Manajemen ala Toyota

Roy Goni
Minggu, 30 Desember 2007

kompas-cetak142

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/30/Buku/4112235.htm

Reputasi Toyota sebagai perusahaan otomotif yang sangat istimewa dalam hal inovasi terbukti membawa perusahaan ini ke tataran perusahaan yang sangat “profitable” dan mengatasi sejumlah produsen otomotif dunia lainnya, seperti General Motor, Ford, DaimlerChrysler, dan Honda.

Keistimewaan Toyota terutama bersandar pada inovasi sebagai salah satu pilar yang paling kritikal dari keunggulan bersaingnya serta sistem pengembangan produk maupun filosofi desain yang berorientasi pada kualitas, cost reduction, dan kemampuan untuk menerobos pasar secara kreatif dan cerdas.

Bahkan, dalam majalah Fortune edisi Februari 2006 dikatakan, Toyota is becoming a double threat: the world’s finest manufacturer and a truly great innovator…that formula, a combination of production prowess and technical innovation, is unbeatable recipe for success….

Seperti lazimnya perusahaan Jepang pada umumnya, kehadiran Toyota ternyata tidak semata menjadi mesin uang, tetapi malah lebih daripada itu, Toyota ikut memberi kontribusi dengan pola pikir lean production, sebuah istilah yang ditampilkan dalam buku The Machine That Changed The World yang mengubah paradigma manufaktur mass production dari Ford. Bahkan, belakangan ini ekspresi yang lebih sering kita dengar tentang kiprah Toyota adalah pernyataan bahwa “Kami (Toyota) bukan hanya menghasilkan mobil, tetapi talenta yang berkualitas”. Setiap program pengembangan produk baru, setiap kualitas yang cacat dalam pabrik, dan setiap aktivitas kaizen merupakan peluang untuk mengembangkan talenta yang ada dalam perusahaan.

Manajer sekaligus guru
Ketika ditanya tentang apa tantangan yang terbesar sewaktu mengajarkan Toyota Way kepada para manajer Amerika, mantan Presiden Toyota Motor Manufacturing North America Atsushi Niimi mengatakan, “Mereka ingin menjadi manajer dan bukan guru.” Di Toyota setiap manajer harus menjadi seorang guru. Mengembangkan manusia-manusia unggul merupakan prioritas nomor satu di Toyota.

Memang tidak pernah terbayangkan bahwa cikal bakal Toyota yang digagas oleh seorang sederhana bernama Sakichi Toyoda yang bekerja di daerah pedalaman di Jepang dan sekarang ini dikenal sebagai Toyota City in Japan justru telah mengubah secara radikal wajah manufaktur yang selama ini ada. The Toyota Production System (TPS) menjadi salah satu landasan sangat penting dari keunggulan bersaing Toyota dan yang membuat Toyota mencetak prestasi yang konsisten sejak perang dunia ke-2 sampai sekarang ini.

Bahkan, pada tahun 1994- 2007, Toyota mampu menggandakan jumlah model mobil yang diproduksinya dengan tetap mempertahankan pengeluaran R & D sekitar 4 persen dari pendapatan. Sebuah prestasi yang telah menjadi bahan kajian yang tidak habis-habisnya oleh berbagai konsultan mancanegara dan sering kali dijadikan sebagai business case oleh berbagai perusahaan dari lintas industri. Tidak terhitung pula perusahaan yang mengopi TPS dengan harapan akan memperoleh daya saing serupa dengan Toyota.

Kalau ditelusuri, informasi tentang TPS secara luas telah ada sejak 30 tahun lalu, tetapi tidak satu pun perusahaan yang dapat sempurna menduplikasi keberhasilan Toyota. Apa rahasianya? Ternyata, penampilan yang luar biasa konsisten dari kinerja Toyota merupakan hasil dari keunggulan manusia yang ditunjang oleh sistem yang mumpuni bagi talenta-talenta yang ada dalam perusahaan tersebut. Adalah pengetahuan dan kapabilitas dari orang yang membedakan satu perusahaan dari perusahaan lainnya. Tetapi, pertanyaan yang selalu menggelitik adalah mengapa begitu sulit sekali mengopi Toyota?
Dalam bukunya Building the Bridge as You Walk on It, Robert Quinn menunjukkan bahwa tidak mungkin menduplikasi keberhasilan dari sebuah perusahaan lain hanya semata dengan melakukan imitasi pada tekniknya. Menurut dia, dalam mendiskusikan teknik, kita sering kali melupakan pentingnya relasional. Mungkin itu sebabnya banyak management fads yang gagal.

Orang cenderung melakukan imitasi pada teknik, tetapi gagal untuk menjalani dan menghayatinya dalam suasana seperti halnya yang dilakukan oleh sang penemu. Teknik memang bernilai, tetapi orang tidak dapat membuat teknik itu berguna kalau tidak tertantang dan didukung oleh proses pembelajaran sehingga teknik tersebut menjadi berdaya guna. Dilemanya adalah orang cenderung ingin cepat mengopi penampilan prima dari Toyota, tetapi mereka tidak mau bekerja keras untuk mengubah perilakunya dengan mereplikasi budaya dan infrastruktur yang ada di Toyota.

Pengembangan talenta
Dalam buku ini, Profesor Jeffrey K Liker, Direktur The Japan Technology Management Program, University of Michigan, dan David Meier, Presiden Lean Associate serta mantan Group Leader Toyota Manufacturing, selama 10 tahun, keduanya juga merupakan penulis dari buku best seller The Toyota Way, mengeksplorasi proses utama yang digunakan oleh Toyota sebagai sarana mengajar dan mengembangkan talenta.

Pengembangan talenta di Toyota semuanya berangkat dari core concepts dan filosofi yang dibangun dari TPS. Dari 14 prinsip TPS, ada enam prinsip dalam filosofi Toyota yang berhubungan dengan pengembangan manusia. Keenam prinsip ini merefleksikan pentingnya people management, seperti setiap keputusan manajemen harus berdasar pada filosofi jangka panjang sekalipun akan mengorbankan tujuan finansial jangka pendek.

Standardisasi proses merupakan landasan untuk perbaikan yang berkesinambungan. Setiap leaders harus memahami sepenuhnya pekerjaan dan menghayati filosofi serta mampu mengajarkannya pada yang lain. Kembangkan talenta yang istimewa dan tim yang mengikuti filosofi perusahaan. Jalinlah hubungan dengan pemasok dan selalu memberikan tantangan dan membantu mereka untuk perbaikan, Serta jadilah organisasi pembelajar melalui refleksi yang tiada henti dan perbaikan terus- menerus.
Di Toyota, kalau seorang manajer tidak mampu menciptakan suasana belajar, kinerja kelompoknya akan merosot. Toyota bekerja keras untuk menciptakan budaya di mana proses belajar mengajar sangat dihargai dan dilihat sebagai kunci sukses jangka panjang. Kenyataan seperti yang biasa kita lihat, manakala talenta tak dikembangkan dengan memadai, maka keseluruhan sistem akan menjadi pincang.

Melalui buku ini, kedua penulis mempunyai intensi untuk mengeksplorasi hubungan antara upaya Toyota yang tidak kenal lelah dalam pengembangan manusia dan hasil yang dicapainya. Rahasia kesuksesan Toyota terletak pada kenyataan bahwa Toyota hanya merekrut talenta yang terbaik.
Mungkin ada yang memperdebatkan apakah seseorang dilahirkan dengan talenta tertentu atau apakah talenta itu dibentuk? Pendirian Toyota jelas, berikanlah pada kami bibit talenta yang ada, kami akan menanamnya, memberikan pupuk, air, dan memelihara serta merawatnya, dan pada waktunya akan memanen buah-buah dari pekerja kami.

Analogi ini lazim di dalam Toyota karena kalau kita melihat ke belakang pendiri perusahaan ini berasal dari komunitas petani. Analogi ini juga mengajarkan pada kita bahwa sekalipun seorang petani yang cerdas memilih bibit yang baik, bibit itu tidak dengan sendiri akan tumbuh dengan baik kalau tidak ada upaya dan kerja keras untuk merawatnya.

Dan kunci sukses Toyota di sini adalah mengembangkan dan merawat talenta-talenta yang ada dalam sebuah atmosfer kerja yang menghargai proses belajar mengajar. Inilah learning point yang bisa kita ambil dari buku yang sangat inspirasional ini.

(Roy Goni, Pengajar Pemasaran pada Fakultas Ekonomi Unika Atma Jaya Jakarta)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: