Solusi Konversi Bahan Bakar di Palembang

Wisnu Aji Dewabrata
Kamis, 13 September 2007

kompas-cetak60

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/13/teropong/3832718.htm

“Cetek-cetek…” terdengar bunyi kenop kompor gas diputar. Sesaat kemudian api berwarna biru tampak berkobar memanaskan minyak dalam wajan. Para pekerja di katering Priyanti di Jalan Mujahiddin, Kelurahan Lorok Pakjo, Palembang, kemudian memasukkan puluhan pastel ke dalam wajan untuk digoreng.

Jika diperhatikan, kompor gas di dapur katering itu tidak dihubungkan dengan tabung elpiji, melainkan terhubung dengan sebuah selang plastik yang di ujungnya terdapat keran. Selang itulah yang mengalirkan gas alam langsung ke kompor.
Amir (35), pengelola katering itu, mengaku sudah dua tahun menjadi pelanggan gas PT Perusahaan Gas Negara (PGN) yang disebut “gas alam” oleh warga Palembang. Sebelum berlangganan gas, Amir menggunakan elpiji untuk memasak makanan katering.

“Berlangganan gas jauh lebih hemat dibandingkan memakai tabung elpiji, apalagi jika dibandingkan dengan minyak tanah. Bahkan, dengan berlangganan gas, bisa menyalakan beberapa kompor sekaligus,” kata Amir.

Menurut Amir, untuk memasak katering dalam jumlah besar (1.000 orang), setiap bulan ia hanya membayar langganan gas sebesar Rp 170.000, sedangkan jika menggunakan elpiji, untuk memasak katering dalam jumlah sebesar itu, diperlukan tiga sampai lima tabung. Jika tidak dipakai untuk memasak katering, Amir hanya membayar Rp 60.000 hingga Rp 62.000 per bulan karena cuma dipakai memasak makanan dan air.

“Sekarang harga elpiji naik terus. Dari Rp 21.000 menjadi Rp 55.000, malah kabarnya mau naik lagi. Sekarang saya masih menyimpan delapan tabung elpiji yang tidak terpakai lagi,” kata Amir.

Amir mengatakan, pemasangan instalasi gas di rumahnya dilakukan bersama-sama dengan warga lain yang jumlahnya sekitar 40 keluarga. Khusus untuk Amir, tarif pemasangan instalasinya berbeda karena Amir termasuk pelanggan komersial yang dibedakan dengan pelanggan rumah tangga.

“Dulu, biaya pasang instalasi sekitar Rp 1 juta. Jika terlambat membayar tagihan, pelanggan komersial dikenakan denda Rp 5.000 per hari dan Rp 2.500 per hari untuk pelanggan rumah tangga,” kata Amir.

Berhemat banyak
Menurut Amir, berlangganan gas bisa menghemat banyak pengeluaran. Sayangnya, kata Amir, PGN kurang menyosialisasikan keuntungan berlangganan gas. Karena itu, masih banyak warga yang ragu-ragu berlangganan gas karena takut tagihannya mahal dan takut akan keamanannya.

“Padahal tidak perlu takut dengan kebocoran gas sebab kalau bocor pasti tercium baunya. Meteran gas dan saluran gas ke kompor dilengkapi keran pengaman. Kalau bocor, tinggal tutup kerannya,” ujar Amir.

Rohani (49), juga warga Jalan Mujahiddin, telah berlangganan gas sejak dua tahun lalu setelah sebelumnya memakai minyak tanah. Setiap bulan Rohani hanya membayar tagihan gas Rp 30.000-Rp 40.000. Rohani memasak tiga kali sehari.

Saat pertama kali rumahnya dipasangi instalasi gas, Rohani harus merogoh saku Rp 950.000. Biaya itu tidak sebesar biaya pemasangan di rumah warga lainnya yang lebih dari Rp 1 juta karena rumah Rohani ada di pinggir jalan.

“Dibandingkan menggunakan elpiji, berlanggan gas jauh lebih hemat, apalagi dibandingkan minyak tanah. Dulu saya perlu 1 liter minyak tanah setiap hari, jadi setiap satu bulan minimal butuh 30 liter. Sekarang harga minyak tanah Rp 3.000 satu liter, kalau masih pakai minyak tanah, saya harus keluar uang Rp 90.000 per bulan hanya untuk beli minyak tanah,” kata Rohani.

Menurut Rohani, dibandingkan menggunakan minyak tanah, memasak memakai gas dari PGN jauh lebih cepat karena menghasilkan kalori yang tinggi hampir setara dengan elpiji.

Rohani mengaku tidak berani menggunakan elpiji tabung karena takut meledak. “Kalau berlangganan gas lebih aman, tidak takut meledak,” ujar Rohani beralasan.
Ada ciri-ciri yang membedakan rumah berlangganan gas dan yang tidak. Pada rumah yang berlangganan gas, di depan rumah terdapat alat seperti meteran listrik yang dihubungkan dengan pipa besi warna kuning. Selain sebagai pencatat penggunaan gas, meteran itu dilengkapi keran pengaman yang bisa dibuka dan ditutup.
Staf Operasi dan Penjualan PT PGN Distrik Palembang Yudi Arianto menjelaskan, dibandingkan dengan kota lain seperti Medan atau Jakarta, jumlah rumah tangga pelanggan gas di Palembang paling sedikit.

Saat ini kawasan di Palembang yang telah menikmati jaringan gas berlangganan adalah kawasan Perumnas Sako, Sukarame, Kelapa Indah, Kampus, Pakjo, Dwikora, Bogenvil, Radial, dan Harapan.

Peningkatan jumlah rumah tangga pelanggan gas di Palembang setiap tahun hanya beberapa ratus saja. Tahun 2006 jumlah rumah tangga pelanggan gas di Palembang sebanyak 3.298 pelanggan.

Tahun 2007 jumlah rumah tangga pelanggan gas diharapkan akan mencapai 3.598 pelanggan dan tahun 2008 ditargetkan meningkat menjadi 3.898 pelanggan. Jumlah itu kecil sekali dibandingkan dengan jumlah penduduk Kota Palembang yang mencapai 1,4 juta jiwa.

Yudi mengungkapkan, jumlah pelanggan rumah tangga sekitar 95 persen dari jumlah semua pelanggan di Palembang. Meskipun jumlahnya paling besar, pelanggan rumah tangga hanya mengonsumsi sekitar tujuh persen dari volume gas yang disalurkan karena sisanya diserap pelanggan komersial dan industri.

Setiap bulan volume gas yang disalurkan untuk rumah tangga, komersial, maupun industri di Palembang sekitar 1 juta meter kubik. Gas dialirkan dari lapangan gas di Prabumulih ke Palembang melalui pipa.

Menurut Yudi, biaya pemasangan pipa gas ke rumah saat ini rata-rata Rp 1,5 juta untuk jarak pipa ke kompor yang paling dekat, sedangkan untuk jarak pipa yang lebih jauh bisa mencapai Rp 2 juta.

“Tarif langganan gas rumah tangga lebih murah daripada harga tabung elpiji 12 kilogram. Perbandingannya satu tabung elpiji seharga Rp 55.000 setara berlangganan gas senilai Rp 20.000 sampai Rp 25.000 dengan frekuensi pemakaian yang sama,” kata Yudi.

Tarif berlangganan gas untuk kategori rumah tangga I hanya Rp 1.200 per meter kubik dan tarif kategori rumah tangga II Rp 1.282 per meter kubik. Adapun untuk kategori komersial Rp 1.975 per meter kubik, naik sejak bulan Agustus dari Rp 1.800 per meter kubik. Paling mahal adalah tarif industri, yaitu Rp 2.085 per meter kubik, naik dari Rp 1.800 per meter kubik.

Pilihan hemat
Berlangganan gas merupakan pilihan hemat yang disukai banyak warga Palembang. Ketika warga Jakarta dipusingkan dengan konversi minyak tanah ke elpiji, di Palembang para pelanggan gas tinggal memutar kenop kompor gas dan muncullah api berwarna biru.

Bahkan, seharusnya semua warga Palembang atau Sumatera Selatan sekalipun bisa menikmati energi yang ramah lingkungan itu. Pasalnya, provinsi lumbung energi ini memiliki cadangan gas bumi sebesar 24 triliun kaki kubik (TSCF). Jika diproduksi hanya 0,30 TSCF per tahun, cadangan gas bumi masih bisa digunakan selama 30 hingga 40 tahun mendatang.

Oleh karena itu, perlu menjadi perhatian adalah komitmen PGN untuk meningkatkan jumlah rumah tangga pelanggan gas di Palembang. Menurut pengamatan Kompas, rumah tangga di Palembang yang sudah menikmati gas hanya yang terletak di sekitar jaringan pipa gas saja. Warga yang tinggal di daerah yang jauh dari jaringan pipa gas masih bermimpi menikmati langganan gas.

Jangan sampai warga yang ingin menjadi pelanggan gas rumah tangga menjadi anak tiri karena volume gas yang dikonsumsi rumah tangga sangat kecil dibandingkan dengan yang dikonsumsi industri.

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

2 responses to “Solusi Konversi Bahan Bakar di Palembang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: