Survei Konversi Energi; Mengubah Kebiasaan Konsumsi Energi Tidak Mudah

Rabu, 02 Januari 2008

kompas-cetak76

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/02/ekonomi/4114934.htm

GIANIE
Wajah Awi (40) terlihat senang saat membawa pulang tabung dan kompor gas yang baru saja diterimanya dari kantor kelurahan pada awal Desember 2007. Namun, warga Kelurahan Kemirimuka, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat, itu mengaku tidak akan langsung menggunakan paket gratis dari pemerintah tersebut untuk keperluan memasak sehari-hari.
“Mau disimpan saja dulu. Masih takut menggunakannya, takut mbledug,” katanya. Apalagi, lanjutnya, beberapa warga menerima regulator kompor gas yang kondisinya rusak. Entah kapan dia atau istrinya yang terbiasa memasak menggunakan kompor minyak tanah itu akan berani memakai kompor gas.

Menerima lalu menyimpan atau menjual kembali paket tabung dan kompor gas program konversi minyak tanah ke gas elpiji merupakan salah satu bentuk penolakan secara halus terhadap program tersebut.

Bentuk yang lebih ekstrem ditunjukkan oleh sekelompok orang yang melakukan aksi jahit mulut selama berhari-hari di Kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta (Kompas, 11/12). Aksi tersebut dilakukan sebagai wujud ketidaksetujuan mereka terhadap kebijakan pemerintah mengonversi minyak tanah.

Menginginkan konsumen (minyak tanah) untuk mau mengubah kebiasaan mengonsumsi energi bukanlah hal yang mudah dan dapat dilakukan seketika asal sarana dan prasarana tersedia (secara gratis).

Banyak faktor yang merupakan penarik, pendorong, maupun penghambat yang tarik-menarik hingga akhirnya keputusan untuk berpindah menggunakan elpiji diambil.

Di sini akan teruji apakah kebijakan pemerintah yang akan mengubah perilaku konsumen ataukah perilaku konsumen yang akan mengubah kebijakan pemerintah.

Hasil survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas pada rentang 17-22 November 2007 terhadap 252 rumah tangga penerima tabung dan kompor gas program konversi minyak tanah di DKI Jakarta menunjukkan, tidak sedikit dari mereka yang tidak langsung memanfaatkan pemberian pemerintah tersebut.

Jumlah responden yang menyatakan langsung menggunakan tabung dan kompor gas itu sebanyak 81 persen. Sisanya (19 persen) mengaku belum memakainya karena faktor keamanan, takut kompor meledak.

Angka 19 persen ini memang tidak signifikan dari segi nominal. Akan tetapi, hasil survei ini juga menunjukkan sebagian besar responden (59,1 persen) penerima paket gratis dari pemerintah ini sebenarnya adalah mereka yang sebelumnya telah menggunakan gas elpiji sebagai bahan bakar utama sehari-hari.

Tiga dari empat rumah tangga pengguna gas elpiji ini yang masih tetap memanfaatkan minyak tanah. Sementara, dari 40,9 persen penerima tabung gas yang sebelumnya memang menggunakan kompor minyak tanah, hampir separuhnya masih enggan beralih ke gas elpiji. Rumah tangga pengguna minyak tanah akan atau bisa beralih menggunakan gas elpiji karena berbagai alasan.

Dalam survei ini, alasan-alasan itu antara lain, pertama, menyangkut kualitas minyak tanah yang dianggap kurang bagus digunakan untuk memasak. Terutama akibat pemakaiannya yang membuat dapur dan peralatan memasak menjadi kotor dan sulit dibersihkan.

Selain itu, menggunakan minyak tanah juga menyebabkan waktu memasak menjadi lebih lama. Kondisi ini berkebalikan dengan kualitas gas elpiji yang bercitra lebih bersih dan memasak bisa lebih cepat selesai. Aroma masakan pun tidak terkontaminasi bau bahan bakar seperti halnya minyak tanah.

Kedua, soal persepsi harga. Responden mengaku harga gas elpiji lebih murah dibandingkan minyak tanah. Persepsi ini cukup sejalan dengan kalkulasi penghematan pengeluaran rumah tangga antara pemakaian minyak tanah dan gas elpiji ukuran 3 kilogram yang dilakukan Pertamina.

Pertamina mengasumsikan pemakaian minyak tanah selama sebulan sebanyak 30 liter (satu liter per hari, harga per liter Rp 2.500), biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 75.000.

Sedangkan pemakaian gas elpiji 3 kilogram (harga Rp 4.250/kg) yang bisa digunakan untuk delapan hari, biaya pemakaian sebulan sebesar Rp 51.000. Dengan demikian, keuntungan memakai gas elpiji 3 kg sebesar Rp 24.000 atau hemat 32 persen.

Ketiga, adanya sikap yang positif terhadap konversi itu sendiri, bahwa beralih dari menggunakan minyak tanah ke gas elpiji adalah ide yang baik, bermanfaat, dan memang diperlukan. Selain itu, memiliki ketertarikan untuk menggunakan bahan bakar alternatif selain minyak tanah juga turut berperan dalam proses peralihan.

Terakhir, proses peralihan bisa berlangsung mulus karena dukungan norma-norma subyektif. Norma subyektif di sini menjadi afirmatif bagi tindakan peralihan dalam arti menggunakan gas elpiji tidak mendapat tentangan, baik dari anggota keluarga ataupun orang-orang di sekitar tempat tinggal.

Lingkungan keluarga menjadi faktor yang dominan memengaruhi perilaku konsumen karena anggota keluarga berbagi nilai, norma, dan standar yang sama dalam berperilaku atau mengonsumsi barang tertentu. Kurang lebih begitu pula dengan lingkungan sosial di sekitarnya.

Kepuasan rumah tangga
Sementara itu, rumah tangga akan bertahan menggunakan minyak tanah disebabkan oleh beberapa faktor pula. Pertama, kepuasan rumah tangga terhadap pemakaian minyak tanah selama ini meski bahan bakar tersebut tidak lebih menguntungkan dibandingkan gas elpiji.

Kedua, ada kaitannya dengan kebiasaan. Masyarakat atau rumah tangga akan sulit berpindah ke elpiji karena sudah terbiasa menggunakan satu jenis bahan bakar tertentu (yaitu minyak tanah) dan cenderung enggan mencoba atau menggunakan bahan bakar lain.

Ketiga, adanya risiko dalam beralih. Meski diakui tidaklah repot atau tidak ada usaha ekstra untuk beralih ke gas elpiji karena prasarana disediakan oleh pemerintah, risiko menggunakan elpiji lebih tinggi daripada menggunakan minyak tanah.

Hal ini terkait dengan ketakutan kompor gas gampang meledak akibat ketidaktahuan cara pemakaian. Di sini, sosialisasi cara pemakaian tabung dan kompor gas yang aman akan sangat menentukan.

Dan terakhir, terkait dengan ketersediaan. Masyarakat memandang minyak tanah lebih mudah diperoleh dibandingkan gas elpiji dalam konteks pembelian yang bisa dalam jumlah kecil atau sedikit, dan gampang diperoleh di warung atau dari penjaja minyak tanah di sekitar tempat tinggal.

Dari berbagai faktor pendorong dan penghambat proses konversi tadi, pengguna minyak tanah yang menyatakan pasti berpindah memakai gas elpiji sebanyak 57,3 persen.

Adapun faktor yang paling kuat memengaruhi keputusan responden untuk pasti berpindah menggunakan gas elpiji adalah adanya ketertarikan atas alternatif penggunaan bahan bakar selain minyak tanah.

Secara keseluruhan, baik responden yang bahan bakar utamanya menggunakan gas elpiji maupun minyak tanah setuju dengan program pemerintah mengonversi minyak tanah ke gas elpiji (82,9 persen). Mereka juga yakin pemerintah dapat menjamin ketersediaan gas elpiji (65,1 persen) ketika pada akhirnya masyarakat memutuskan menggunakan gas elpiji secara kontinu dan tidak lagi bergantung pada minyak tanah.

Hasil ini sebenarnya cukup memberi tanda-tanda kebijakan konversi minyak tanah lambat laun bisa diterima masyarakat. Kuncinya adalah sosialisasi soal keamanan pemakaian kompor gas dan kebijakan tersebut tepat sasaran alias tidak ada penyimpangan. (Litbang Kompas)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: