Antara Visi dan Realitas

Razali Ritonga
Rabu, 21 Desember 2005

kompas-cetak146

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0512/21/opini/2305391.htm

Di tengah seretnya kontingen Indonesia mendulang medali dalam SEA Games XXIII di Manila beberapa waktu yang lalu, kita dientakkan oleh pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengajak seluruh komponen bangsa agar menumbuhkan budaya unggul (culture of excellence).

Budaya unggul, menurut beliau, adalah semangat dan kultur kita untuk mencapai kemajuan sehingga bisa bersaing dengan negara-negara lain (Kompas, 1/12/ 2005).
Ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk membangun budaya unggul merupakan sesuatu yang ingin dicapai di masa yang akan datang, dan itu bisa dikategorikan sebagai suatu visi. Hal itu bukan berarti bahwa pemerintah saat ini tidak mempunyai visi, tetapi visi untuk mencapai budaya unggul bisa dipandang sebagai artikulasi dari visi yang ada.

Secara umum, kita dihadapkan oleh realitas kemiskinan, kesehatan, pengangguran, dan pendidikan yang rendah. Realitas yang terjadi saat ini merupakan puncak kerawanan dari berbagai masalah yang dihadapi bangsa ini.

Saat ini bangsa Indonesia, antara lain, dihadapkan oleh realitas masalah kemiskinan dan pengangguran yang sangat besar. Angka pengangguran, misalnya, telah mencapai angka sepuluh persen, padahal tahun 1990 angkanya masih sekitar 2,5 persen. Sementara angka kemiskinan telah mendekati angka hampir 16 persen pada tahun ini, padahal tahun 1995 masih sekitar 13,5 persen.

Dengan melihat kenyataan seperti itu, mampukah bangsa Indonesia bangkit dari keterpurukan dan mengejar suatu misi untuk menjadi bangsa yang unggul? Jawabannya sangat ber- gantung pada kesiapan kita semua untuk melakukan perubahan sikap dan memiliki komitmen yang tinggi untuk maju.

Karet gelang
Peter Senge (1990) mengidentifikasi dua fenomena itu, yaitu visi dan realitas di antara dua kutub. Di antara keduanya bisa saling tarik-menarik sehingga bisa diilustrasikan sebagai sebuah karet gelang yang kita tempatkan pada dua ujung jari. Pada ujung jari yang pertama kita sebut visi, sementara pada ujung jari yang kedua kita sebut realitas. Apabila tarikan pada ujung jari realitas lebih besar dibandingkan dengan ujung jari visi, visi akan tenggelam. Sebaliknya, jika tarikan pada ujung jari pada visi lebih besar daripada ujung jari realitas, visi bisa terwujud.

Menurut Peter Senge (1990, p.141), perubahan sikap yang paling mendasar adalah jika setiap individu secara terus-menerus akan memperluas kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ciri-ciri seseorang yang memiliki komitmen itu disebut personal mastery yang ditandai dengan adanya keinginan untuk selalu belajar karena sadar terhadap kekurangan dalam pengetahuan, merasa inkompeten dan selalu percaya diri.

Belajar dari pengalaman
Proses tarik-menarik antara visi dan realitas untuk contoh yang gagal adalah sewaktu Presiden Soeharto pada era 1980-an mengemukakan keinginan untuk membawa bangsa Indonesia ke dalam era tinggal landas. Jadi, sebenarnya apa yang dikemukakan Presiden SBY hampir mirip dengan apa yang dikemukakan oleh Presiden Soeharto. Namun, era tinggal landas yang diinginkan itu tidak terwujud, malahan sebagian kalangan menilai bahwa kita masih tinggal di landasan. Salah satu penyebab kegagalan itu, seperti yang diidentifikasi oleh Peter Senge, bisa jadi karena tidak adanya perubahan perilaku untuk melakukan pembelajaran.

Meski demikian, bangsa ini pernah meraih sukses dari proses ulur tarik antara visi dan realitas, yakni ketika dijalankannya program Keluarga Berencana (KB). Realitas yang ada sewaktu program KB akan diluncurkan adalah bahwa kita dihadapkan oleh terlalu banyaknya anak yang dimiliki oleh pasangan keluarga, yang pada itu (tahun 70-an) sekitar 5,6 anak per keluarga. Kemudian, Haryono Suyono yang ketika itu menjabat sebagai kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menelurkan suatu visi untuk membatasi kelahiran, dan sebagai penjabarannya menawarkan suatu program yang disebut dengan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS), yakni dengan dua anak per keluarga. Ternyata, visi menunjukkan keberhasilan sehingga saat ini bangsa ini menuai hasil yang sangat menggembirakan dengan 2,6 anak per keluarga.

Perlu pengungkit
Perubahan perilaku untuk menjadi bangsa yang unggul dalam jangka panjang perlu didukung oleh suatu faktor pengungkit (leverage), yakni akselerasi peningkatan kualitas hidup. Semangat untuk melakukan pembelajaran akan bertambah cepat jika itu diterapkan pada suatu generasi yang berkualitas.

Salah satu faktor kunci yang bisa berfungsi sebagai faktor pengungkit untuk mencapai generasi yang berkualitas adalah dengan meningkatkan kualitas ibu, karena dari ibu yang berkualitas umumnya akan lahir anak yang berkualitas pula. Namun, sayangnya, yang terjadi saat ini masih jauh dari kategori itu. Hal ini diindikasikan dengan masih tingginya angka kematian ibu (AKI), yang berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002-2003 tercatat sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup.

Rendahnya kualitas ibu di Indonesia, antara lain, karena masalah kemiskinan dan kurangnya perhatian terhadap nasib ibu. Kemiskinan menyebabkan banyak ibu yang menderita kurang gizi dan anemia serta berpendidikan lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki.

Sementara kurangnya perhatian terhadap ibu, antara lain, terindikasi dengan pendidikan yang kurang memadai. Berdasarkan ukuran rata-rata lama sekolah (mean years schooling) yang dijalani perempuan tercatat sekitar 6,5 tahun sekolah, sementara laki-laki 7,6 tahun sekolah pada tahun 2002. Pada sisi lain, kurangnya perhatian itu dengan masih adanya tindak kekerasan yang dialami perempuan dalam rumah tangga (KDRT).

Dengan demikian, melihat kenyataan seperti itu, perlu upaya yang lebih keras lagi untuk meningkatkan kualitas ibu. Kaum ibu yang sehat dan berpendidikan bisa memberi semangat kepada anak-anaknya untuk melakukan pembelajaran menghadapi realitas hidup.

Kita semua berharap bangsa Indonesia yang lebih unggul dapat menjadi kenyataan. Kita perlu suatu strategi untuk memenangkan visi dalam mengejar budaya unggul dan tidak mengalah pada realitas yang bergelimang dengan keterpurukan sehingga mampu mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain.
Razali Ritonga Kepala Subdirektorat Analisis Konsistensi Statistik, BPS

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: