Warga Keluhkan Singkatnya Waktu; Pendataan Penerima Kompor dan Tabung Gas Dilakukan secara “Sampling”

Agni Rahadyanti
Sabtu, 17 November 2007

kompas-cetak75

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/17/jogja/1044756.htm

SLEMAN, KOMPAS – Selama proses pendataan dan distribusi konversi minyak tanah ke gas elpiji di Sleman yang berlangsung hampir dua minggu, sebagian warga mengeluhkan singkatnya waktu pendataan. Mereka umumnya bersyukur memperoleh paket konversi meskipun heran tak ada petugas yang datang menyurvei ke rumah-rumah.

Kepala Dukuh Cebongan Kidul, Tlogoadi, Mlati, Sentot Bungkus Waluyo mengungkapkan ketua RT di wilayahnya hanya diberi waktu satu hari untuk mendata warga yang akan diajukan sebagai calon penerima paket konversi.
“Hari Rabu minggu lalu kami mengikuti sosialisasi di balai desa. Setelah itu, tiap kepala RT diminta mendata warganya dan harus dikumpulkan Kamis sore. Jumat pagi saya sudah harus menyetorkannya di balai desa,” kata Sentot, Jumat (16/11), di sela-sela distribusi paket konversi di Cebongan Kidul.

Dengan keterbatasan waktu itu, para ketua RT tidak dapat melakukan pendataan secara optimal karena masih ada warga yang belum terdata. Ia mencontohkan, banyak kepala keluarga bekerja sebagai buruh bangunan yang terkadang menginap di tempat kerja sehingga tidak dapat ditemui.

Di Cebongan Kidul sendiri, sosialisasi distribusi dilakukan sehari sebelum pelaksanaan distribusi. Dalam jeda kurang lebih satu minggu itu, Sentot mengungkapkan sejauh pengamatannya tidak ada petugas yang menyurvei langsung ke rumah-rumah calon penerima paket konversi.

“Saya hanya mengumpulkan fotokopi kartu keluarga. Setelah itu, ya diberi tahu akan mendapat kompor gas gratis. Sebelumnya tidak pernah ada petugas yang datang menyurvei,” tutur Sumilah (51), salah seorang penerima paket konversi yang sehari-hari menggunakan kayu bakar dalam memasak.

Bersyukur
Warga sendiri umumnya tak terlalu merisaukan prosedur penerimaan paket konversi. Mereka bersyukur bisa memperoleh paket konversi yang terdiri dari satu kompor gas, tabung gas ukuran 3,5 kilogram, selang, dan regulator itu. “Alhamdullilah bisa dapat kompor gratis, mudah-mudahan bisa lebih irit untuk memasak,” kata Nanik Lestari (32) usai merangkai dan mencoba kompor gas barunya.

Warga juga berharap agar ke depan tak kesulitan mencari agen gas elpiji 3,5 kilogram yang dekat dengan rumah mereka. “Kalau cari gasnya sulit atau harga gas naik terus, ya tidak jadi menghemat. Akhirnya, pasti kembali pakai kompor minyak,” tutur Ismilah (33), warga lainnya.

Sekretaris Tim Konsultan Independen Apri Nuryanto menuturkan survei calon penerima ke lapangan memang hanya dilakukan dengan sampling. “Karena keterbatasan waktu, tidak semua data yang masuk kami survei langsung ke rumah. Hanya sekitar 10-15 persen, terutama mereka yang datanya meragukan. Misalnya saja, mereka yang secara administratif tergolong kaya, namun masih terdata,” ujar Apri.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: