Pemerintah Bisa Belajar dari Penggunaan Telepon Genggam; Wujud Penggusuran Budaya

Jumat, 31 Agustus 2007

kompas-cetak42

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0708/31/jogja/1041764.htm

Yogyakarta, Kompas – Rencana pemerintah pusat untuk melakukan konversi dari minyak tanah menjadi gas mendapat sejumlah protes. Konversi tersebut juga dinilai sebagai salah satu wujud penggusuran budaya oleh pemerintah terhadap masyarakat kecil. Pemerintah telah memaksakan perubahan budaya tanpa melalui proses belajar dan memilih.

“Jika dipaksakan terus, pemerintah akan menyakiti masyarakat karena tidak memberi kesempatan beradaptasi secara wajar. Masyarakat menjadi tidak berbudaya karena tidak belajar supaya bisa hidup adaptif,” ujar Ketua Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma St Sunardi, Kamis (30/8).

Konversi gas, lanjut Sunardi, telah dilakukan dengan cara sama seperti penggusuran, yaitu melalui mekanisme pemaksaan. “Saya heran kenapa tidak banyak yang bersuara untuk protes. Ini juga menunjukkan kemandulan budaya terutama di kalangan elite pemerintahan,” kata Sunardi.

Menurut Sunardi, kebijakan konversi mencerminkan mindset pengambil keputusan publik yang tidak lagi memperhitungkan aspek kebudayaan. Pemerintah hanya mengedepankan kepentingan rakyat secara ekonomi nasional maupun global, namun tidak melihat dari sudut kepentingan rakyat secara kultural dan psikologis.

“Konversi pasti akan berjalan, masyarakat harus siap. Tapi, ini menimbulkan trauma baru bagi masyarakat, kemampuan beradaptasi secara wajar akan mati,” tutur Sunardi.

Pemerintah seharusnya juga belajar dari sosialisasi penggunaan telepon genggam. Masyarakat tidak pernah diwajibkan, tapi mereka secara sadar akan belajar dan memilih alat komunikasi itu.

Soal rasa
Konversi gas, menurut Sunardi, terkait erat dengan masalah dapur atau kuliner. Ada beberapa jenis masakan hanya cocok dimasak dengan jenis panas api dari kompor minyak. Sekalipun nantinya harga minyak melambung pasti tetap ada orang yang ingin mempertahankannya. “Yang disentuh adalah soal rasa, ketika api berubah maka akan memengaruhi sumber rasa,” ujar Sunardi.

Meski belum dijalankan, program konversi energi dari minyak tanah ke elpiji juga disikapi apriori oleh warga. Mereka beranggapan program itu hanya akal-akalan dari pemerintah yang ujung-ujungnya justru menambah beban ekonomi.

“Semua program pemerintah, dari dulu, kan malah banyak merugikan rakyat,” kata Herman (32), warga Gatak, Timbulharjo, Sewon, Bantul, yang sehari-hari bekerja serabutan ini. Selain minyak tanah, ia memakai kayu dan batok kelapa.

Herman mengemukakan, ia cukup yakin ketika program konversi dijalankan, harga gas elpiji di tingkat pengecer akan membubung tinggi, termasuk kemungkinan stok elpiji menjadi langka. Tak hanya itu, minyak tanah juga diyakini bakal ikut langka.

“Saya menggunakan minyak tanah saja sudah mahal di ongkos, padahal saya juga pakai kayu biar ngirit. Beberapa waktu lalu minyak tanah sempat tidak ada di toko dan harganya juga melonjak. Nah, kalau sudah begitu bagaimana?” papar Herman.

Ningsih (40) yang membuka warung makan kecil di Kumendaman, Suryodiningratan, juga melontarkan pendapat senada. Ia juga tidak percaya penggunaan elpiji lebih irit biaya ketimbang minyak tanah, seperti yang digembar-gemborkan pemerintah.

Ia dan sejumlah warga juga takut menggunakan gas elpiji karena beberapa waktu lalu ada tetangga yang terbakar wajahnya karena selang epijinya bocor. “Saya tidak tertarik pakai gas karena belinya tidak bisa ngecer seperti minyak tanah,” katanya. (PRA/WKM)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Pemerintah Bisa Belajar dari Penggunaan Telepon Genggam; Wujud Penggusuran Budaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: