Pasarku adalah Rumahku

Jumat, 26 Januari 2007

kompas-cetak89

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/26/sorotan/3266502.htm

Lepas tengah malam, ritme kehidupan di Pasar Induk Kramat Jati yang cepat berangsur melambat. Para buruh yang semula berjalan tergesa-gesa mengangkut sayuran mulai bersantai di los tempat mereka bekerja. Ada yang mengobrol, menonton televisi, atau rebahan di lantai.

Geliat kehidupan di Pasar Induk Kramat Jati (PIKJ), Jakarta Timur, berkebalikan dengan kehidupan normal. Pada saat sebagian besar orang sudah terlelap, buruh angkut dan pedagang baru bisa bersantai. Wajah kuyu dan sorot mata redup menjadi kebalikan tubuh-tubuh berotot para buruh angkut.

Mereka melepaskan penat dengan rebahan di sela-sela tumpukan sayuran maupun di atas atap kios dari papan kayu. Alas tidur mereka hanya lembaran kardus dan kertas koran.

Buruh angkut dan karyawan los memilih tidur di pasar karena tidak perlu membayar sewa tempat tinggal. Maka, pasar pun menjadi rumah besar bagi ratusan perantau dari berbagai daerah yang menggantungkan hidup di PIKJ.

“Berat rasanya saat pertama kali tidur di pasar. Lantainya dingin, pasarnya bising. Siapa pun yang baru pertama kali tidur di pasar pasti susah tidur, masuk angin, pusing, dan demam,” tutur Eman Suherman, pedagang kentang dari Tasikmalaya.

Sejak lulus sekolah dasar, 19 tahun lalu, Eman merantau ke Jakarta dan tinggal di PIKJ. Berawal dari buruh angkut di los kentang milik saudaranya, Eman belajar berdagang hingga akhirnya menjadi juragan kentang seperti sekarang.

Pengalaman Firman tak jauh berbeda. Karyawan los bawang merah asal Sumatera Utara itu memilih tidur di pasar karena tak mampu membayar indekos. Jika indekos, biaya sewa kamar ukuran 2 meter x 3 meter sekitar Rp 125.000 per bulan.

“Kalau tidur di pasar, saya bisa menyisihkan sedikit uang untuk disimpan,” ungkap Firman yang sudah 12 tahun tinggal di PIKJ.

Penghuni pasar
Firman, Eman, dan ratusan buruh angkut di PIKJ saat ini sudah menikmati nyenyaknya tidur di pasar berbantal pakaian. Keramaian pasar sudah menjadi musik pengantar tidur bagi mereka. “Bila lagi nginap di rumah teman, saya malah sulit tidur karena sepi,” tutur Firman.

Namun, buruh yang tinggal di pasar harus terbiasa dengan minimnya fasilitas rumah. Pakaian dan peralatan mandi, misalnya, cukup disimpan dalam kantong plastik yang digantung pada pagar pembatas antarlos.

Geliat kehidupan di PIKJ adalah salah satu potret perjuangan hidup di tengah kota besar Jakarta. Setiap orang mempunyai kiat untuk bertahan hidup.
Ikin (26) adalah salah satunya. Karyawan los sayuran Dian Putra ini, dengan penghasilan yang kadang hanya Rp 10.000 per hari, terpaksa mandi dua hari sekali. Sekali mandi, lajang itu harus membayar Rp 1.000.

Agar lebih hemat, Ikin dan dua temannya berpatungan membayar jasa cuci pakaian Rp 4.000 sehari. Mereka pun berpatungan membeli air minum Rp 12.000 per hari.
Semua kebutuhan di pasar memang harus diganti dengan rupiah. Para buruh tidak memiliki waktu untuk memasak apalagi mencuci pakaian. Waktu yang ada tersita untuk mengejar rezeki. Sisa waktu antara pukul 02.00 dan pukul 06.00 digunakan untuk tidur agar badan tetap fit.

Jika punya uang berlebih, sejumlah pedagang dan buruh memanfaatkan jasa pijat dan urut. Lepas tengah malam, tukang pijat berkeliling menjajakan jasanya dengan upah Rp 15.000-Rp 20.000 per 1,5 jam.

Jasa pijat dan urut banyak diminati karena bagi sebagian orang bisa mengembalikan vitalitas tubuh. Namun, sebagian orang justru menghindarinya karena takut ketagihan.

“Saya enggak mau pijat supaya tidak merasakan nikmatnya. Kalau ketagihan, uang bisa habis,” kata Ikin yang memilih mengobati penat dengan tidur.
Ada juga jasa pijat “hiburan” bagi lelaki. Selepas pukul 20.00, belasan perempuan pemijat dan pekerja seks komersial sudah menanti pelanggan di balik pilar los daging dan ikan yang tengah dibangun di sisi timur PIKJ.

Karyawan los sayuran ESB, Asep Yayat, menyebutkan bahwa hiburan di PIKJ bermacam-macam. “Mereka yang tidak kuat mengontrol diri, ya bisa cari yang aneh-aneh. Kalau saya lebih suka menonton TV, mendengarkan musik, atau tidur,” tuturnya.

Menabung untuk anak
Menahan keinginan mencari hiburan adalah salah satu cara untuk menabung. Uang yang terkumpul dikirim ke kampung untuk biaya hidup keluarga dan sekolah anak. Itu, misalnya, dilakukan Kusmini, pedagang sayuran asal Tegal, Jawa Tengah. Ia berhemat ekstra ketat supaya ketiga anaknya, Teguh (15), Asriyati (12), dan Iskaniah (10), bisa terus sekolah. Padahal, hasil yang diterimanya sehari bekerja hanya Rp 15.000 hingga Rp 25.000.

“Jangankan jalan-jalan cari hiburan, buat makan saja seadanya. Kalau bisa, sehari nabung sedikitnya Rp 10.000,” ungkapnya.

Mencari nafkah demi kehidupan yang lebih baik menjadi semangat hidup para penghuni PIKJ. Biarpun angin malam menyesaki paru-paru dan badan bungkuk gara-gara mengangkut beban berat, pekerjaan itu tetap mereka lakoni untuk bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota metropolitan Jakarta. (LIA/NIT/MHD/ANG)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: