Unjuk Rasa; Konversi Energi Sengsarakan Rakyat

Rabu, 03 Oktober 2007

kompas-cetak69

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0710/03/jogja/1043144.htm

Yogyakarta, Kompas – Sekitar 20 orang yang mengatasnamakan diri Barisan Rakyat Tolak Konversi Minyak ke Gas atau Bronkos, Selasa (2/10), berunjuk rasa menolak rencana pemerintah melakukan konversi minyak tanah ke elpiji. Mereka menilai program tersebut akan membawa banyak kerugian dibanding manfaat.

Mengenakan pakaian hitam-hitam dan hiasan rambut dari sumbu kompor minyak, para pengunjuk rasa memulai aksi dari Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju Kantor DPRD Provinsi DIY, Kantor Gubernur DIY di Kepatihan, dan berakhir di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Sayangnya, upaya mereka untuk bertemu wakil rakyat gagal lantaran tidak ada anggota DPRD yang keluar menemui pengunjuk rasa. Demikian pula di Kepatihan, mereka gagal masuk lantaran pintu gerbang sengaja ditutup.

Sebelum membubarkan diri, di Alun-alun mereka sempat membakar replika tabung gas bermerek “Bathara Kala” berukuran cukup besar yang disimbolkan sebagai penolakan terhadap program tersebut. Replika kompor sengaja ditinggal di Alun-alun sebagai pengingat bahwa minyak tanah merupakan salah satu kebutuhan pokok masyarakat.

Unjuk rasa penolakan program konversi ini merupakan kali pertama di Provinsi DI Yogyakarta. “Minyak tanah merupakan tumpuan hidup rakyat miskin yang seharusnya disejahterakan,” ujar Dodo Putra Abasya, Koordinator Aksi.

UNY siap
Dihubungi kemarin, pihak Universitas Negeri Yogyakarta yang telah ditunjuk sebagai tim konsultan independen dalam pelaksanaan program konversi minyak tanah menjadi gas elpiji di wilayah DIY mengaku siap menjalankan tugasnya. Sosialisasi konversi segera dilaksanakan usai libur cuti bersama Lebaran.

“Kami seharusnya mulai efektif sosialisasi sejak awal Oktober, tapi suasananya belum pas karena menjelang Lebaran. Sasaran utama adalah kelompok masyarakat potensial yang masih menggunakan minyak tanah,” ujar Ketua Tim Konsultan Independen Sugiyono yang juga mantan Dekan Fakultas Teknik UNY.

Sebagai langkah awal, menurut Sugiyono, tim konsultan independen bersama Pertamina akan melakukan sosialisasi dengan mengunjungi gubernur dan bupati. Setelah itu, baru berlanjut ke tiap kecamatan yang menjadi target konversi.

Berdasarkan data awal dari Badan Pusat Statistik, ada sekitar 291.000 kepala keluarga (KK) di seluruh DIY yang masih menggunakan kompor minyak tanah. Tahap awal konversi akan menjangkau 80.000 KK yang terbagi untuk 50.000 KK di Kabupaten Sleman serta 30.000 KK di Kota Yogyakarta. (WER/WKM)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: