Sosialisasi Konversi Segera Dimulai; Pembagian Tahap Pertama untuk Sekitar 80.000 Keluarga Miskin

Rabu, 19 September 2007

kompas-cetak62

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/19/jogja/1042554.htm

SLEMAN, KOMPAS – Pemerintah Kabupaten Sleman bersama PT Pertamina Wilayah IV yang membawahi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta mulai hari ini menjalankan sosialisasi program konversi minyak tanah ke gas elpiji pada masyarakat. Sosialisasi ini diharapkan dapat mendukung pelaksanaan program yang rencananya dimulai setelah Lebaran.

“Bersama Pertamina, kami akan mengadakan dialog interaktif di radio untuk menyosialisasikan program ini. Selain itu, sosialisasi dengan Kelompok Informasi dan Komunikasi Masyarakat di masing-masing kecamatan juga akan dilakukan,” kata Kepala Bagian Humas Pemkab Sleman Endah Sri Widiastuti, Selasa (18/9).

Untuk tahap awal, sosialisasi akan dilakukan di daerah perkotaan. Daerah ini menjadi prioritas, karena di Sleman, keluarga miskin (gakin) yang menjadi sasaran program konversi banyak terdapat di wilayah perkotaan. Selain itu, karakteristik masyarakat di wilayah perkotaan sudah relatif lebih mengenal gas elpiji. Daerah perkotaan tersebut, antara lain, berada di wilayah Kecamatan Depok, Gamping, Mlati, Ngaglik, Kalasan, dan Sleman.

Wira Penjualan Gas Domestik PT Pertamina Wilayah IV Totok Sugiharto mengungkapkan, untuk konversi tahap I yang akan dilakukan setelah Lebaran nanti, paket konversi yang berisi tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram, kompor gas, dan alat regulator akan dibagikan pada sekitar 50.000 gakin di Sleman dan sekitar 30.000 gakin di Kota Yogyakarta. Pendataan gakin yang akan dilakukan oleh konsultan independen sendiri belum dimulai karena konsultan tersebut masih dalam proses pembentukan.

Untuk mengantisipasi gejolak di masyarakat pada tahap awal konversi nanti, Totok menegaskan, minyak tanah tidak akan serta- merta ditarik seluruhnya dari masyarakat. Pertamina juga akan menyediakan refill sebelum gas dibagikan sehingga masyarakat tidak akan kesulitan mencari gas.

Pedesaan
Secara terpisah, Bupati Bantul Idham Samawi menuturkan, pihaknya akan menitikberatkan pelaksanaan program konversi di wilayah pedesaan. Hal ini dilakukan karena keluarga pemakai kompor minyak tanah berpenghasilan rendah kebanyakan berada di wilayah pedesaan.

Menurut Idham, soal daya beli masyarakat tidak ada masalah karena sebenarnya harga minyak tanah dibandingkan dengan elpiji tidak jauh berbeda. “Yang berbahaya justru awal pemakaian. Ini kan soal habit warga, jadi perlu membiasakan lebih dulu karena warga belum terbiasa dengan kompor gas,” ujarnya. (DYA/RWN)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: