KONSUMTIVISME; Tantangan Agama-agama dan Ekofeminisme

Maria Hartiningsih dan Ninuk M Pambudy
Senin, 22 Januari 2007

kompas-cetak107

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/22/swara/3261173.htm

Semua agama besar saat ini menghadapi tantangan yang sama, yakni konsumtivisme dan materialisme, agama pasar yang menjadi agama global dan merangkul semua agama tradisional. Inilah salah satu tantangan yang membuat agama tak boleh melupakan kemanusiaannya.

Demikian salah satu penekanan Prof Rita M Gross, PhD, ahli kajian agama dari Universitas Wisconsin di Eau Claire, Amerika Serikat, dalam kuliah umum mengenai ekofeminisme dan agama, di Jakarta, Jumat (19/1).
Kuliah umum yang juga menghadirkan Prof Nawal Ammar, PhD, etnokriminolog dan ahli hukum Islam dari Universitas Kent di Ohio, AS, itu diselenggarakan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.

Pendekatan esensialis dan analisis dualitas tidak dapat menjawab persoalan tersebut. Pendekatan esensialis mengklaim perempuan memiliki hubungan yang khusus dengan alam, dan merayakan pengalaman perempuan yang kerap dikesampingkan oleh kultur dominan laki-laki dan agama.

Keunikan itu “berdekatan” dengan klaim bahwa perempuan superior dibandingkan laki-laki, lebih damai dan lebih peduli pada yang lain. Namun feminis dan ekofeminis lain, termasuk Gross, bersikap skeptikal, bahkan tidak nyaman atas klaim- klaim tentang superioritas perempuan.

Sedangkan analisis dualitas yang membuat dikotomi-dikotomi, termasuk “baik” dan “buruk”, justru memperkeruh persoalan. Ada hal fundamental yang menghubungkan keduanya dibandingkan yang memisahkannya dan keduanya bisa bertukar posisi dengan mudah.

“Teman bisa menjadi musuh, musuh menjadi teman,” ujar Prof Rita M Gross, memberi contoh.

Pendekatan Buddhisme, menurut Gross, menolak pandangan dualitas, seperti dalam pendekatan ekofeminisme, sekali pun beberapa prinsip ekofeminisme cocok dengan pandangan Buddhisme.

Prinsip itu adalah tuntutan ekofeminisme terhadap analisis yang integral dari penindasan dan ketidakadilan sosial, di mana isu jender, ras, kelas, etnisitas, dan degradasi lingkungan berkait-kait dan merupakan bagian dari sistem yang lebih besar dari dominasi. Namun karena pendekatan yang nondualistik itu, istilah “keadilan” dan “penindasan” tidak mudah memasuki diskursus Buddhis.

Dualitas
Lalu apa yang menyebabkan konsumtivisme mencapai puncak keberhasilannya?

Ajaran Buddha, menurut Gross, memiliki jawaban yang singkat: keserakahan, satu dari tiga racun yang menyebabkan kesengsaraan di dunia. Para Buddhis akan melihat keserakahan secara lebih dalam, bagaimana ia bekerja dan bagaimana pemahaman itu memberikan penangkal pada keserakahan.

Alih-alih menjadi sumber kebahagiaan, seperti maksud Adam Smith, pencetus teori ekonomi dari Inggris pada abad ke-18 itu, ajaran Buddha mengklaim bahwa keserakahan dan keinginan tak akan pernah terpuaskan. Itulah sumber kesengsaraan. Sementara itu, ekofeminis cenderung memfokuskannya pada keserakahan “mereka” yang menyebabkan penderitaan “saya”, melanjutkan analisis dualistik yang sering digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Konsumtivisme adalah “anak kandung” kapitalisme neoliberal yang mengglobal dan mengacu pada dominasi ekonomi korporasi-korporasi transnasional, didukung seperangkat kebijakan oleh Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia.

Klaim ekofeminis dan aktivis lain adalah bahwa ekonomi global yang menjanjikan peningkatan standar hidup itu berarti perdagangan bebas dan inovasi pertanian yang menyebabkan kemiskinan absolut bagi sebagian besar penduduk bumi dan hanya memberi manfaat bagi sekelompok kecil orang.

Kesehatan ekologis Bumi dihancurkan sehingga membuat kehidupan semakin sulit bagi si miskin. Karena itu, aktivisme menolak globalisasi ekonomi lebih banyak terjadi di dalam lingkaran ekofeminis dibandingkan yang lain.

Analisis etika Buddhis, menurut Gross, terlalu menitikberatkan pada karma individual. Meski demikian, ia menyatakan pentingnya memikirkan isu-isu sosial, dan cara-cara yang dikonstruksikan lembaga-lembaga buatan manusia yang menyebabkan penderitaan serta cara-cara kolektif untuk mengubahnya.

Menarik disimak pertanyaan Rektor STF Dr Sudarminta SJ tentang bagaimana agar dualitas tak terjatuh pada dualisme. Dalam dualitas, perbedaan—misalnya antara pencipta dan ciptaan—tidak dipertentangkan sehingga tidak jatuh pada monisme pantheistik maupun monisme materialistik.

Sudarminta juga mempertanyakan prinsip-prinsip ekofeminisme dalam cara pandangan Gross yang seakan-akan tak bisa diselaraskan dengan monoteis yang transendental.

Tak hanya material
Konsumtivisme tak hanya mengacu pada hal-hal yang material. Menjawab pertanyaan tentang seberapa besar bahaya konsumtivisme agama dibandingkan konsumtivisme material, Nawal Ammar menjawab, pada prinsipnya keduanya bersumber pada satu hal yang sama: keserakahan.

“Konsumtivisme agama mengacu pada hal yang terlihat secara fisik, membangun banyak rumah ibadat yang besar dan megah, memakai simbol-simbol luar yang sebenarnya juga memberi makan pada kapitalisme,” ujarnya.

Dalam kuliah umumnya, Nawal menyatakan beberapa prinsip ekofeminisme sejalan dengan Islam, dan beberapa prinsip lainnya tidak sejalan. Namun, pada dasarnya gagasan umum tentang deep ecology yang sebenarnya lebih menyangkut pemahaman budaya tentang ekologi, dalam beberapa hal, sejalan dengan Islam.

Dijelaskan juga pandangan ekofeminis mengenai dominasi terhadap Bumi yang terkait secara langsung dengan faktor-faktor budaya, psikologi, dan ekonomi sehingga menciptakan hierarki yang mendominasi dan menindas perempuan. Implementasi ekofeminisme, menurut Nawal, mencakup kesetaraan akses, meningkatkan kondisi hidup dan menjaga hak setiap makhluk hidup, menjaga harmoni semua komunitas, mengurangi dan menghapuskan perlakuan keji terhadap makhluk hidup, menghormati keberagaman dan sumbangan dari semua makhluk hidup, serta meregulasi kependudukan.

Nawal juga menjelaskan tentang perkembangan feminisme mulai dari gelombang pertama sampai yang terakhir, yang tak lagi mengandung hanya prinsip- prinsip feminisme Barat, melainkan mencakup persilangan antara jender, kelas, ras, dan etnisitas.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: