sejak tahun 1997, misalnya, bukan karena hasil utang luar negeri, tapi karena utang perusahaan-perusahaan BUMN ke bank-bank domestik dan perusahaan lainnya.

Ini adalah sebuah hasil dari tekanan-tekanan kompetisi yang bukan berasal dari luar negeri dan juga bukan dari perusahaan-perusahaan non-BUMN yang ada di dalam Cina sendiri. Pada saat yang bersamaan, tekanan para pekerja migrasi ke kota-kota bukan juga disebabkan adanya persaingan dari luar (seperti yang umumnya terjadi di negara-negara Eropa), tapi dari wilayah pedesaan daratan Cina sendiri.

Bagi Cina, globalisasi sendiri memang mencapai dampak yang lebih panjang ketimbang ketika muncul untuk pertama kalinya. Proses yang dilaluinya tidak hanya berdampak pada tempat-tempat tertentu saja, tapi benar-benar seluruh bagian dari perekonomian dunia. Karena Cina sekarang ini masuk ke dalam sebuah mitos modernitas dan simbol keberhasilan, globalisasi yang melanda Cina sebenarnya merupakan sebuah gagasan sangat kuat yang mendorong wilayah-wilayah yang sebenarnya masih berada di tepi pasaran global, secara perlahan-lahan masuk lebih dalam lagi. Akibatnya, para pekerja (termasuk mereka yang tertarik dari luar) menjadi subyek kompetisi yang sangat ketat untuk mempromosikan ekspor dan menarik berbagai ragam investasi dalam skala internasional.

Isolasi
Cina yang selama ini secara parsial dalam partisipasinya pada perekonomian dunia, sekarang ini menjadi sangat berkeinginan dan tidak bisa menghindar untuk menjadi sebuah negara yang belum sepenuhnya masuk ke dalam tekanan-tekanan aktual globalisasi. Sejak berkuasanya Partai Komunis Cina (PKC) pada tahun 1949, para pemimpin Cina berupaya terus untuk menghindar sebisa mungkin dari negara-negara Barat. Dengan demikian, dua poros penting proses globalisasi yang mendorong berbagai negara masuk ke dalam pacuan dunia pada tahun 1970-an, masing-masing ambruknya mekanisme pertukaran mata uang Bretton Woods dan inflasi yang berkepanjangan akbibat krisis minyak tahun 1973 dan 1979, terhindari sama sekali.

Kebijakan isolasi dan menyandarkan diri pada negara-negara Dunia Ketiga setelah retaknya hubungan dengan Uni Soviet pada tahun 1960, menyebabkan RRC tidak ikut terseret dalam aktivitas perekonomian internasional yang menjadi serangan awal proses globalisasi. Ketika harga minyak dunia mencapai puncaknya, Cina tidak menderita seperti yang dialami oleh negara-negara Barat lainnya.

Dalam kondisi ini, karena menyadari besarnya kebutuhan energi, para pemimpin Cina membatalkan berbagai proyek-proyek besar serta impor proyek-proyek pabrik berskala besar asing. Titik puncak meningkatnya produksi minyak juga menjadi faktor penting bagi Cina untuk bergeser ke strategi pasar, yang dimulai dengan membangun berbagai industri ringan melakukan proses manufaktur masif bagi produksi barang-barang ekspor. Produksi jenis ini memang tidak membutuhkan sumber energi yang besar.

Dari aspek lain, perekonomian Cina yang sekarang ini terus menjadi semakin terbuka, di beberapa segi memang perekonomiannya masih sedikit terimbas oleh globalisasi dibanding dengan negara-negara berkembang lainnya. Dengan sendirinya, RRC pun masih bisa terus menghindar dari ancaman tekanan ekonomi internasional. Bahkan sampai saat ini, mata uang RRC sendiri pun masih dalam status non-convertible, dan utang luar negerinya pun masih terlalu kecil dan masih bisa dikelola sedemikian rupa tanpa harus menjadi ancaman bagi pengaturan perekonomian dalam negerinya.

Bahkan, sebuah laporan Bank Dunia pada tahun 1997 memasukkan Cina dalam kategori improved creditworthiness sehingga menjadi negara penerima utama dalam daftar sindikasi pinjaman kepada negara-negara berkembang. Dalam laporan ini juga disebutkan bahwa walaupun adanya peningkatan yang tetap pada utang eksternalnya (pada akhir tahun 1996 mencapai 130 milyar dollar AS), kinerja makro-ekonomi RRC berhasil mencapai tingkatan indikator utang yang baik, setidaknya pada tingkatan setengah dari rata-rata negara berkembang lainnya dan yang terendah untuk kawasan Asia-Pasifik. Jaminan kelangsungan perekonomian Cina juga disebabkan cadangan devisanya yang sangat besar, mencapai jumlah sekitar 140 milyar dollar pada akhir tahun 1997, serta perimbangan pembayaran internasionalnya yang masih masuk dalam kategori favorit.

Praktik material
Memang masih menjadi tanda tanya apa yang akan terjadi dengan pertumbuhan ekonomi Cina di masa mendatang setelah negara ini sepenuhnya menjadi anggota WTO. Sekilas, banyak pengamat Cina yang memperkirakan dampak yang segera ditimbulkan akan langsung terkena pada lapangan kerja di daratan Cina. Ketika keanggotaan WTO menjadi efektif dengan pemotongan tarif di mana-mana, para produsen dalam negeri di Cina akan secara terbuka berhadap-hadapan dengan persaingan internasional yang sangat ketat.

Akan tetapi, mungkin ini belum begitu serius karena yang menjadi pusat perhatian para pengamat sekarang ini adalah iklim global yang melindungi nilai-nilai pasar akan menyebar bagai infeksi, baik terhadap para pengambil keputusan di berbagai tingkatan di daratan Cina maupun para manajer-manajer berbagai perusahaan dalam negeri. Berbagai perusahaan diperkirakan pasti akan bersikap lebih keras menghadapi para buruhnya karena semakin tinggi tekanan untuk memperoleh keuntungan.

Sisi lainnya, persaingan dalam globalisasi adalah para pekerja di kota-kota Cina yang akan berhadap-hadapan dengan para pekerja migrasi dari wilayah pedesaan. Dari tahun 1983 setelah pembatasan selama dua dekade lebih, para pekerja migrasi dari pedesaan sekarang ini diizinkan untuk meninggalkan wilayah mereka. Sekarang ini catatan resmi Pemerintah RRC memperkirakan ada sekitar 100-200 juta surplus buruh pedesaan, dan mereka yang sudah berada di wilayah perkotaan akan menjadi semacam gastarbeiter (pekerja tamu) yang menimbulkan berbagai persoalan sosial dan ekonomi seperti yang dialami negara-negara Eropa sekarang ini.

Di lihat dari berbagai sudut, terlambatnya Cina masuk ke dalam proses globalisasi memang bisa menimbulkan persoalan tersendiri. Ini antara lain disebabkan nilai-nilai sosialis yang dianutnya, maupun karena aliansi dan komitmen yang semakin luas sekarang ini menghadapi berbagai hambatan dalam memperkenalkan kesejahteraan bagi para pekerjanya akibat diperkenalkannya rezim pasar yang sama sekali baru.

Hambatan yang merupakan peninggalan ideologi sosialis masa lalu akan menjadi lebih serius begitu Cina menjadi lebih global.

Proses ekonomi globalisasi sendiri sebenarnya mencakup lebih dari hanya sekadar praktik-praktik material. Globalisasi sendiri sebenarnya juga merupakan sebuah ideologi tersendiri, atau banyak para ahli yang menganggapnya sebagai sebuah kebudayaan atau sebuah metamoforsa pada tingkat bangsa secara utuh. Dengan demikian, keanggotaan Cina dalam globalisasi sekarang ini sebenarnya merupakan partisipasi paradoks yang memang berakar pada globalisasi itu sendiri, sehingga proporsi keterlibatan warganya pun akan terus berkurang. Bagi para pekerja Cina, globalisasi bisa juga diartikan sebagai penderitaan dari dua sisi, sosialisme dan kapitalisme. (Rene L Pattiradjawane)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

2 responses to “Cina dan Globalisasi; Terbunuh karena Sosialisme dan Kapitalisme

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: