Terus Distribusikan 25 Juta Kompor Gas

Sabtu, 08 Sept 2007

jp2

http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_radar&id=171927&c=85

BANTUL – Konversi minyak tanah ke gas jalan terus. Pertamina tetap mendistribusikan tabung dan kompor gas ke masyarakat. Hingga 2009 mendatang, 25 juta kompor dan tabung gas akan didistribusikan. Untuk tahun ini, Pertamina mendistribusikan enam juta unit untuk Pulau Jawa.

Dirut Pertamina Ari H Soemarno mengatakan, dearah-daerah yang menerima program konversi, secara bertahap pasokan minyak tanahnya akan dikurangi. “Kalau terjadi kelangkaan, ini bukan lantaran pengurangan droping. Tetapi akibat ada penyalahgunaan minyak tanah yang seharusnya untuk kebutuhan rumah tangga ke industri,” ujar Ari di sela-sela peresmian SD Sewon I bantuan Pertamina kemarin.

Ia menduga saat ini banyak minyak tanah yang digunakan sebagai campuran solar untuk kendaraan bermotor. Sehingga berapa pun tambahan minyak tanah pasti akan terjadi kelangkaan. Kuota minyak tanah tahun ini sesuai persetujuan DPR mencapai 9,6 juta kilo liter.

Guna mengatasi kelangkaan minyak, pihaknya mengusulkan sistem kupon untuk pendistribusiannya ke masyarakat. Dengan cara ini, minyak akan sampai ke masyarakat yang memang berhak menerimanya. Sistem ini sudah diujicobakan di Riau dan beberapa kota di Kalimantan. “Langkah ini terbukti efektif,” tambahnya.

Sementara itu, Pertamina memutuskan menunda rollout produksi biofuel jenis biosolar dan biopremium menyusulnya melambungnya harga Crude Palm Oil (CPO). Ini dilakukan Pertamina sebagai langkah menekan angka kerugian akibat kenaikan bahan baku utama biofuel itu.

“Sebelum ada kenaikan, Pertamina bersama pemerintah telah menyubsidi produksi dari biofeul ini. Nah, karena harga CPO terus naik, maka kami putuskan untuk menunda,” ujar Direktur Pengolahan Pertamina Ir Suroso dalam seminar The Role of Methanol Industri on Suistanable di Fakultas Teknik UGM kemarin.

Suroso mengungkapkan, tahun 2006 lalu produksi bahan bakar nabati (BNN) harga CPO masih berkisar USD 400 per ton. Saat ini harganya mencapai USD 700 per ton. “Selisih harga cukup tinggi. Padahal subsidi pemerintah untuk BBN sama dengan bahan bakar fosil. Tentu ini berat bagi Pertamina,” jelasnya.

Untuk menekan tingkat kerugian ini, ada beberapa langkah yang dilakukan Pertamina. Sejak April 2007 mulai mengurangi dosis injeksi Fatty Acid Methil Ester (FAME) pada produksi biosolar dari 5 persen menjadi 2,5 persen. Selain itu dosis injeksi ethanol untuk biopremium diturunkan dari 5 persen menjadi 3 persen. (din/sam)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: