Korporatisme dan Neolib

Muhammad Faishal, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik UGM
Rabu, 15 Nopember 2006

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=271805&kat_id=16

Di masa Orde Baru, kesetiakawanan sosial menjadi jargon yang sedemikian menggema untuk memperkuat interaksi dan saling peduli di antara individu dalam masyarakat. Kesetiakawanan sosial dimaksudkan untuk menggantikan peran negara dalam mengembangkan tanggung jawab pada sesama individu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Di dalamnya mencakup simpati, empati dan gotong-royong yang berlandaskan kepercayaan sosial.

Masih tingginya angka pengangguran di negeri ini memunculkan pesimisme bagaimana mungkin seseorang bisa menolong sesamanya ketika dia sendiri juga membutuhkan pertolongan? Bagaimana seharusnya peran yang diambil negara dalam rangka mencukupi kebutuhan dasar warga negaranya?

Sebenarnya, pemerintahan saat ini dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, memakai resep neoliberalisme (neolib) yang membiarkan kompetisi ekonomi pasar bebas. Kedua, memperkuat konsepsi korporatisme governance, yang memberikan harapan perilaku ekonomi dan politik negara bisa dikontrol oleh publik.

Infiltrasi neolib
Secara umum, ideologi neolib didasarkan pada kepercayaan ekonomi yang kuat untuk mempromosikan kebaikan umum yang diikuti oleh konsep pasar bebas dan kompetisi terbuka. Tokoh peletak dasar pemikirannya seperti Frederick Hayek menganjurkan pembatasan intervensi negara agar individu bebas berusaha mencapai kesejahteraan. Generasi penerusnya seperti Jefrey Sachs menyepakati bahwa gagasan neolib membawa pesan agar masing-masing individu bisa ‘tumbuh sejajar’ yang mempromosikan kesetaraan peluang dalam akses sosial ekonomi.

Infiltrasi neolib menggunakan berbagai medium di antaranya proses demokratisasi yang ditunggangi perubahan struktur ekonomi politik negara bersangkutan. Resep neolib yang dijalankan di Amerika Latin memakai pendekatan kebijakan sosial. Menurut Susana Sottoli (2000), resep ini mempunyai empat pilar yang sering dipromosikan Bank Dunia. Keempatnya adalah kompensasi bagi biaya sosial dalam rangka restrukturisasi makroekonomi, selektivitas pengeluaran biaya, privatisasi pelayanan dasar, dan desentralisasi sebagai tanggung jawab negara.

Terdapat indikasi kuat pemerintah telah mengadopsi resep yang dipakai di Amerika Latin satu dasawarsa lalu. Pemerintah memilih membiarkan kompetisi berjalan di semua arena tetapi dengan memberikan prioritas pada penguatan struktur ekonomi perbankan dan rezim finansialnya. Sementara pemerintah tidak bisa mengontrolnya secara ketat untuk menghidari kerugian pada sistem keuangan negara.

Alasan penghematan dengan pemangkasan subsidi dan menggantinya dengan pemberian kompensasi bukan solusi tepat. Selektivitas pengeluaran yang sedianya dimaksudkan untuk menambah jumlah tabungan pemerintah, bisa dilakukan dengan memperketat kontrol atas kebocoran proyek-proyek padat karya, sehingga tidak memancing kembalinya kelompok pemburu rente.

Sektor ekonomi mikro yang berpeluang besar untuk meningkatkan kinerja kelompok kecil menengah dan koperasi perlu perhatian lebih. Pemberian subsidi berkelanjutan di sektor ini lebih menjanjikan.

Dana-dana tersebut merupakan salah satu bentuk kompensasi biaya sosial yang bersifat sementara dan cenderung politis. Praktik tersebut kemungkinan besar akan mirip dengan Argentina semasa presiden Duhalde dari partai Peronist. Waktu itu, dia mencanangkan program jaring pengaman sosial yang disebut dana jefes. Namun indikasi kuat program yang bertujuan untuk mengurangi angka kemisikinan dengan pemberian uang cair ini hanya diberikan pada pendukung partainya.

Pembangunan Sosial
Ekonom peraih nobel ekonomi yang keluar dari Bank Dunia, Joseph Stiglitz (2002) melihat pembangunan merepresentasikan adanya transformasi dalam sebuah masyarakat. Dari yang tradisional menuju modern yang diikuti oleh melembaganya institusi publik yang kuat sehingga memfasilitasi munculnya korporatisme governance. Korporatisme model ini merupakan perpaduan kinerja dan saling berbagi tanggung jawab antara institusi politik dan publik dalam menghimpun sumber daya publik untuk diatur penggunaannya.

Korporatisme governance diperlukan sebagai katalisator dalam perbaikan pembangunan sosial. Untuk itu membutuhkan perangsang berupa penegakan aturan main yang terkontrol dengan baik. Pelibatan semua aktor dan agen dalam tarik ulur kompetisi pasar tidak menjadi soal jika didukung oleh peran maksimal dalam bentuk partisipasi publik dalam penentuan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Model ini lebih baik dan menguntungkan citra serta peran negara dalam melindungi kepentingan warga negaranya dengan memberikan hak sosialnya, daripada mengikuti resep neolib yang kurang bisa diterima.

Selama ini, pemerintah yang mengklaim publik diuntungkan dengan program-programnya dalam bentuk uang cair ternyata lebih konsentrasi memperhatikan sektor finansial berskala makro yang membiayai industri dan perbankan besar. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi yang terlihat menggembirakan tidak berbanding lurus dengan pembangunan sosial.

Proses produksi tidak banyak menyerap tenaga kerja, sementara konsumsi domestik tidak mampu menyerap keseluruhan hasil produksi. Teorinya, jika semua produksi bisa dikonsumsi dengan segera, maka segala macam perbaikan di sektor lain yang membutuhkan modal bisa dilakukan. Semua butuh kesejahteraan tetapi tidak semua mempunyai akses untuk mencapainya.

Tertutupnya akses individu dan macetnya redistribusi telah dilupakan oleh pemerintah sehingga kebijakannya, menyisakan angka kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan sosial yang tinggi. Penguatan korporatisme governance bisa disasarkan pada sedikitnya dua sektor yaitu ekonomi dengan memberi perlindungan maksimal pada produksi dan modal dalam negeri yang menyerap banyak tenaga kerja sekaligus menumbuhkan kerja sama lintas sektoral dengan lembaga ekonomi informal. Sudah saatnya pemerintah menyadari bahwa sejak neolib memberikan resep-resep pembangunan ekonominya, justru angka kemiskinan di dunia semakin bertambah.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: