Good Bye IGGI, Good Bye CGI

Adiwarman A Karim
Senin, 29 Januari 2007

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=280545&kat_id=15

Masih ingat IGGI? Intergovernmental Group on Indonesia adalah kelompok negara yang diketuai Belanda, bertemu setiap tahun untuk membantu pembangunan Indonesia yang selama periode 1967-1991. Diawali dengan keberhasilan Indonesia menggalang dukungan dan menegosiasikan utangnya kepada para kreditur dalam forum Paris Club, ketika itu dirasakan perlunya suatu forum antar pemerintah yang memberikan dukungan baik dana maupun pemikiran terhadap arah pembangunan Indonesia.

Sebagai penerima bantuan pemikiran dan juga tentunya pinjaman luar negeri, Indonesia dalam kurun waktu itu sudah sangat terbiasa menerima berbagai masukan. Indonesia menjadi semacam laboratorium yang lengkap bagi para ekonom manca negara yang tergabung dalam IGGI. Setiap tahunnya Indonesia menjabarkan rencana pembangunan dalam forum IGGI, untuk kemudian mendapat banyak analisa, masukan, dan arahan. Wajar saja jika ketika itu Belanda sangat vokal beropini terhadap pembangunan Indonesia dalam kapasitasnya sebagai ketua IGGI. Puncaknya ketika PM Belanda, Pronk, yang mungkin tanpa disadarinya mengingatkan sebagian orang akan zaman Hindia Belanda. Too much is too much.

Wajar pula jika menjelang Maret 1992, Indonesia memutuskan untuk tidak lagi memerlukan IGGI. Sebagai gantinya dibentuklah CGI (Consultative Group on Indonesia) yang anggotanya sama persis dengan IGGI, kecuali tanpa keikutsertaan Belanda. Enough is enough. Sejak itulah CGI menggelar pertemuan tahunannya.

Ketika krisis ekonomi menghantam Asia Tenggara sekitar 1996 dan imbasnya terasa dalam perekonomian Indonesia pada tahun 1997, opini-opini ekonomi CGI, khususnya IMF terasa sangat dominan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi Indonesia. Puncaknya ketika Indonesia menandatangani Letter of Intent (LOI) dengan IMF. Foto pimpinan IMF, Michael Camdesus, yang berlipat tangan menyaksikan Presiden Indonesia yang membungkuk menandatangani LOI, terasa menyinggung perasaan sebagian bangsa ini. Apalagi ketika ternyata resep IMF yang tertuang dalam LOI, malah membuat Indonesia makin terpuruk. Well, too much is too much. Tentu pemerintah telah melakukan kajian mendalam ketika akhirnya diputuskan kita tidak lagi memerlukan forum CGI.

Tentu kita telah belajar banyak dari peran IGGI dan CGI selama ini. Suka atau tidak suka, kita harus akui dengan jujur banyak pelajaran yang kita dapatkan dari forum IGGI dan CGI.

Ingat kisah Lukman tentang seorang ayah, anak, dan keledainya? Ketika mereka berdua berjalan membawa seekor keledai, kemudian seorang berkata betapa teganya si ayah tidak menaikkan anaknya ke atas keledai. Si ayah mengikuti saran itu, sampai kemudian seorang lainnya berkata betapa tidak pantasnya seorang anak membiarkan ayah yang telah berumur menuntun keledai. Si ayah mengikuti pula saran itu, sampai kemudian seorang lain berkata mengapa tidak dinaiki berdua saja. Si ayah mengikuti saran itu, sampai seorang lain berkata alangkah kejamnya mereka berdua. Akhirnya keledai itu digotong mereka berdua, sampai seorang lainnya berkata betapa bodohnya keledai hidup digotong.

Dengan menarik pelajaran dari manca negara melalui forum IGGI dan CGI, kita tidak perlu ‘reinvent the wheel’. Namun kitapun tidak mau seperti kisah ayah dan anak yang menggotong keledai hidup.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: