“Omong Kosong” di Heiligendamm

Idayu Rai Ratnasari
Opini Publik, Thursday, 14 June 2007

kompas-cetak138

http://www.kr.co.id/article.php?sid=126967

”OMONG-KOSONG” 8 negara maju yang tergabung dalam G-8 telah usai. Hasilnya nyaris tidak ada. Forum negara-negara maju Jerman, AS, Jepang, Rusia, Italia, Perancis, Inggris dan Kanada itu bisa dikatakan tidak membuat kemajuan dari pertemuan periode sebelumnya.

Pertemuan 2 hari yang berlangsung di Heiligendamm, Jerman, telah berakhir Jumat (8/6). Meski begitu, Kanselir wanita Jerman Angela Merkel menyatakan pertemuan tersebut “sukses”. “Memang wajar, jika dalam 2 hari semua persoalan di dunia tidak bisa selesai. Namun paling tidak, sudah ada kemajuan” kilahnya.

Barangkali yang dimaksudkan Kanselir Merkel adalah, bahwa 8 negara maju itu telah sama-sama sepakat menetapkan tujuan-tujuan yang bersifat tidak mengikat atas beberapa persoalan, misalnya mengurangi emisi gas rumah kaca, mengingatkan Iran atas program nuklirnya, serta bantuan lebih banyak untuk memberantas HIV/AIDS, TBC dan Malaria kepada Afrika. Tentang masa depan propinsi Kosovo di Serbia, hingga pertemuan ditutup, masalahnya tetap menggantung.
Bagi kita Indonesia, negara berkembang yang terletak di kawasan tropis, masalah pemanasan global yang disebabkan antara lain oleh efek rumah kaca, tentulah sangat penting. Dalam kasus ini Kanselir Merkel menilai “ada kemajuan”. Menurut Kanselir Jerman itu, AS yang selama ini bandel dalam persoalan ini, telah “setuju” dengan pernyataan tertulis, untuk setidaknya menyadari, betapa pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca.

Disepakati, secara substansial, emisi gas rumah kaca hingga tahun 2050 akan dipangkas hingga separuhnya. Kesepakatan kompromistis ini dianggap merupakan rintisan pembuka jalan menuju Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCC) ke-13 yang akan diselenggarakan di Bali (Indonesia) pada Desember 2007 mendatang, menggantikan Protokol Kyoto yang hingga kini belum diratifikasi AS.

Seperti kita semua maklum, perubahan iklim akhir-akhir ini menjadi persoalan ekologis terpenting abad 21. Perubahan iklim yang menyebabkan naiknya permukaan laut, jadi ancaman serius penduduk kepulauan seperti Indonesia. Saat ini di planet Bumi kita ini ada 634 juta orang tinggal di pesisir pantai. Air laut diprediksi akan naik 60 cm pada tahun 2070. Bisa dibayangkan nasib saudara-saudara kita yang tinggal di pesisir pantai. Tsunami, banjir, air pasang, abrasi mengancam setiap saat. Tidak hanya itu. Ribuan pulau kecil di Indonesia akan tenggelam, lenyap dari peta bumi.

Diprediksi juga bahwa suhu Bumi akan naik 10 derajat Celcius. Setiap individu dipaksa beradaptasi jika ingin tetap eksis. Akan muncul kekeringan berkepanjangan, pola hujan tidak menentu, produksi pertanian merosot, stok air bersih terancam dan wabah penyakit bersimaharajalela.

Belum lagi prediksi konsentrasi CO2 di atmosfir bakalan naik. Emisi gas dari negara-negara maju saat ini bertambah dari beberapa negara lagi. Disebut-sebut, Cina, India, Brasil dan Meksiko memberi andil tambahan emisi gas. Persoalannya sekarang, bagaimana menjaga harmoni ekosistem global di tengah makin gencarnya penambahan emisi gas CO2 di planet kita ini.

Masalah nuklir Iran dan masalah Kosovo pun sebenarnya diperlukan penyelesaian yang bijaksana. Dunia perlu ingat, masalah Timur Tengah dan Israel bukan tidak mungkin bisa menyulut perang lebih besar menggunakan nuklir. Di samping itu, dunia juga perlu ingat, sengketa di kawasan Balkan di masa lalu telah menyulut Perang Dunia I (1914-1918). q – c. (1333-2007). * Idayu Rai Ratnasari SIP, Alumnus HI Fisipol UGM, Pengamat masalah internasional.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: