Wapres: Konversi Berlanjut. Jangan Khawatirkan Isu Pematenan Batik oleh Malaysia

Minggu, 02 September 2007

kompas-cetak49

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/02/utama/3810547.htm

Pekalongan, Kompas – Program konversi minyak tanah ke gas, yang tengah dijalankan pemerintah, harus tetap dilaksanakan. Program tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan ditargetkan selesai dalam empat tahun.

Penegasan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu disampaikan dalam acara pembukaan Pekan Batik Internasional 2007 di Lapangan Jetayu, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Sabtu (1/9).

Menurut Wapres, selama ini pemakaian minyak tanah tidak efisien dan kurang sehat. Harga pokok minyak tanah mencapai Rp 6.000 per liter. Minyak tersebut dijual Rp 2.000 per liter sehingga pemerintah menyubsidi Rp 4.000 per liter.

Selain itu, minyak tanah menimbulkan asap, berbahaya, dan tidak efisien. Dibandingkan dengan gas, pemakaiannya lebih boros. Setiap memasak dengan satu liter minyak tanah, masyarakat mengeluarkan sekitar Rp 2.500.

Menggunakan gas, katanya, hanya dibutuhkan sekitar 0,4 kilogram, seharga Rp 1.800. Dengan memakai gas elpiji, masyarakat menghemat Rp 25.000 per bulan. Pemerintah juga akan menghemat Rp 30 triliun per tahun.

Oleh karena itu, pemerintah melakukan program konversi minyak tanah dengan gas. Program itu dimaksukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan bukannya membuat susah. Dengan penggunaan gas, masyarakat dilatih hidup sehat.

Ubah kebiasaan
Kalla mengatakan, untuk meringankan beban masyarakat, program konversi minyak tanah dengan gas dilakukan secara gratis. Masyarakat tidak dirugikan.

Terkait dengan pembelian gas yang harus dilakukan dalam jumlah banyak, pemerintah sudah menyadari. Selama ini, masyarakat terbiasa membeli minyak tanah secara eceran. Hal itu tidak dapat dilakukan pada gas.

Menurut Wapres, kebiasaan itu harus diubah. Masyarakat harus belajar hidup hemat dengan menggunakan gas. Jangan sampai orang kaya lebih hemat dalam hal menggunakan bahan bakar apabila dibandingkan dengan orang miskin. Terlebih saat ini tidak ada satu negara pun yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar pokok.

Program konversi minyak tanah dengan gas, katanya, ditargetkan selesai dalam empat tahun. Meskipun demikian, masyarakat tidak perlu khawatir. Pemerintah tetap akan menjual minyak tanah, tetapi dengan harga industri.

Pengusaha batik yang selama ini menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakar harus menyesuaikannya. Apabila harga minyak tanah dinilai terlalu mahal, pengusaha batik dapat menaikkan harga produknya.

Pematenan batik
Pada kesempatan itu, Wapres juga mengatakan, pengusaha batik di Indonesia tidak perlu khawatir dengan adanya isu pematenan batik oleh negara lain. Batik merupakan warisan leluhur dan tidak jelas siapa penciptanya. Produk yang dapat dipatenkan adalah produk yang berteknologi baru dan ada penciptanya. Oleh karena itu, batik tidak mungkin dipatenkan oleh siapa pun, termasuk oleh Malaysia.

Pernyataan tersebut menanggapi keresahan sejumlah pengusaha batik di Kota Pekalongan terkait munculnya isu mengenai pematenan batik oleh Malaysia.

Kalla mengatakan, batik yang dihasilkan di Malaysia sangat berbeda dengan batik yang dihasilkan di Indonesia. Motif batik Malaysia lebih berbentuk gambar-gambar, seperti bunga dan berwarna-warni.

Lagi pula, proses pematenan sebuah produk memerlukan berbagai syarat. Produk yang dipatenkan harus berteknologi baru dan ada penciptanya. (WIE)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: