Dari CIC, ADIA, hingga Temasek

Usaha; Senin, 17 Desember 2007

kompas-cetak105

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/17/ekonomi/4086272.htm

China dan Singapura, dengan sepak terjang lembaga-lembaga investasi milik pemerintah (sovereign wealth fund/SFW) mereka, adalah contoh kapitalisme negara di Asia yang mampu membuat negara-negara maju ketar-ketir. Meski hanya negara pulau kecil, Singapura, bersama China, dengan topangan cadangan devisa 1,4 triliun dollar AS yang dimilikinya, diakui sebagai simbol sukses dan aktor penting baru kapitalisme negara dari negara berkembang.

Jumlah total dana yang dikelola oleh SFW negara-negara berkembang sekarang ini diperkirakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) mencapai 2,2 triliun-2,5 triliun dollar AS. Sebanyak 2,1 triliun dollar AS di antaranya dikuasai oleh 20 SFW terbesar.

Tujuh terbesar SFW sekarang ini menurut Standard Chartered adalah Abu Dhabi Investment Authority/ADIA dari Abu Dhabi (625 miliar dollar AS), GPF Global dari Norwegia (322 miliar dollar AS), Government of Singapore Investment Corporation/GIC dari Singapura (215 miliar dollar AS), Kuwait Investment Authority/KIA dari Kuwait (213 miliar dollar AS), China Investment Corporation/CIC dari China (200 miliar dollar AS), Rusia (128 miliar dollar AS), dan Temasek Holdings dari Singapura (108 miliar dollar AS).

Sebagai gambaran, cadangan devisa Indonesia sekarang ini hanya sekitar 52 miliar dollar AS dan Produk Domestik Bruto (PDB) tak sampai 300 miliar dollar AS. Volume dana yang dikelola SFW ini mengalahkan dana yang dikelola para hedge fund di seluruh dunia (1,0 triliun dollar AS-1,5 triliun dollar AS) yang selama ini sepak terjangnya membuat
ketar-ketir dunia dan dituding berada di belakang berbagai krisis finansial yang membahayakan stabilitas finansial global. Juga jauh lebih besar dari akumulasi dana yang dikelola lembaga ekuitas swasta (equity fund) yang 700 miliar dollar AS-1,1 triliun dollar AS. Namun, masih kalah dari dana yang dikelola oleh lembaga investasi yang lebih matang
seperti UBS, Barclays Global Investors, Allianz Group, dan lain-lain yang total mencapai sekitar 53 triliun dollar
AS (lihat tabel).

Standard Chartered mengelompokkan para SFW ini berdasarkan tingkat transparansi dan strategi investasi mereka. Berbeda dengan GPF Global dari Norwegia yang cenderung konvensional, dua SFW dari Singapura, GIC dan Temasek,
dinilai cenderung mengejar kepemilikan dominan di perusahaan yang diakuisisinya. Sebaliknya Qatar Fund dianggap
sebagai investor strategis dan tak transparan seperti SFW dari China dan Uni Emirat Arab. Di kalangan SFW negara berkembang, pemain terbesar sekarang ini, menurut Market Watch, adalah SFW dari negara-negara Timteng, seperti Abu Dhabi, Arab Saudi, Kuwait, lalu Singapura, Taiwan, Korsel, dan Malaysia. Arab Saudi diyakini menempatkan sekitar 250 miliar dollar AS di SFW-nya, sementara Abu Dhabi sekitar 875 miliar dollar AS.

ADIA, salah satu SFW Abu Dhabi yang didirikan tahun 1977, terutama mengincar bank-bank di London. Investasi besar ADIA terakhir antara lain di Prime West Energy Trust di Kanada (5 miliar dollar AS). SFW dari Abu Dhabi lainnya yang baru didirikan tahun 2002, Mubadala, juga mencengangkan dunia dengan akuisisi 5 persen saham perusahaan mobil Ferrari belum lama ini.

Sementara GIC antara lain membeli separuh kepemilikan pusat perbelanjaan terkemuka WestQuay di Southampton (600 juta dollar AS), Merril Lynch Financial Centre (960 juta dollar AS), dan 50 persen saham Westfield Parramatta, perusahaan properti di Australia (584 juta dollar AS). SFW dari Kuwait, KIA, antara lain membeli 7,2 persen saham di perusahaan otomotif Daimler-Chrysler (8,1 miliar dollar AS). China Investment Corporation membeli 10 persen saham Blackstone (3 miliar dollar AS). Temasek membeli 12 persen saham Barclays senilai hampir 2 miliar dollar AS, 12 persen saham ABC Learning Centres di Australia, dan 24 persen saham China Eastern Airlines.

Temasek yang merupakan BUMN-nya Kementerian Keuangan Singapura mulai disoroti ketika BUMN ini mengakuisisi Shin Corp milik keluarga Thaksin Sinawatra saat ia masih menjabat sebagai Perdana Menteri Thailand, September 2006. Akuisisi perusahaan telekomunikasi terbesar di Thailand senilai 1,9 miliar dollar AS ini ditentang luas oleh rakyat Thailand dan ikut menjadi pemicu aksi unjuk rasa menentang Thaksin yang menuntun pada terjungkalnya Thaksin dalam kudeta oleh junta militer.

Bersama-sama dengan GIC yang mengelola 100 miliar dollar AS dana pensiun di Singapura dan memiliki 900 pegawai dan delapan kantor tersebar di sejumlah negara, Temasek menguasai lebih dari 180 miliar dollar AS aset. Sebagai perbandingan, aset yang dikelola Goldman Sachs Asset Management hanya 33 miliar dollar AS dan Blackstone, lembaga ekuitas swasta terbesar, 80 miliar dollar AS. Temasek yang memulai manuver akuisisi secara agresif di Asia empat tahun lalu, mencatat keuntungan rata-rata tahunan 18 persen sejak didirikan 1974.

Bukan hanya China dan Singapura. Sejumlah negara Asia lain, termasuk Rusia, Korsel, Australia, dan India tiga tahun terakhir ini juga terus menggemukkan SFW mereka. Berbeda dengan sejawatnya di China dan Singapura, Korsel lebih hati-hati. Korsel meluncurkan SFW-nya sendiri pada 2005. Lembaga ini sudah menyepakati akuisisi di luar negeri senilai 20 miliar dollar AS, 8 miliar dollar AS di antaranya sudah direalisasikan dalam bentuk instrumen investasi
berpendapatan tetap di negara-negara maju seperti di AS, wilayah Eropa, dan Jepang. (tat)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: