China sebagai Jangkar Regionalisme

René L Pattiradjawane
Senin, 19 Desember 2005

kompas-cetak167

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/19/ln/2298599.htm

Selama sepekan berlangsungnya perundingan Organisasi Perdagangan Dunia di Hongkong, Republik Rakyat China yang menjadi tuan rumah melalui Pemerintah Kawasan Administrasi Khusus Hongkong tidak menunjukkan posisi yang berarti, khususnya menghadapi isu yang belum terselesaikan, dikenal sebagai Putaran Doha yang mencakup 21 isu masalah pertanian, jasa, akses pasar nonpertanian, dan lainnya.

Isu Putaran Doha tampaknya tidak menjadi begitu penting karena memang sulit menempatkan posisi kepentingan masing-masing 149 negara anggota yang terdesak di dalam negeri melindungi kepentingan para petaninya, dan di sisi lain roda percepatan globalisasi dalam berbagai sektor (termasuk perdagangan) selama satu dekade terakhir ini menghasilkan fragmentasi kerugian dan keuntungan di segala bidang.

Di sisi lain, posisi AS dan negara-negara Eropa yang secara politik terikat pada koalisi antiterorisme sejak serangan udara teroris di New York pada tanggal 9 September 2001 tampaknya mulai kehilangan kendali atas jalannya globalisasi yang terus-menerus menghasilkan rumusan-rumusan baru menyejahterakan siapa saja bagi yang mampu memberikan kenyamanan investasi, dan sekaligus menyengsarakan bagi yang tidak mampu bersaing di pasaran ekspor.

Menurunnya posisi AS dalam percaturan globalisasi tidak hanya tercermin dalam sidang Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Hongkong dengan munculnya tuntutan negara-negara yang secara gamblang menawarkan daftar perjanjian perdagangan baru, tetapi juga blok politik dan ekonomi baru yang tercermin dari pertemuan KTT Asia Timur di Kuala Lumpur, Malaysia, bersamaan dengan dimulainya pertemuan WTO.

Pertemuan tingkat tinggi melibatkan ASEAN+3 (China, Jepang, dan Korea Selatan), serta negara-negara seperti India, Australia, Selandia Baru, dan Rusia, menunjukkan sebuah vitalitas baru pasca-Perang Dingin, meninggalkan konsep payung keamanan AS selama beberapa dekade di kawasan ini dan menjadi satu-satunya hegemoni kekuatan yang memberikan jalan bagi pertumbuhan dan modernisasi di kawasan Asia Timur.

Apa yang terjadi dengan peranan global AS? Menurut data WTO, AS adalah importir terbesar dunia dengan perubahan persentase setiap tahun 17 persen mencapai nilai 1,525 triliun dollar AS, menjadikan negara yang penuh dengan kontroversi ini sebagai pasar terbesar di dunia.

Semua negara anggota ASEAN+3 adalah mitra utama perdagangan dan ekonomi AS. Kombinasi anggota KTT Asia Timur memang menghasilkan sebuah produk domestik bruto sebesar 8,3 triliun dollar AS dan menduduki posisi kelima dalam perdagangan global.

Kekuatan globalisasi
Satu hal yang kita amati, peranan AS di kawasan sudah melorot dan diambil alih oleh China, yang secara terukur dan terarah memosisikan sebagai sebuah kekuatan globalisasi, dan secara bersamaan memainkan diplomasi bilateral dan multilateral yang diproyeksikan bagi pembangunan ekonomi nasionalnya.

Ini antara lain yang menjelaskan posisi pasif China dalam perundingan WTO di Hongkong, sebuah posisi yang sebenarnya sudah lama diterapkan pada perundingan WTO sebelumnya seperti di Cancun, Meksiko. Di sisi lain, sebenarnya di luar persoalan pertanian antara AS dan negara-negara Eropa serta masalah pembatasan ekspansi ekspor tekstil China yang dicegat di mana-mana, situasi lingkungan perdagangan global yang sekarang sedang berlangsung sebenarnya sesuai dengan kebutuhan China.

Persoalannya, perdagangan dan hubungan ekonomi dengan AS sebenarnya tidak menjadi sebuah kalkulasi penting karena sudah diselesaikan secara komprehensif ketika China menjadi anggota WTO pada akhir tahun 2001. Perjanjian perdagangan bilateral RRC-AS dalam kerangka WTO adalah paling komprehensif dari seluruh perjanjian perdagangan karena rincian perjanjian yang mengikat kedua belah pihak secara konstruktif mencerminkan liberalisasi dan kompetisi yang selama ini dijagokan AS.

Akses China ke WTO telah mendorong mesin perdagangan China bergerak secara cepat, mencatat surplus perdagangan luar negeri mencapai 100 miliar dollar AS pada tahun ini. Hubungan perdagangan dengan AS pun memberikan keuntungan bagi China yang mencapai 200 miliar dollar AS, meningkat secara tajam dari 162 miliar dollar AS pada tahun 2004.

Paradigma baru
Ini antara lain juga yang memungkinkan terjadinya KTT Asia Timur menuju ke sebuah blok kerja sama politik, ekonomi, dan perdagangan baru tanpa AS. Perkembangan politik global sekarang ini memang bergerak jauh meninggalkan AS yang bercita-cita sebagai satu-satunya kekuatan adidaya pasca-Perang Dingin.

Ada dua alasan terjadinya pelengseran posisi AS di kawasan ini. Pertama, dari sisi ekonomi dan perdagangan, kunci kendali yang dimiliki AS sekarang ini hanyalah mata uang dollar AS yang menjadi jangkar sistem perdagangan dan ekonomi dunia, dan tidak lagi mengikuti asas Bretton Woods yang menciptakan sebuah hegemoni dollar AS yang sebelumnya dikendalikan berdasarkan cadangan emas. Sistem ekonomi dan perdagangan dunia sekarang ini bergeser dari hegemoni dollar AS di mana AS memproduksi mata uang dollar AS dan dunia memproduksi produk sesungguhnya yang dibeli dengan mata uang dollar AS tersebut.

Artinya, perdagangan dan perekonomian dunia dalam era globalisasi sekarang ini tak lagi hanya diarahkan untuk memperoleh keuntungan komparatif, tapi bersaing dalam ekspor untuk memperoleh dollar AS demi memenuhi kebutuhan utang luar negeri dalam denominasi dollar AS serta mempertahankan nilai tukar mata uang domestik di pasaran pertukaran mata uang asing.

Di sisi lain, kehadiran mata uang euro yang terapresiasi sebagai tindak lanjut Perjanjian Plaza 1985 berubah dari upaya untuk membendung mata uang yen yang menjadi subordinat dollar AS dan mengakibatkan defisit perdagangan AS, menjadi dimulainya posisi euro sebagai subordinat dollar AS untuk membendung utang AS yang semakin membengkak.

Alasan kedua, memiliki lingkup geopolitik yang mengubah paradigma tatanan internasional pascaserangan udara teroris 9 September 2001. Doktrin Bush tentang postur adidaya yang monopolistik dengan semboyan ”either with us or against us” melawan terorisme, menghasilkan sebuah ”global disobedience” terselubung tanpa kesepakatan aliansi ala Perang Dingin.

Semua negara di dunia, termasuk anggota KTT Asia Timur, sepakat bahwa terorisme merupakan sebuah ancaman nyata yang harus ditangani secara komprehensif tanpa membentuk sebuah persekutuan baru, dan tidak menarik karena membebani ekonomi nasional serta bukan solusi yang komprehensif.

Masing-masing negara memiliki cara untuk menghadapi terorisme, terutama melalui kerja sama bilateral yang lebih efektif dan meminimalkan kerusakan dalam negeri yang diakibatkan oleh isu terorisme itu sendiri.

Ketika China sebagai negara pertama di luar ASEAN menandatangani Bali Concord (ASEAN Treaty of Amity and Cooperation), kemudian diikuti Jepang dan Rusia, landasan KTT Asia Timur menjadi kokoh, menghasilkan sebuah paradigma regionalisme baru untuk mengimbangi globalisasi yang deras membuka peluang kerja sama perdagangan dan ekonomi maupun keamanan yang selama ini terbelenggu dalam payung keamanan AS.

Perundingan WTO dan KTT Asia Timur merupakan proses paralel, mencari bentuk-bentuk kerja sama baru di kawasan maupun di dunia. Dan China menjadi jangkar baru terpercaya untuk memainkan peranan penting seperti yang pernah ditunjukkannya ketika terjadi Krisis Keuangan Asia 1997, dan memutuskan untuk tidak melakukan devaluasi mata uangnya.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: