Konsumtivisme; Hari Sudah Malam, Sulis Masih Belanja…

LUSIANA INDRIASARI
Minggu, 17 Juni 2007

kompas-cetak111

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/17/UTAMA/3602962.htm

Belanja kok dirayakan sebegitu khusus. Bahkan ada lomba belanja segala. Akan tetapi, itulah realitas zaman ini. Sejak lama para pemikir post-modernis menengarai: acara hari Minggu adalah ke mal—yang menjadi semacam “katedral” masyarakat masa kini.

Waktu sudah mendekati tengah malam di Singapura, pekan terakhir Mei lalu. Di depan pusat perbelanjaan Paragon di Orchard Road, pasangan suami-istri dari Jakarta tergopoh-gopoh masuk pusat perbelanjaan itu, meski di tangan keduanya sudah berendeng kantong belanjaan. “Masih belum dapat baju untuk anak perempuan saya,” kata si perempuan, yang bernama Sulistyani.

Mereka adalah wisatawan asal Indonesia, yang di mana-mana sudah dikenal kegemaran belanjanya. Kesempatan belanja hingga tengah malam, sampai pukul 24.00 ini, pasti tak mereka sia-siakan.

Belanja sampai tengah malam adalah bagian dari program Great Singapore Sale (GSS), yang digarap serius oleh negara tetangga itu sejak 14 tahun lalu. Yang memotori GSS adalah Singapore Tourism Board (STB), Singapore Retailers Association (SRA), dan The Association of Shopping Centres (TASC).

GSS ini dipromosikan besar- besaran, antara lain dengan jumpa pers, mengundang wartawan termasuk dari Indonesia (Kompas ke situ atas undangan STB). Selain itu juga ada acara kuis untuk masyarakat, yang pemenangnya mendapat hadiah kemewahan, diongkosi untuk berbelanja.

“Jumlah wisatawan Indonesia tertinggi dibandingkan negara lain,” ucap Hoe Teck Wei, Area Director STB. Berdasarkan data STB, sepanjang tahun 2006 tercatat 1,92 juta wisatawan Indonesia dari jumlah total 9,7 juta wisatawan. Pada saat GSS digelar tahun lalu, selama delapan minggu tercatat 360.000 wisatawan Indonesia datang ke Singapura. Masih menurut data STB, diperkirakan setiap orang Indonesia rata-rata mengeluarkan 800 dollar AS (sekitar Rp 7 juta) untuk berbelanja dan makan. Itu belum termasuk biaya transportasi dan penginapan. Sebuah angka mencengangkan, untuk negeri yang tengah bangkrut dan terpuruk menjadi negeri miskin.

Langsung enak
Sebenarnya sudah lama terdapat spekulasi pemikiran di Barat bahwa pengalaman bersama masyarakat masa kini berakar pada konsumsi, bukan produksi. Di tempat di mana Revolusi Industri meledak, yakni di Inggris, relasi dan pengalaman di antara individu tidak lagi dikarenakan kesamaan dalam proses produksi, bekerja di pertambangan, pabrik tekstil, kapal, dan lain-lain seperti zaman dulu. Identitas kultural berikut pengalaman kolektif mereka kemudian adalah pada mengonsumsi.

Di masyarakat negara berkembang—dan miskin pula seperti Indonesia—terjadi proses serupa. Bedanya, di sini bahkan pengalaman industrial itu belum pernah terlewati. Pendeknya, dari menggembala kerbau langsung ke dunia konsumsi.
Maka, alangkah mencengangkan berbelanja di negeri tetangga yang sedang menyelenggarakan diskon besar-besaran. Sebuah mal di Raffles Boulevard, misalnya, menawarkan potongan harga tambahan bagi yang berbelanja minimal 150 dollar Singapura (sekitar Rp 900.000). Masih ada hadiah lagi berupa voucher taksi dan voucher-voucher lain.

Ada pula mal yang menawarkan voucher makan di tempat mewah berikut relaksasi di sebuah spa untuk nominal pembelanjaan tertentu. “Jadi kalau capek berbelanja bisa langsung masuk spa,” kata Tonzah Selamat, warga Singapura yang menjadi pemandu wisata. Pokoknya, langsung enak…. Belanja memang bukan sekadar membeli produk. Program GSS juga melibatkan pusat-pusat kebugaran, klinik kecantikan, pusat relaksasi (spa/pijat/yoga), dan lain-lain.

Kata penyelenggara, agar tidak membosankan, kegiatan belanja juga dikemas bersama- sama kegiatan lain, misalnya Singapore Art Festival (ada “art” atau “seni”, biar terkesan berbudaya). Festival tersebut berlangsung bulan Mei sampai Juni, yang akan disambung dengan festival makanan, dari bulan Juni sampai Juli.

Singapore Art Festival menyuguhkan lebih dari 30 acara seni budaya dari berbagai negara, mulai dari seni tradisional sampai modern. Sedangkan festival makanan menyuguhkan beragam makanan khas Singapura dan makanan internasional.
“Ini sebuah strategi agar orang yang datang ke Singapura tidak melulu berbelanja, tetapi bisa makan enak dan mendapat hiburan,” kata Hasan Kassim dari STB wilayah Indonesia.

Lebih mahal
Dari sisi barang-barang yang bisa dikonsumsi, seperti apakah sebenarnya barang-barang di Singapura itu? Pada era globalisasi seperti sekarang, tentu saja barang-barang di situ tak banyak bedanya dengan yang ada di Jakarta atau di kota besar mana pun di dunia.

Wiwiek (42), dari Medan, mengaku lebih memilih belanja di Kuala Lumpur, Malaysia, dibandingkan dengan di Singapura. Perempuan yang bekerja di bidang pariwisata itu membandingkan, harga di Singapura lebih mahal dibandingkan dengan di Kuala Lumpur.

Sementara Banjabi (70-an), pengusaha keturunan India yang tinggal di Jakarta, mengatakan, beberapa produk lebih murah di Jakarta. Bahkan, katanya, pedagang di Singapura sering membeli produk pakaian di Jakarta kemudian menjualnya lagi di Singapura.

Ketua Asosiasi Peritel Indonesia Handaka mengatakan bahwa barang-barang di Indonesia sebenarnya tidak kalah dibandingkan dengan Singapura. Bedanya, Singapura mampu mengemas wisata belanjanya dengan baik.

Lepas dari itu, sifat dasar dari dunia konsumsi, dunia gaya hidup, memang pada hal-hal permukaan, bukan pada isi. Orang lain diandaikan bakal terkesan terhadap seseorang bukan pada “isi” orang itu, tetapi pada penampilan: merek arlojinya, tasnya, sepatunya, dan seterusnya.

Ingat petuah nenek: tidak semua yang berkilau adalah emas….

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: