Survei, Masyarakat Jogja Boros; 100 Persen Pendapatan Dibelanjakan

Jumat, 21 Sept 2007

jp10

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=173055&c=85

JOGJA – Berdasarkan penelitian Fakultas Ekonomi UII, masyarakat Jogja memiliki budaya boros yang sangat tinggi. Nilai konsumsi masyarakat di daerah ini bisa mencapai 100 persen, bahkan lebih dari total pendapatan yang dimiliki. Penelitian dilakukan terhadap 400 sampel, 100 di antaranya mahasiswa yang tinggal di Jogja.

“Masyarakat Jogja memiliki budaya konsumtif yang sangat tinggi dibandingkan daerah lain. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan rumah tangga saja, tetapi juga mahasiswa,” jelas Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (P3EI) Fakultas Ekonomi UII Priyonggo Suseno kemarin.

Menurut Priyonggo, survei juga menyebutkan bahwa sebagian besar masyarakat tidak mampu membedakan mana kebutuhan primer dan sekunder. “Mereka menganggap sama antara kebutuhan primer dan sekunder,” ujarnya.

Kondisi itu membuat masyarakat tidak memiliki manajemen keuangan yang bagus. Dalam sebulan rata-rata sampel tidak memiliki rancangan kebutuhan yang harus dibeli. “Kebutuhan serba mendadak dan tidak ada skala priporitas. Tidak adanya manajemen keuangan dan rancanagn membuat mereka cenderung boros,” tambah Priyonggo.

Dikatakan, budaya menabung masyarakat Jogja juga lemah. Sebab semua pendapatan yang dimiliki habis dibelanjakan kebutuhan hidup. “Hampir 100 persen pendapatan dibelanjakan, bahkan lebih. Dan mereka harus kredit.”

Angka kredit konsumsi masyarakat Jogja, menurut Priyonggo, juga tinggi. Hanya mereka tidak mengajukan kredit konsumsi di sektor formal. “Mereka berutang bukan di bank, melainkan kepada tetangga, saudara ataupun kantor,” ungkapnya.

Masyarakat paling banyak membelanjakan untuk sektor komunikasi atau pulsa. “Bahkan untuk membeli pulsa, terkadang seseorang melupakan kebutuhan pokoknya,” ujar Priyonggo. Hal ini, lanjutnya, yang harus diubah dalam budaya masyarakat khususnya pengelolaa keuangan.

Dipaparkan perencanaan tidak hanya terkait pengeluaran uang, tetapi juga bagaimana merencanakan bagaimana nasib ahli waris. Dalam membantu masyarakat merencanakan keuangannya, P3EI FE UII menghadirkan dua lembaga yang berkompeten dan memiliki reputasi tinggi dalam keuangan Islam. Yakni Panin Life Syariah dan Asuransi Takaful Keluarga. “Kedua lembaga ini akan kami launching hari ini. Kami siap membantu masyarakat untuk memenej keuangannya secara hemat,” tegas Priyonggo. (lai)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Survei, Masyarakat Jogja Boros; 100 Persen Pendapatan Dibelanjakan

  • heri

    Jika masyarakat tidak mampu membedakan mana kebutuhan primer dan sekunder ya bahaya. Rata-rata perusahaan keluarga di Indonesia bertahan sampai generasi ke-2 sebab gagalnya pembelajaran finansial. Ya lengkaplah sudah jadi bangsa paria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: