Bank Dunia Hardik G-8

Rabu, 12 Juli 2006

kompas-cetak125

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0607/12/ln/2804924.htm

Dipertimbangkan, Keanggotaan India, China, dan Brasil di G-8
addis ababa, selasa – Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz mendesak delapan negara industri anggota G-8 segera melaksanakan janji-janjinya tahun lalu untuk memberi bantuan dana pembangunan dan utang kepada Afrika. Menjelang pertemuan G-8, beredar isu dan spekulasi China dan India akan diajak bergabung ke G-8.

“Afrika adalah prioritas utama dan terpenting bagi kita. Karena itu, kita harus segera memenuhi semua janji yang pernah kita buat tahun lalu untuk Afrika agar terbuka kesempatan bagi rakyat Afrika yang miskin untuk mandiri dan keluar dari kemiskinan serta bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik untuk generasi selanjutnya,” kata Wolfowitz dalam pernyataan tertulis, Selasa (11/7), saat tiba di ibu kota Etiopia itu.

Selain berkunjung ke Etiopia dan enam negara di Afrika lainnya, Wolfowitz juga akan menghadiri pertemuan tingkat tinggi kelompok negara-negara industri G-8, 15-17 Juli, di Rusia. Wolfowitz berkali-kali mengingatkan para pemimpin anggota G-8, yakni AS, Jerman, Jepang, Perancis, Inggris, Italia, Rusia, dan Kanada, untuk tidak melupakan janjinya meningkatkan jumlah bantuan, perdagangan, dan utang-utang.

Atau lebih spesifik, pada tahun 2010 G-8 berjanji akan meningkatkan dua kali lipat bantuan untuk Afrika hingga mencapai sekitar 50 miliar dollar AS, meningkatkan perdagangan dengan cara menurunkan tarif, dan membatalkan utang-utang beberapa negara termiskin di Afrika. Sejauh ini, utang-utang 18 negara— mayoritas dari Afrika—dari Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional telah dihapuskan sejak tanggal 1 Juli lalu.

Wolfowitz menilai negara-negara termiskin di Afrika seperti Etiopia—yang sempat kacau karena krisis politik efek dari pemilu tahun lalu—termasuk “rekan yang penting” dalam upaya meningkatkan pembangunan di Afrika. “Kesejahteraan dan stabilitas keamanan di negara-negara termiskin seperti itu sangat penting bagi kawasan Afrika secara keseluruhan,” ujarnya.

China ikut hadir
Presiden China Hu Jintao akan menghadiri KTT G-8 atas undangan Presiden Rusia Vladimir Putin. Hu akan tiba di Rusia pada 17 Juli untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi tentang isu energi, keamanan, pencegahan dan penanganan penyakit epidemi, perkembangan Afrika, dan lain-lain.

Sebelumnya, pada 16 Juli, Hu dijadwalkan bertemu dengan pemimpin India, Brasil, Afrika Selatan, Meksiko, dan Republik Kongo.

Menjelang KTT G-8 itu beredar spekulasi tentang pertimbangan memperluas keanggotaan dengan mengikutsertakan Brasil, China, dan India hingga menjadi G-11 dan bukan lagi G-8. Ketiga negara itu dianggap penting karena pertumbuhan ekonomi mereka tengah berkembang pesat.

“KTT ini tidak akan ada gunanya saat membahas keamanan energi tanpa kehadiran India dan China. Mereka berpengaruh besar pada perkembangan harga pasar, konsumen sumber energi yang cukup besar, dan memiliki ekonomi yang berkembang cepat,” kata Igor Shuvalov, asisten utama Putin.

Alasan lain untuk melibatkan kedua negara itu, kata Shuvalov, adalah karena mereka telah siap mengembangkan sumber energi dengan tenaga nuklir, persoalan utama yang menjadi prioritas bagi kepemimpinan Rusia di G-8. Meski China bukan anggota resmi G-8, Hu pernah ikut hadir dalam dua KTT G-8 sebelumnya di Perancis (2004) dan di Skotlandia (2005). Para pengamat menyebutkan India kemungkinan besar akan diajak masuk ke G-8. Keikutsertaan China akan dipertimbangkan mengingat belum diberlakukannya demokrasi di China. Padahal, demokrasi itu yang selama ini jadi prinsip G-8.

Wakil Menteri Keuangan AS untuk Persoalan Internasional Tim Adams juga tahun lalu pernah mengusulkan kepada G-8 untuk mempertimbangkan keikutsertaan negara-negara berkembang ke dalam G-8.

Hal senada diutarakan John Kirton, pengamat Trinity College di Universitas Toronto. “Suatu saat nanti—mau tidak mau—G-8 harus membuka diri untuk menerima anggota-anggota baru. Kandidat yang jelas masuk itu India karena mereka sudah demokratis. Tanpa memandang masalah etnis, ketegangan etnis, dan kemiskinan, India terbukti sudah demokratis,” ujarnya.

India disebutkan Kirton akan bisa menyumbangkan “suara” lebih banyak dari Asia ke G-8. Asia dinilai sebagai benua yang saat ini tengah bangkit. “Kalau China itu masalah lain lagi. Akan makan waktu lebih lama bagi China untuk bisa bergabung dalam keluarga G-8 yang demokratis ini,” kata Kirton memperkirakan. (REUTERS/AFP/LUK)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: