Produk Lokal untuk “Wisata Belanja”

SUSI IVVATY
Minggu, 25 Maret 2007

kompas-cetak108

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0703/25/hiburan/3404240.htm

Apa pun yang menimbulkan hasrat pemirsa untuk merasakan atau memiliki sesuatu seolah dapat terpenuhi lewat televisi. Setelah menyuguhkan acara liburan, muncul program untuk memanjakan lidah. Kini, pemirsa pun bisa memenuhi hasrat berbelanja lewat Wisata Belanja.

Bagi sebagian pemirsa, di tengah kesulitan membagi uang belanja keluarga untuk kehidupan sehari-hari, keberadaan Wisata Belanja bisa menjadi pemenuhan hasrat berbelanja keperluan sekunder. Menonton saja terasa sudah memiliki barang yang ditampilkan acara itu.

Wisata Belanja yang mulai ditayangkan Trans 7 pada 4 Februari 2007 agaknya cocok untuk memenuhi hasrat berbelanja pemirsa, terutama kalangan menengah. Produk yang ditampilkan dalam acara ini bisa dikatakan keperluan sekunder, seperti tas dan perhiasan.

Namun, bagi sebagian pemirsa yang berduit, tampilan barang semacam itu sekadar tambahan informasi. Ditilik dari harganya—puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah—agaknya sulit untuk memenuhi selera mereka akan keperluan sekunder. Bagaimanapun, barang keperluan sekunder bagi sebagian kalangan menengah-atas berkait erat dengan gengsi. Semakin mahal dan bermerek barang yang dimiliki, akan menunjukkan “kelasnya” dalam pergaulan sosial.

Produk yang ditawarkan Wisata Belanja relatif beragam, mulai dari kerajinan tangan seperti gerabah, aksesori rumah, hingga tas, sepatu, mainan anak, penganan, sarung, dan kain bordir.

“Barang apa pun kami liput, asalkan produk lokal yang punya potensi berkembang sampai yang sudah ekspor,” kata Produser Wisata Belanja, Selo Ruwandanu. Maka, tampil dalam acara itu kerajinan gerabah dari Kasongan, Yogyakarta, sampai kain berbordir dari Fathimah Sayuti di Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Relatif murah
Wisata Belanja, kata Selo, bertujuan meluaskan pasar produk lokal di suatu daerah. “Kami ingin menumbuhkan daya beli pemirsa terhadap produk dalam negeri.”

Ia mengakui, program ini mendorong pemirsa untuk berkonsumsi. “Tetapi, siapa yang membeli produk lokal kalau bukan kita sendiri,” kilahnya.

Dia mencontohkan, dalam episode Yogyakarta, produk yang ditampilkan adalah hiasan kerang berharga relatif murah. “Perajinnya adalah korban gempa bumi dan tempat produksinya hancur. Dia sampai membuat produk itu di tenda darurat,” ujarnya.

Boleh saja menawarkan program dengan tujuan ideal, namun eksekusi atau kemasan acara belum berhasil menggambarkan tujuan itu. Wisata Belanja yang melibatkan pembawa acara Fera Feriska dan Fathir Muchtar tak lebih dari sekadar program hiburan: jalan-jalan sambil berbelanja. Ini berbeda dengan Success Story yang penggambarannya jelas dan inspiratif.

Dengan audience share (jumlah pemirsa pada jam tayang tersebut) berkisar 6 persen-7 persen, acara yang ditayangkan tiap Minggu ini akan ditambah jam tayangnya menjadi setiap hari, Senin sampai Jumat, mulai Mei 2007. Duh, nikmatnya berbelanja….

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: