Suksesi, Nasib Perusahaan Keluarga di Tangan Generasi Ketiga

STEFANUS OSA TRIYATNA
Minggu, 21 Oktober 2007

kompas-cetak141

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/21/Buku/3930419.htm

Seorang pengusaha properti papan atas Indonesia, Ciputra, secara blak-blakan mengatakan alasannya di depan publik mengapa dirinya tidak menikah lagi seperti pilihan hidup orang-orang kalangan papan atas, di saat harta kekayaan yang dimilikinya berkelimpahan?

Bagi Ciputra, kekayaan yang diraihnya ini pertama-tama adalah berkah dari Tuhan. Alasan lain, seluruh sahamnya sudah dibagi-bagi secara adil kepada istri dan anak-anaknya. Adil baik secara kriteria hubungan darah maupun kompetensi melanjutkan perusahaannya.

Maka itu, Ciputra mengaku tidak mau menikah lagi karena bisa gawat kehidupannya. Gawat karena jika istri dan anak-anaknya bersatu, Ciputra hanya memiliki sebagian kecil dari seluruh saham perusahaan raksasanya.

“Saya bisa dipecat,” kata Ciputra di hadapan sekitar 40 peserta seminar yang terdiri dari pemilik dan generasi penerus perusahaan keluarga serta kalangan profesional yang bekerja di perusahaan keluarga. Mereka tersenyum dan terkadang terperangah mendengarkan strategi bisnis properti Ciputra.

Sekilas kejujuran yang spontan mengundang gelak tawa itu diungkapkan Ciputra untuk memecah ketegangan dalam pembahasan buku berjudul lengkap The Jakarta Consulting Group on Family Business di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Cerita Ciputra memang tidak tersirat secara nyata dalam buku eksklusif hardcover setebal 457 halaman itu. Namun, secara nyata buku itu ingin membuka cakrawala kekuatan bisnis yang mengatasnamakan perusahaan keluarga. Nepotisme yang selama ini membuat sebagian bangsa Indonesia alergi.

Akar permasalahan
Akar permasalahan perusahaan keluarga tersingkap ketika sang pendiri semakin tua dan tak berdaya. Suksesi adalah satu-satunya pilihan untuk berkembang atau tidaknya perusahaan keluarga itu.

Regenerasi dipandang perlu dilakukan dengan baik dan matang sehingga suksesi tidak menimbulkan sikap iri hati dan pecah menjadi konflik. Nilai yang mesti dipegang adalah integritas. Tidak dapat dimungkiri bahwa suksesi merupakan hal yang sangat krusial dalam mempertahankan kelanggengan perusahaan keluarga di masa depan.

Sebelum sampai pada strategi menghadapi suksesi, para penulis mengedepankan tujuh isu dalam organisasi perusahaan keluarga, yaitu kepemimpinan; perencanaan strategis; fokus pada market dan konsumen; manajemen tolok ukur, analisis, dan pengetahuan; fokus sumber daya manusia (SDM); manajemen proses; dan business result yang merupakan indikator-indikator untuk menentukan kondisi dan kinerja organisasi, baik diukur dengan indikator finansial maupun nonfinansial.

Masalahnya, perusahaan itu akan dipercayakan kembali kepada generasi anak atau cucunya? Ataukah, dengan sikap legowo, tentu dengan pertimbangan yang masak, pendiri perusahaan memberanikan diri menyerahkan perusahaan itu ke tangan kalangan profesional muda.

Suksesi itu sedikit menyingkapkan terminologi bisnis perusahaan keluarga. Pertama adalah Family Owned Enterprise (FOE), yaitu perusahaan yang dimiliki keluarga, tetapi dikelola oleh eksekutif profesional yang berasal di luar lingkungan keluarga.

Dalam hal ini, keluarga berperan sebagai pemilik dan tidak melibatkan diri dalam operasi di lapangan agar pengelolaan perusahaan bisa berjalan secara profesional. Anggota keluarga hanya mengambil fungsi pengawasan.

Jenis kedua adalah Family Business Enterprise (FBE), yaitu perusahaan yang dimiliki dan dikelola oleh anggota keluarga pendirinya. Jadi, baik kepemilikan maupun pengelolaan dipegang oleh pihak yang sama, yaitu keluarga. Tipe perusahaan keluarga ini dicirikan oleh posisi kunci yang dipegang oleh anggota keluarga.

Penulis buku ini menggambarkan kondisi bisnis di Amerika Serikat. Saat ini Amerika memiliki 24 juta perusahaan keluarga. Hasil penelitian R Backard/W Gibb Dyes, sekitar 90 persen dari 15 juta perusahaan besar di Amerika adalah bisnis atau perusahaan yang didominasi kelompok-kelompok keluarga.

Sepertiga dari 500 perusahaan kaya di Amerika dimiliki dan dikendalikan oleh keluarga. Sebesar 40 persen dari produk nasional bruto (GNP) atau 59 persen dari produk domestik bruto (GDP) AS diperoleh dari perusahaan keluarga. Jadi, banyak perusahaan yang barangkali jarang kita dengar, tetapi punya pendapatan begitu tinggi. Ternyata, perusahaan keluarga menjadi tulang punggung bisnis di AS.

Namun, penulis tidak melupakan mitos yang melekat pada perusahaan keluarga, yaitu “generasi pertama membangun, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan”. Mitos itu tidak hanya beredar di Indonesia.

Ibarat kekayaan, Patricia Susanto menyebutkan bahwa pendiri perusahaan keluarga boleh dibilang pemilik modal awal atau orang kaya. Ketika terjadi suksesi dalam tipe FBE, perusahaan itu berarti dilanjutkan oleh anak orang kaya. Begitu generasi ketiga memimpin perusahaan itu, berarti cucu orang kaya-raya memegang seluruh kendali perusahaan keluarga itu.

Tentunya gaya hidup si cucu berbeda dengan si anak. Berbeda pula gaya hidup mereka dengan si pendiri yang tak lain adalah kakek atau neneknya. Perusahaan keluarga tetaplah memiliki banyak kekuatan, sekaligus kelemahan. Tinggal mau bertumpu pada nilai keluarga ataukah nilai bisnis yang lebih mengedepankan target dan profit.

AB Susanto memegang satu kata kunci sikap dalam memperlihatkan suksesi di setiap mencermati bisnis keluarga, yakni sikap legowo. Bahasa Jawa ini mengartikan sikap kerelaan yang di dalamnya juga tersembunyi keberanian.

Artinya, kerelaan dari si pendiri yang semakin hari semakin tua untuk menyerahkan perusahaan yang sejak awal dirintisnya kepada generasi penerusnya. Bisa berasal dari generasi yang memiliki hubungan kekeluargaan, bisa pula generasi muda profesional. Di dalam sikap legowo, semua itu membutuhkan perhitungan yang sangat matang.

Buku ini mengungkapkan trik untuk menghadapi suksesi sehingga munculnya generasi penerus—entah berasal dari keturunan keluarga itu sendiri maupun kalangan profesional lain—tidak memunculkan konflik. Selain itu, satu sama lain dapat menerima kepemimpinan baru.

Survei dari Family Business Review (2003) menunjukkan sebanyak 71 persen perusahaan keluarga di Australia dimiliki generasi pertama, 20 persen oleh generasi kedua, dan hanya 9 persen yang dimiliki generasi ketiga.

Tetapi, dari semua perusahaan yang ada, menurut J Nasbitt, hanya 30 persen yang bisa bertahan hingga generasi kedua karena pada umumnya perusahaan keluarga berhenti sepeninggal pendirinya. Dari sisi finansial, survei dari Monash University (1997) menunjukkan, rata-rata kekayaan generasi pertama sebesar 690 juta dollar AS, kekayaan generasi kedua menurun menjadi 293 dollar AS, dan kekayaan generasi ketiga tinggal 170 juta dollar AS.

Kita melihat bahwa perusahaan keluarga memiliki kekuatan sekaligus kelemahan. Karena itu, perusahaan keluarga memerlukan good corporate governance. Jika tidak, konflik bisa terjadi baik konflik nilai, konflik antarkeluarga, konflik harapan keluarga dan harapan bisnis, ataupun konflik keluarga dan karyawan.
Jika suksesi sudah dilakukan, generasi penerus diajak untuk mengembangkan perusahaan keluarga itu menjadi berkelas dunia. Proses bisnis dan hasil-hasil bisnis menjadi sentral dalam persaingan di dunia internasional. Bukan lagi sibuk berselisih paham dengan sesama anggota keluarga.

Buku ini tampaknya bisa menjadi pilihan untuk membuka cakrawala kita, apakah suksesi perusahaan keluarga dapat dilalui dengan sukses, tanpa menimbulkan konflik? Ataukah, suksesi mengantar perusahaan itu pada jurang kehancuran?

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

3 responses to “Suksesi, Nasib Perusahaan Keluarga di Tangan Generasi Ketiga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: