Pertemuan G-8; Ajang Pertemuan Negara Maju yang “Berjalan di Tempat”

Senin, 11 Juni 2007

kompas-cetak134

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/11/ln/3590805.htm

Usai sudah pertemuan Kelompok Delapan Negara atau G-8, Jumat lalu. Pada akhir pertemuan yang berlangsung dua hari itu, negara anggota G-8 sama-sama sepakat untuk menetapkan tujuan-tujuan yang bersifat tidak mengikat terhadap beberapa persoalan, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca, mengingatkan Iran akan program nuklirnya, serta memberikan bantuan yang lebih banyak untuk memerangi HIV/ AIDS, penyakit TBC, dan malaria kepada Afrika.

Meski banyak isu atau masalah yang dibahas, masih banyak persoalan yang tidak selesai, seperti nasib masa depan Provinsi Kosovo di Serbia yang sampai saat ini masih belum jelas. Meski banyak persoalan yang tidak selesai, Kanselir Jerman Angela Merkel justru menganggap pertemuan G-8 itu berlangsung sukses. Yang penting bagi Merkel adalah AS setuju—dengan pernyataan tertulis —untuk setidaknya menyadari betapa pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca.

“Memang wajar jika dalam dua hari ini semua persoalan di dunia ini tidak bisa selesai. Namun, setidaknya kita sudah membuat kemajuan,” kata Merkel saat pidato menutup pertemuan G-8 dengan anggota Jerman, AS, Jepang, Italia, Rusia, Inggris, Perancis, dan Kanada.

Dalam pertemuan dua hari itu, G-8 menjanjikan bantuan 60 miliar dollar AS untuk Afrika. Namun, janji bantuan itu tetap tak jelas. G-8 hanya menyatakan bantuan Afrika itu akan dikucurkan dalam “beberapa tahun mendatang”. Tidak ada kejelasan waktu. Bantuan Afrika itu pun sebenarnya sebagian dari 60 miliar dollar AS—30 miliar dollar AS—telah dijanjikan AS untuk lima tahun ke depan. Jadi, tak ada yang bantuan yang benar-benar baru.

Setelah bertemu para pemimpin Afrika, G-8 juga berjanji akan memenuhi janji bantuan yang telah disepakati dalam pertemuan G-8 sebelumnya dua tahun lalu di Gleneagles, Skotlandia. Pada saat itu, G-8 berjanji akan menambah jumlah bantuan ke Afrika sebesar 25 miliar dollar AS untuk setiap tahun hingga tahun 2010. Banyak pihak mengecam G-8 telah ingkar janji karena sampai sekarang janji itu belum juga terwujud.

Selain persoalan bantuan bagi Afrika dan isu pemanasan global, G-8 juga mengingatkan Iran agar bersedia mematuhi resolusi PBB dan kembali berunding. Saat ini Dewan Keamanan PBB (DK PBB) berencana untuk menambah atau memperpanjang sanksi DK PBB untuk ketiga kalinya.

Dalam kesempatan itu, Merkel menilai pernyataan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad tentang Israel baru-baru ini adalah salah satu alasan dan latar belakang DK PBB mengeluarkan resolusi itu. “Dalam pandangan saya, pernyataan dari Iran mengenai Israel itu sama sekali tidak bisa diterima,” kata Merkel.

Sikap Jerman itu diikuti oleh Perancis. Presiden Perancis Nicolas Sarkozy menambahkan, G-8 harus “mengirimkan pesan kuat kepada DK PBB agar bisa mempertegas sanksinya”.

Jalan buntu
Tak hanya isu pemanasan global, Iran, dan Afrika yang tidak jelas, tetapi masalah Kosovo pun tidak jelas. G-8 tidak bisa meraih kesepakatan saat membahas isu Kosovo. AS dan beberapa negara anggota Uni Eropa mendukung resolusi PBB yang akan memberi Kosovo kemerdekaan tetapi tetap dengan pengawasan. Kosovo telah berada di bawah pengawasan PBB sejak terjadi perang yang dipimpin oleh NATO pada 1999 yang bertujuan menumpas kelompok separatis etnis Albania.

Namun, Serbia tidak setuju dengan upaya PBB itu karena menganggap Kosovo sebagai wilayah yang bersejarah dan masih menjadi satu wilayah dengan Serbia. Karena itu, Serbia tidak bersedia untuk menyerahkan Kosovo. Rusia yang selama ini menjadi sekutu Serbia juga mendukung mengenai nasib Kosovo.

Menanggapi persoalan ini, Sarkozy menawarkan solusi. Namun, Rusia terlebih dahulu harus mau mengakui kemerdekaan Kosovo. Setelah itu, Rusia harus menunggu selama setidaknya enam bulan karena akan ada perundingan antara Belgrade dan etnis Albania di Kosovo. Jika pertemuan itu tidak mencapai kesepakatan, rencana PBB akan dilanjutkan.

“Tentang Kosovo, tidak ada kemajuan apa pun. Alasannya sederhana, tidak mungkin memberi Belgrade dan Pristina waktu yang lebih banyak untuk berunding mengingat sikap Rusia yang tidak setuju dengan kemerdekaan di Kosovo,” kata Sarkozy.

Perdana Menteri Kosovo Agim Ceku juga mengingatkan kepada Barat untuk tidak mengkhianati Kosovo. “Kami sudah sangat percaya dengan Anda semua untuk membawa kejelasan pada nasib masa depan Kosovo. Kami telah berkomitmen untuk tetap mengikuti jalur dan rencana PBB. Kami juga selama ini sudah bersikap sangat sabar untuk menanti hasil. Saya minta kepada Anda semua untuk tidak mengkhianati kepercayaan yang sudah kami berikan ini,” ujarnya. (AP/LUK)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: