Pembangunan Pasar Modern Harap Dihentikan

Jakarta, Minggu, 15 April 2007 19 :50 WIB

jurnas6

http://www.jurnalnasional.com/new2/?KR=BreakNews&NID=26596

Nasib ribuan pedagang pasar tradisional di Jakarta terancam gulung tikar jika Pemprov DKI Jakarta masih saja mengizinkan pembangunan pasar modern berdekatan dengan lokasi pedagang.

Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Wilayah DKI Jakarta, Hasan Basri mengaku gusar melihat geliat pengusaha besar yang selalu mengambil keuntungan dari perkembangan pasar tradisional. “Kalau para pedagang kecil ini berkembang, pasti pemilik modal besar ikut-ikutan. Lokasinya pun berdekatan,” ujar Hasan kepada Jurnal Nasional, Minggu (15/4).

Salah satu contoh kekuasaan pemodal besar, ujar Hasan, yakni rencana pembangunan Koja Trade Mall di Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, yang kemudian ditentang keras APSSI. Menurut Hasan, rencana pembangunan mall di sana lebih karena memanfaatkan perkembangan pasar tradisional Koja. “ Pasar Koja merupakan pasar tradisional terbesar di Jakarta Utara dengan omzet Rp1,2 miliar per hari. Penduduk juga padat. Mana mau pemodal besar bangun mall kalau tidak mempertimbangkan (potensi) pasar Koja,”kata Hasan.

Yang menyulut kemarahan pedagang, tutur Hasan, lokasi rencana pembangunan Koja Trade Mall cuma berjarak sepuluh meter dari Pasar Koja. Pemprov diminta segera turun tangan menyelamatkan nasib ribuan pedagang yang sudah puluhan tahun mencari nafkah di Pasar Koja. “Di situ ada 2000-an pedagang formal dan informal yang bakal bangkrut kalau dibiarkan bersaing berhadapan dengan pemodal besar,”katanya.

Sudah banyak contoh bagaimana pasar tradisional tidak berdaya di hadapan pemodal besar. Catatan APPSI Jakarta menyebut pembangunan hypermarket di Waduk Melati, Jakarta City Center, Jakarta Pusat telah mematikan usaha pedagang Pasar Gandaria, Kebon Jati, dan Pasar Tanah Abang. Kemudian, swalayan Carrefour Cempaka Mas mematikan usaha pedagang Pasar Tradisional Sumur Batu, Serdang, dan Cempaka Putih.

Sejatinya, lokasi pasar modern di Ibu Kota sudah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta. Dalam pasal 10 aturan ini menyebut usaha perpasaran swasta (modern) dengan luas lantai 2000-4000 meter persegi harus berjarak radius dua kilometer dari lingkungan pasar tradisional. Di bagian lain, untuk luas lantai di atas 4000 meter persegi harus berjarak radius 2,5 kilometer dari lokasi pasar tradisional. (Hairul/Jurnas)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: