Setelah CGI Berlalu…

Binny Buchori
Rabu, 31 Januari 2007

kompas-cetak121

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/31/opini/3277750.htm

Salah satu hal penting dari keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membubarkan Consultative Group on Indonesia atau CGI pekan lalu—sesaat setelah bertemu dengan Managing Director IMF Rodrigo de Rato—adalah hancurnya mitos, forum ini amat menentukan kemajuan ekonomi kita.

Sejak CGI didirikan tahun 1992 oleh Presiden Soeharto, mitos yang dikembangkan adalah bahwa tingkat kepercayaaninternasional kepada pemerintah diukur dari sukses atau tidaknya sidang CGI. Yang dimaksud “sukses” adalah besar kecilnya utang, hibah, dan bantuan teknis yang diberikan kepada pemerintah.

Pada masa Orde Baru, makin besar dana yang dikucurkan, berarti makin besar kepercayaan dunia internasional kepada pemerintah. Jadi, CGI dimitoskan sebagai institusi yang menentukan kredibilitas Pemerintah Indonesia.

Selama masa Orde Baru, CGI adalah sidang yang tertutup, angker, dan—entah mengapa—selalu diadakan di Paris. Baru setelah reformasi, tepatnya tahun 2000, CGI terbuka untuk publik dan diselenggarakan di Indonesia (dengan satu perkecualian: di Tokyo, tahun 2000). Salah satu indikatornya adalah diperbolehkannya organisasi nonpemerintah (ornop) masuk ke dalam sidang CGI, dan juga diadakannya forum konsultasi antara ornop, pemerintah, dan anggota CGI sebelum sidang dilaksanakan.

Setelah masa ini, apa dan bagaimana CGI berfungsi, makin lama makin jelas untuk publik.

Pertama, ternyata dana yang dibutuhkan Indonesia dari CGI tidak sebesar yang selama ini terjadi. Pada masa Orde Baru, utang dan pinjaman dari CGI antara 6 miliar dan 7 miliar dollar AS per tahun. Sejak tahun 2000, jumlahnya mengecil menjadi 3 miliar-5 miliar dollar AS per tahun. Hal ini karena ternyata Indonesia tidak bisa menyerap dana yang dikucurkan, yang menunjukkan penetapan jumlah utang tidak berdasarkan perencanaan yang tepat dan sering tidak sesuai dengan kebutuhan Indonesia.

Kedua, meski CGI adalah forum konsultatif yang setara antara Indonesia dan kreditor/donor untuk mendiskusikan berbagai masalah pembangunan, pada kenyataannya menjadi forum “laporan dari Indonesia kepada kreditor/donor”.

Hal itu terlihat dari agenda sidang dan dalam berbagai tanya jawab selama sidang. Agenda selalu berkisar pada keberlanjutan fiskal, mendorong investasi, dan tidak pernah mendiskusikan masalah penanggulangan kemiskinan dari segi kebijakan makro- ekonomi, apalagi pemerataan. Anjuran/peringatan agar Indonesia segera menjual berbagai aset, memprivatisasi berbagai BUMN, untuk mengatasi masalah finansial dan menerapkan berbagai regulasi yang membuka pasar dalam negeri selalu menjadi isu utama. Diskusi mengenai mencari pembiayaan alternatif, misalnya dengan pemotongan utang, tidak pernah menjadi agenda.

Jadi, meski ada pengakuan dari Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, beban utang luar negeri Indonesia amat berat pada kurun 2000-2002, tetapi rekomendasi yang diajukan adalah mencari utang baru yang persyaratannya lebih lunak (IDA), menjual aset negara, mengundang investor masuk, bukan mendiskusikan langkah-langkah awal pemotongan utang seperti apakah beban utang Indonesia saat itu bisa dikategorikan sustainable (terkendali) atau tidak. Selain itu, pihak kreditor/donor juga mempertanyakan berbagai hal yang menyangkut hak asasi manusia (HAM), lingkungan, pembalakan liar, pemberantasan korupsi, dan lain-lain.

Ketiga, tidak benar forum CGI menjadi tolok ukur kredibel atau tidaknya Pemerintah Indonesia. Kredibilitas Pemerintah Indonesia di mata internasional lebih ditentukan seberapa jauh Indonesia menegakkan HAM, memberantas korupsi, dan memerhatikan lingkungan.

Dengan demikian, keputusan Presiden untuk membubarkan CGI merupakan langkah politik yang menyatakan, Indonesia ingin berdiri sama tinggi dengan negara kreditor/donor dan lembaga keuangan internasional dan bebas menentukan kebijakan pembangunan dan kebijakan ekonominya sendiri.

Namun, banyak sekali yang harus dilakukan Pemerintah Indonesia untuk mencapai kesetaraan dan kemandirian ini.

Bernegosiasi secara bilateral bukan jawaban untuk mencapai kesetaraan dan kemandirian itu. Yang penting adalah persyaratan apa yang ditetapkan dan kemudian disetujui kedua pihak dalam negosiasi bilateral itu.

Apabila dalam negosiasi dengan tiga kreditor utama seperti disebut—Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia, dan Jepang—Indonesia tetap setuju dengan persyaratan atas penjualan aset, pencabutan subsidi, dan privatisasi, maka tetap saja sebenarnya Indonesia dirugikan.

Indonesia setidaknya harus mengajukan syarat, utang dan pinjaman yang akan dilakukan harus memenuhi syarat-syarat

internasional tentang aid effectiveness, yaitu kucuran dana untuk memenuhi kebutuhan Indonesia, bukan untuk belanja barang dan jasa dari negara kreditor, dan meminta bahwa utang/pinjaman harus merupakan untied loan. Sebagai imbalan, tentu saja Indonesia perlu memantau penggunaan dana dan memberantas korupsi.

Sedangkan kemandirian Indonesia perlu dilihat dalam seberapa independen Indonesia dalam menentukan kebijakan ekonominya. Akankah kebijakan fiskal kita berubah menjadi lebih pro poor dan pro job seperti yang selama ini diusulkan sehingga APBN kita bisa menjadi stimulus pembangunan? Atau, akankah kita mempertahankan kebijakan fiskal yang superketat seperti sekarang?

Kemandirian juga perlu dilihat pada seberapa banyak sumber pendanaan alternatif dilakukan. Akankah Indonesia maju dengan usulan pemotongan utang dan penggenjotan pajak yang kemudian dialokasikan untuk kesejahteraan rakyat?

Apabila ini semua tidak dilaksanakan, dikhawatirkan pembubaran CGI tidak akan banyak bermakna.

Binny Buchori Direktur Eksekutif Perkumpulan PraKarsa

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: