Program Konversi Dilakukan Oktober; Minyak Tanah Jangan Lantas Dihilangkan

Jumat, 07 September 2007

kompas-cetak54

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0709/07/jogja/1042085.htm

YOGYAKARTA, KOMPAS – Pertamina mencoba meyakinkan program konversi minyak tanah ke gas elpiji di DI Yogyakarta akan terlaksana Oktober. Mereka sudah mengirimkan surat kepada tiap-tiap pemerintah kabupaten/kota agar program ini segera disosialisasikan kepada masyarakat.

Walaupun demikian, Manajer Gas Domestik Wilayah III PT Pertamina yang membawahi Jawa Tengah dan DIY Kusnindar menyatakan, konversi tidak dapat terlaksana dengan baik jika masyarakat di suatu daerah belum siap. Untuk itu, pemerintah daerah diharapkan bisa memanfaatkan waktu satu bulan yang tersisa ini untuk melakukan sosialisasi program.

“Setidaknya masyarakat diberi tahu mengenai informasi kelebihan dan kekurangan dari pemakaian gas. Untuk sosialisasi yang bersifat teknis, bisa dilakukan saat proses pendataan calon penerima paket konversi atau saat pembagian paket berlangsung,” ujar Kusnindar dalam seminar “Sosialisasi Konversi Minyak Tanah ke LPG”, Kamis (6/9) di Aula Utara Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Paket konversi yang dimaksud Kusnindar, antara lain, berisi satu tabung gas elpiji ukuran tiga kilogram, satu kompor gas, dan alat regulator. DIY kebagian jatah 320.000 paket konversi untuk dibagikan kepada keluarga miskin (gakin) yang sudah didata.

Dari lima kabupaten/kota di DIY, Sleman mendapat giliran pertama untuk pelaksanaan konversi minyak tanah dengan sasaran 108.501 gakin. Wakil Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan telah siap membantu pelaksanaan program ini, meski ia juga berharap agar konversi tidak serta-merta menghilangkan minyak tanah dari pasar.

Kusnindar menambahkan, Pertamina menjamin stok gas elpiji stabil dan senantiasa tercukupi. Menurut hasil proyeksi perhitungan mereka, kebutuhan elpiji kesetaraan sebagai pengganti minyak tanah ketika program konversi dilakukan di DIY 66.436 metrik ton per tahun. Suplai gas elpiji dari kilang Cilacap, Balongan, dan impor mencapai 840.000 metrik ton per tahun.

Khawatir mahal
Masyarakat diimbau untuk tidak mengkhawatirkan kemahalan harga elpiji. Kusnindar memperkirakan harga Rp 4.250 per kilogram gas elpiji masih akan stabil sampai beberapa tahun lagi. Harga ini lebih murah Rp 150 dibandingkan pemakaian minyak tanah dengan jumlah yang setara karena konsumsi satu liter minyak tanah sama dengan 0,57 kilogram gas elpiji.

“Selain itu, masa pakai gas elpiji dibanding dengan minyak tanah, jika digunakan dalam intensitas yang sama, juga lebih awet karena produksi kalori gas elpiji lebih banyak 10 persen dibanding minyak tanah,” katanya.

Pengamat ekonomi UII, Munrokhim, menuturkan, sebaiknya pemerintah pusat serius dalam penjaminan harga ini, karena jika harga tidak stabil, program konversi berpotensi menimbulkan sejumlah masalah baru. (YOP)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: