Globalisasi atau Global Holocaust?

Yusuf Burhanudin, Wakil Ketua DDII Timur Tengah
Selasa, 07 Nopember 2006

http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=270890&kat_id=16

Saat mendengar kata ‘global’, asosiasi kita langsung melanglang buana pada ide-ide manusia tanpa batas. Informasi tanpa batas, teknologi tanpa batas, geopolitik tanpa batas, demikian juga nasionalisme (nation state) atau bahkan agama.

Globalisasi tidak saja berhasil menyempitkan dunia menjadi global village, tapi juga membidani lahirnya embrio passing over agama dan ideologi sehingga melebur wujud menjadi apa yang diimpikan John Hick sebagai global theology.

Arus globalisasi selanjutnya meranggas lambat laun sebagai piranti lunak diseminasi informasi sekaligus propaganda budaya dan nilai. Alih-alih beranjak pada kondisi netral nilai, yang terjadi justru rentan dan sarat nilai di mana globalisasi selalu tidak murni dan bebas kepentingan.

Dominasi kapitalisme
Saat ini globalisasi benar-benar disokong penuh kapitalisme. Di mana informasi dan propaganda global pada gilirannya dikendalikan para pemegang modal. Pascakekuatan komunisme runtuh, bangkitnya paham kapitalisme telah menghadirkan dinamisasi global makro.

Kapitalisme merupakan bentuk produksi efektif yang memberikan keistimewaan berupa kekuatan untuk menganutnya. Kekuatan ini dapat digunakan mengurangi atau bahkan menghapus otoritas agama, politik, militer, dan kekuatan lainnya (Walters, 1995).

Globalisasi pada awalnya menghendaki partisipasi seluruh umat manusia dalam mewujudkan tujuan-tujuan mulia semesta kemanusiaan universal tanpa berpihak pada kekuatan dan ideologi apapun selain kesetiaan memegang teguh prinsip-prinsip kemanusiaan. Dominasi kapitalisme pada gilirannya menggeser paradigma globalisasi dalam rangka pemenuhan hasrat jangka pendek maupun ‘kepentingan jahil’ pihak tertentu.

Globalisasi berubah menjadi tarik-ulur kepentingan antara segelintir manusia raksasa (the giant authority) pemegang modal besar dan kuat kuasa dengan mayoritas manusia kecil yang tidak memiliki kapital apa-apa selain kekecewaan, ketidakpuasan, atau bahkan frustasi akibat ketidakadilan pihak lain. Kesadaran perlawanan kemudian menggema membentuk pemberontakan mapan yang biasanya berwujud aksi sporadis yang tidak sedikit harus menumbalkan korban dari pihak mereka sendiri.

Kelompok manusia kecil yang merasa teralienasi dan tereliminasi dari mainstream global itu, alih-alih mau menjadi partisipan resmi bagi berlangsungnya globalisasi. Karena terus-terusan mereka menjadi korban sepihak (victims mayority) pada gilirannya membuat mereka memapankan kembali perlawanan konservatif –melalui pendekatan konflik agama dan ideologi– sebagai modal dasar pemberontakan atas ketidakadilan global. Logika inilah yang akan menjelaskan tumbuh suburnya embrio gerakan terorisme, radikalisme, dan fundamentalisme abad modern ini.

Keterasingan dan ketakberdayaan di satu sisi dengan ketidakadilan global di sisi lain, berikutnya memaksa dua kelompok manusia tersebut membuat front berhadap-hadapan dalam suatu peperangan tidak terarah dan tanpa musuh yang jelas. Tidak disadari, kedua pihak terjebak dalam konfrontasi yang menistakan prinsip-prinsip kemanusiaan yang semula mereka kuduskan.

Peperangan dan pembantaian di abad ini, sesekali demi alasan demokrasi, atas nama globalisasi, bahkan dengan menyebut nama kemanusiaan sekalipun. Ironi! Ketimpangan telah membuat dua pihak sama-sama kalap: mengeduk kepentingan di satu sisi, melawan secara membabi buta di lain pihak. Globalisasi tak lain logika keuntungan bagi segelintir orang di satu sisi, tapi mesti dibayar pembantaian massal (global holocaust) di lain pihak.

Dampak global
Invasi Israel atas Lebanon yang baru saja usai, konflik Palestina-Israel, perang saudara di Irak, konflik Afghanistan, Darfour, Somalia, dan Chechnya termasuk beberapa contoh korban konflik kepentingan global yang sifatnya sesaat. Satu pihak mengajukan paksa proyek global berikut turunannya sebagai syarat mutlak yang harus diterima negara manapun. Sementara di lain pihak –apalagi masyarakat konservatif– meyakini bahkan mencurigai arus globalisasi sebagai ancaman nyata eksternal yang mewakili kepentingan-kepentingan lain berbau asing (the mind of the others).

Persepsi tersebut terbangun, bukan karena trauma perang negara berkembang dalam sejarah perlawanan saat mengusir penjajah, melainkan rasa muak menyaksikan terus-menerus politik ‘lain di bibir lain di hati’. Para pengusung globalisasi yang diwakili minoritas negara-negara pemegang kekuatan dominan di dunia, tidak saja gagal meneladankan perdamaian universal. Mereka juga menodai kesuciannya dengan ragam malapraktik hegemoni, intervensi, monopoli, dan standar ganda saat menyelesaikan konflik dunia.

Peleburan ideologi politik dan ekonomi lokal yang menjadi keniscayaan globalisasi (tempat kepentingan global bersemayam), hakikatnya bukan untuk kepentingan bersama seluruh manusia, tetapi selalu dirasakan demi segelintir manusia. Sikap pragmatis adalah pilihan paling selamat. Demi keuntungan besar, para penguasa negara berkembang rela jadi boneka kepentingan politik global negara-negara besar. Perselingkuhan politik lokal dan global pada dasarnya sama-sama menempatkan fungsi negara sebagai perusahaan kuasa yang menggarap lahan bisnis baru di bidang ‘properti kemanusiaan’.

Sudah saatnya globalisasi kembali pada khittah kemanusiaan dan perdamaian universal. Globalisasi menghendaki keterlibatan semua pihak secara partisipatoris dan bersama-sama guna mengentaskan setiap problematika kemanusiaan saat ini. Perang harus segera diakhiri, ia adalah pengkhianatan mutlak misi suci globalisasi. Semua pihak harus mengedepankan dialog, negosiasi, lobi, dan diplomasi terbuka serta sama-sama menghindari pendekatan kekerasan dan militerisme. Negara super power Amerika Serikat (AS) dan sekutunya, hendaknya mempertontonkan teladan keadilan dan keadaban universal sehingga globalisasi tidak berubah globalisme, yakni kepentingan global yang berpihak pada segelintir orang, negara, dan ras tertentu.

Punya daya tawar
Jika cukup keberanian, agenda di atas itulah yang mendesak dikemukakan sekaligus menjadi harapan bangsa kepada para pemimpin AS yang akan berkunjung ke negeri kita bulan ini. Semoga AS mau mendengar, sebelum segalanya terlambat dan nasi akhirnya menjadi bubur.

Walau bagaimanapun, AS termasuk negara super power yang paling bertanggung jawab atas perdamaian dunia saat ini. Kebijakan AS dalam memainkan peran ini menjadi pertaruhan penting untuk kian menambah kepercayaan dunia ataukah semakin merontokkan dukungan. Kristalisasi mosi tidak percaya pada AS, akan menjadi bumerang bagi AS sendiri.

Setelah menerima kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad beberapa waktu lalu, setidaknya Indonesia akan mengantongi opini berseberangan musuh bebuyutan dua negara yang cukup berpengaruh bagi stabilitas dan keamanan dunia itu. Indonesia berpeluang menjembatani keseriusan, kesungguhan, dan keinginan kedua belah pihak guna menciptakan perdamaian. Terkecuali, jika yang dikehendaki adalah kekacauan dan peperangan.

Ikhtisar

  • Globalisasi telah disokong secara penuh oleh kekuatan kapitalisme yang menggeser paradigma globalisasi dalam rangka pemenuhan hasrat jangka pendek maupun ‘kepentingan jahil’ pihak tertentu.
  • Kekuatan besar dalam globalisasi telah mengalienasi kekuatan mayoritas rakyat kecil.
  • Konfrontasi antara kekuatan besar dalam globalisasi dan kekuatan rakyat kecil yang teralienasi, banyak menistakan prinsip-prinsip kemanusiaan.
  • Sudah saatnya, globalisasi diarahkan untuk menjunjung tinggi perdamaian dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: