Pembubaran CGI

Didik J. Rachbini
Senin, 29 Jan 2007

jp11

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=8093

Sejarah utang sudah melewati masa yang panjang dan melampaui masa lima kali pergantian presiden. Selama itu pula ketergantungan terhadap utang tidak pernah bisa dilepaskan, sehingga terasa sulit sekali membubarkan CGI, yangberperilaku mensubordinasi ekonomi politik dan kebijakan nasional.

Selama masih ada CGI yang mengulurkan utang yang menjerat dan nasihat-nasihat ekonomi kepada teknokrat Indonesia, selama itu pula kemandirian bangsa dalam kebijakan ekonomi dipertanyakan. Kekuatan untuk mandiri dalam bentuk keputusan melepaskan diri dari tradisi perumusan kebijakan di dalam CGI terasa sulit karena institusi itu sudah mendarah daging.

Jika terlepas, seperti ada yang kurang dari dalam sistem tubuh perekonomian nasional. Kesulitan mandiri lebih susah karena ada mitos ketika melepaskan diri dari Bank Dunia dan IMF, ekonomi nasional akan terpuruk citranya.

Keberadaan CGI dan ketergantungan utang sudah mirip dengan ketagihan candu yang memabukkan, selain sudah mendarah daging dalam sejarah ekonomi Indonesia. Buktinya, lembaga itu hidup lebih panjang daripada umur politik sejarah kepresidenan di Indonesia.

Tidak heran jika IGGI dan CGI berjalan sebagai lembaga yang menjadi bagian dari sistem ekonomi Indonesia, sejak zaman Presiden Soeharto ke Habibie, termasuk pada masa reformasi di bawah Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri. Kini kelembagaan itu dibubarkan, tetapi tidak menimbulkan resistensi yang nyata di dalam negeri.

Bahkan, itu keputusan kedua yang cukup berani setelah presiden memutuskan membayar lunas utang kepada IMF sejak masa krisis. Tim ekonomi diberi kebebasan menentukan arah kebijakan ekonomi setelah dua keputusan itu dilakukan.

Ada banyak argumen mengapa keberadaan CGI tidak diperlukan lagi dalam sistem perekonomian Indonesia. Pertama, penerimaan dari utang sudah semakin kecil dari tahun ke tahun. Yang tetap besar adalah pembayarannya dan itu menyedot anggaran yang begitu besar, sehingga tidak ada manfaatnya melakukan transaksi utang lewat kelembagaan yang merepotkan, seperti masa IGGI 40 tahun lalu.

Forum kolektif seperti IGGI dan CGI diperlukan jika kita memerlukan kekuatan kolektif untuk meningkatkan utang dan mengumpulkan komitmen utang yang lebih besar dari banyak negara. Kini setelah 40 tahun kita terjerembab dalam utang, kebijakan yang diperlukan adalah sebaliknya, yaitu memperkecil utang dari luar. Kekuatan dari dalam negeri sendiri dan sumber-sumber lain lebih diperlukan ketimbang memperbesar utang.

Kedua, CGI sebagai forum antarbangsa sudah tidak relevan lagi. Pada saat perekonomian Indonesia sudah jauh lebih matang dibanding 40 tahun lalu, adanya CGI menyebabkan kita dikeroyok dalam setiap pertemuan tahunan. Forum yang terdiri atas banyak negara akan mengakibatkan bergaining position Indonesia lemah.

Lemahnya daya tawar Indonesia dalam sistem perekonomian akan mengakibatkan pemerintah Indonesia sulit membangun karena banyak kontrol yang dilakukan negara-negara tersebut.

Ketergantungan dalam kebijakan publik seperti itu ditengarai menyebabkan Indonesia tidak bisa menjadi negara besar, yang mandiri dalam kebijakan ekonomi. China, Korea, Malaysia, dan banyak negara lain adalah negara-negara yang mandiri dalam menentukan kebijakan publik. Pembubaran CGI adalah refleksi sekaligus momentum memandirikan bangsa sendiri.

Ketiga, ketergantungan terhadap utang luar negeri adalah simbol kelemahan. Utang merupakan jalan pintas untuk “penyakit” perekonomian. Implikasi implementasinya sering menyimpang dan korupsi swasta bawaan donor dan implikasi pembayarannya sangat lama dan menyakitkan (painful).

Utang akan menyebabkan negara sulit mandiri. Dalam jangka pendek utang tersebut bisa membantu menyelesaikan suatu permasalahan, tetapi dalam jangka panjang akan menjadikan negara dilanda ketergantungan dan sulit berkembang. Mental para pejabat publik dan pengambil keputusan secara tidak langsung akan terbentuk menjadi mental inlander, yang pada akhirnya negara tersebut sulit terlepas dari kebiasaan meminjam utang (addict).

Untuk kasus Indonesia, tabiat haus utang dari para pengambil kebijakan dan watak cost maximizer birokrasi juga menular dan memicu utang swasta melalui kebijakan moneter mendongkrak suku bunga tinggi untuk menarik modal dari luar. Modal di dalam negeri dianggap tidak memadai sehingga harus menyerap dari luar. Tapi, kombinasi transaksi utang luar negeri pemerintah dan swasta akhirnya memicu krisis nilai tukar dan krisis ekonomi secara keseluruhan pada 1998.

Krisis kepercayaan dari luar akan timbul karena ekonomi Indonesia boros dan hidup di atas kemampuan produktivitas kolektif yang sebenarnya. Hal seperti itu tidak bisa diteruskan dan kesadaran kolektif di DPR sudah tidak lagi sama dengan kaum teknokrat di bawah Orde Baru dulu. Pembatasan utang sudah dicanangkan agar APBN tidak menderita dengan pembayaran utang, yang merupakan warisan masa lalu.

Keempat, selama ini CGI sebagai lembaga kreditor ikut terlibat secara tidak langsung maupun langsung dalam kebijakan ekonomi Indonesia melalui pertemuan tahunan dan menyelip di dalam transaksi utang tersebut. Lembaga itu lebih jauh kemudian merasa mempunyai wewenang ikut campur dalam pengaturan kebijakan. Hal itu sangat merugikan dalam suatu sistem perekonomian dan memperlihatkan kebijakan tersebut tidak independen.

Bisa dibayangkan jika dalam penyusunan kebijakan suatu negara ada pihak luar yang turut campur. Tentu pihak tersebut akan lebih mendahulukan kepentingannya dibanding kepentingan negara tersebut. Campur aduk kepentingan luar melalui utang itu dibantah, tetapi keterlibatan yang lama sekali sulit dielakkan bahwa kepentingan tersebut sangat abadi.

Kelima, utang Indonesia sebenarnya hanya kepada Jepang, ADB, dan Bank Dunia. Lakukan saja pendekatan bilateral kepada ketiganya, tidak perlu mengikutsertakan belasan negara dalam forum CGI dan Indonesia menadahkan tangan untuk meminta utang.

Didik J. Rachbini, ekonom dan ketua komisi VI DPR RI.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

2 responses to “Pembubaran CGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: