Tren; Meluruskan Kembali Fungsi Pusat Perbelanjaan

Kamis, 24 Mei 2007

kompas-cetak109

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/24/Properti/3544495.htm

Menarik mengamati pusat-pusat perbelanjaan modern di DKI Jakarta dan sekitarnya. Ia disebut sentra belanja, tetapi yang menjadi pilar awal dan kemudian dominan mewarnai arena belanja itu ialah restoran dan pusat jajan.

Tidak ada yang salah dalam hal ini. Tidak ada pula garis tegas bahwa resto tidak bisa menjadi faktor dominan mal dan ITC. Namun, hal yang perlu diketahui sesuai semangat yang digenggamnya, pusat perbelanjaan seyogianya didominasi oleh toko dan para pembeli. Artinya, yang menjadi tonggak mal atau plaza mestinya arena belanja, bukan pusat resto, kafe, dan kudapan. Bahwa tempat-tempat makan itu mewarnai pusat perbelanjaan tidak menjadi masalah.

Warna dominan pusat makan umumnya tampak di mal, plaza, atau ITC yang baru buka. Pusat perbelanjaannya sepi, tetapi kawasan tempat makannya ramai bak pertandingan Liga Inggris. Banyak juga toko yang sudah dibuka, tetapi “belum berarti” dalam jumlah. Yang memberi suasana hanya penyewa berstatus jangkar, seperti Sogo, Metro, Debenhams, dan Carrefour.

Apakah fakta di atas menjadi indikasi masyarakat malas berbelanja, tidak punya uang, atau publik enggan mengeluarkan uang karena uang kini makin sulit diraih? Atau adakah aspek lain, misalnya mal dan plaza sudah terlampau penuh di DKI Jakarta?

Banyak jawaban yang bisa diungkapkan untuk menguraikan anomali mal, plaza, dan ITC tersebut. Jawaban paling dekat ialah mal atau plaza belum dapat dikatakan jenuh di DKI Jakarta. Lihatlah berapa banyak mal di Kelapa Gading? Tetapi, para investor masih berani membuka mal baru. Mal di kawasan Senayan sudah banyak, ada Ratu Plaza, Plaza Senayan, pusat perbelanjaan dan olahraga STC. Namun, Grup Agung Podomoro dan kawan-kawan masih berani membangun Senayan City di seberang Plaza Senayan.

Para pengamat properti berdebar menunggu babak keras kompetisi antara Plaza Senayan dan Senayan City sebab semua tahu Plaza Senayan salah satu plaza dengan konsep terbaik di Indonesia. Pengunjung plaza ini sangat padat dan variatif. Maka, jika ingin survive (bertahan), mesti “mengalahkan” atau sebutlah berjalan sejajar dengan Plaza Senayan.

Tidak ada jalan lain, Senayan City harus menawarkan konsep cerdas yang diterima semua pihak. Tetapi, Senayan City ternyata sukses. Dalam tempo setengah tahun sudah mampu menyedot banyak pengunjung. Praktis, Senayan City menjadi fenomena baru pusat perbelanjaan di Indonesia.

Ke depan, DKI Jakarta mengarah seperti Hongkong dan Singapura. Satu mal bisa berhadap-hadapan atau bersebelahan dengan mal lainnya. Dan “gilanya”, pengunjung tetap berjubel. Ini tentu sangat berbeda dengan kejadian sekian tahun silam. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak akan mengizinkan mal berdekatan, khawatir terjadi sikut-sikutan antarpengelola mal.

Jawaban lainnya, kini berkembang fenomena baru di masyarakat, yakni suka makan di luar rumah. Mal dipandang sebagai tempat rekreasi, ruang untuk membanting kejenuhan dan menghirup kesegaran. Lalu, sambil berekreasi, warga mencari makan yang mengasyikkan. Jadilah mal sebagai panggung besar untuk makan. Adapun pusat perbelanjaan menjadi nomor dua, tiga, atau empat.

Tidak percaya? Datanglah ke mal-mal terkenal di Jakarta. Berapa di antara mereka yang masuk toko dan keluar toko membawa belanjaan? Lalu, berapa di antara pengunjung yang masuk mal dan masuk ke resto, kawasan kudapan, dan pusat jajan?

Perbandingannya bisa jadi seperti ini: 1-6 atau 1-7. Satu orang masuk tempat belanja (belum tentu membeli) dan enam atau tujuh orang masuk ke tempat makan (hampir semuanya makan). Dengan kondisi seperti ini, apa yang perlu dilakukan? Apakah perlu menyetop atau sangat selektif mengizinkan pembangunan mal baru?

Melihat hal ini, analis properti Panangian Simanungkalit menyatakan, kecenderungan pembangunan mal di Indonesia memang agak bergeser. Penempatan ruang menjadi lebih variatif.

“Sekarang, pengembang berikhtiar meramaikan malnya lebih dulu melalui entertain (hiburan), restoran dan kafe bermutu,” ujar Panangian. “Ini bukan kekeliruan atau fenomena yang menyimpang. Ini hanyalah anomali yang unik. Tetapi, sejauh ini semuanya sah-sah saja.”

Panangian menambahkan, selain restoran, pengembang mal berusaha sekuat tenaga menghadirkan kafe-kafe yang menjadi simbol golongan menengah ke atas, misalnya Starbucks Coffee atau Coffee Bean. Lalu, ada beberapa kafe yang mengkhususkan diri pada donat, makanan-minuman barat, dan sebagainya. Kehadiran kafe-kafe itu memperkuat fondasi mal sebab mendatangkan pengunjung.

Definisi ulang
Agaknya, jalan paling damai bagi pengembang mal atau plaza adalah mendatangkan pengunjung sebanyak-banyaknya. Sangat ideal jika pengunjung itu datang dan berbelanja, tetapi kalau mereka belum berbelanja “tak apalah”. Yang penting mal ramai. Ketika pengunjung hiruk itulah, kehadiran restoran, kafe, dan pusat kudapan menjadi sangat bermakna. Dari main ke restoran atau kafe, pengembang berharap pengunjung hijrah ke toko-toko atau ke wilayah penyewa utama.
Akan tetapi, terlepas dari strategi untuk tetap survive ini, pengembang perlu memikirkan formula lain yang efektif. Hal ini karena mendatangkan pengunjung dengan strategi di atas pada saatnya akan jenuh juga. Atau pengembang perlu mendefinisi ulang kehadiran mal dan plaza itu sebetulnya untuk apa. Apakah toko sebagai pusat perbelanjaan masih strategis untuk mal.

Formula yang kiranya baik dipikirkan ialah merancang mal yang elok sebagaimana dilakukan beberapa kota, di antaranya Singapura, Dubai, Qatar, Melbourne, Sydney, dan Kuala Lumpur. Mal dilengkapi fasilitas kelas dunia yang akan mendatangkan pengunjung secara luar biasa sebagaimana tampak di The Emirates, Dubai. Di mal ini di antaranya terdapat pusat perbelanjaan kebutuhan sehari- hari terbesar di dunia, delapan arena rileks, lapangan arena ice skating, dan sebagainya.

Singapura melakukan hal yang sama dengan menghadirkan Vivo City. Fasilitas Vivo tidak bisa dibandingkan dengan The Emirates yang luar biasa keren. Kendati demikian, Vivo mampu menarik ribuan pengunjung per hari karena menawarkan fasilitas bermain untuk semua umur.

Fasilitas yang sangat menggetarkan ini mampu merangkul pengunjung. Pendatang di mal atau plaza pun pada akhirnya bukan hanya makan, menyeruput teh earl grey, minum kopi, atau asal nampang, tetapi dengan tujuan lebih jelas dan keren.
Untuk sampai di sini, para pengembang harus mengubah paradigma berpikir tentang sebuah mal baru dengan membangun mal yang sesuai harapan. Jalan panjang ke arah itu selalu terbuka lebar. (Abun Sanda)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: