Pasar Tradisional; Ruang Sosial Itu Segera Jadi Masa Lalu

Jumat, 04 Agustus 2006

kompas-cetak92

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0608/04/humaniora/2857155.htm

Becek, kumuh, semrawut, bau busuk, dan pengap. Sampah berserakan. Copet bergentayangan. Jorok, tidak teratur dan tidak terkelola. Itulah yang menjadi ciri khas pasar tradisional. Memang, tidak mudah menemukan pasar tradisional yang nyaman dan aman.

Di luar stigma buruk itu, sejatinya juga tersimpan mutiara kearifan dalam pasar tradisional. Bila kita berada di pasar tradisional—terutama di daerah pedesaan—bisa ditemukan suasana yang khas. Ramai transaksi, tawar-menawar langsung antara penjual dan pembeli. Di sana, tercipta komunikasi dan interaksi sosial, terjalin keakraban antara penjual dengan pembeli; sesuatu yang sulit ditemui di era globalisasi yang mengedepankan individualitas.

Kemajuan zaman yang tak terelakkan menghadapkan pasar tradisional pada arena liberalisasi dan pasar bebas. Dapatkah ia bertahan di tengah gempuran modernisasi teknologi yang kian canggih dan kepungan hipermarket dari segala arah?

Terancam punah
Bak cendawan di musim hujan, toko serba ada (toserba), bisnis ritel dan supermarket bermunculan di mana-mana. Tidak hanya di kota provinsi maupun kabupaten, ia telah menyerbu pedesaan.

Biasanya, bisnis eceran memiliki jaringan luas, bagian dari gurita raksasa bisnis berskala global. Sebagian besar modalnya tak lain adalah investasi asing. Keuntungannya pun tak banyak dirasakan masyarakat sekitar, alias kembali kepada tuan juragan. Perputaran uang di daerah akan tersedot kembali ke kota dan tentu saja balik ke kantong pemilik modalnya di negeri antah-berantah.

Pasar modern seperti supermarket atau hipermarket tentu memiliki banyak keunggulan dibanding pasar tradisional. Buaian harga murah, kemasan rapi, lengkap, lingkungan bersih dan nyaman, menjadikan hipermarket sebagai surga perbelanjaan.

Pariwara terpampang di mana-mana, membuat orang lapar- dahaga, membangkitkan nafsu konsumtif sehingga masyarakat berbondong-bondong datang untuk membeli. Berbagai fasilitas kemudahan disediakan.

Bahkan, untuk mendapatkan barang tidak harus membayar tunai, tapi bisa utang. Beli sekarang bayar belakangan; pakai kartu kredit yang bisa dicicil. Pembeli pun tidak harus datang, tapi bisa menelepon, dan barang diantar sampai tujuan. Wah!

Hipermarket tidak saja cekatan memenuhi kebutuhan konsumen. Ia juga sangat lihai menciptakan hasrat, mengubah nafsu keinginan jadi bagian dari kebutuhan yang seolah tak terelakkan. Banyak barang yang tidak dikenal dan bukan menjadi kebutuhan, bisa menimbulkan selera dan akhirnya, dibeli konsumen. Belanja di mal akhirnya menjadi budaya, gaya hidup dan gengsi tersendiri; ciri khas kehidupan masyarakat terkini.

Individualisme sebagai salah satu simbol patologi modernitas terlihat kental. Di pasar modern interaksi sosial sangat minimal. Harga telah dipatok. Tidak perlu adu mulut, ngotot tawar-menawar dengan pedagang. Orang- orang tinggal datang, pilih barang yang dibutuhkan, bayar di kasir, lalu pulang. Praktis, rasional dan efisien, bukan?

Sistem pasar bebas memercayai mitos bahwa roda ekonomi pasar bergerak dalam haluan spirit yang bersifat kompetitif, rasional, efisien dan fair (Chomsky, 1999). Memenangkan persaingan menjadi kunci utama untuk meraih keberhasilan.

Akan tetapi, kompetisi yang terjadi cenderung tidak imbang dan tidak adil. Mengeruk keuntungan sebesar-besarnya menjadi asas mutlak bisnis modern. Meski kompetitor yang lain sekarat, itu lain perkara.

Hipermarket terus berkembang biak ke segala penjuru negeri dengan keuntungan berlipat ganda. Sementara pasar tradisional kembang kempis menjalankan usaha. Di luar tembok mal- mal yang megah, pedagang-pedagang kecil menjerit. Mereka harus berjuang mati-matian, agar tetap bertahan. Pedagang kecil harus berjuang sampai titik darah penghabisan di tengah impitan minimarket, supermarket, dan hipermarket.

Pelan tapi pasti, pasar tradisional kian termarjinalkan. Pedagang yang tidak mampu bertahan akhirnya rontok. Cepat atau lambat, toko-toko sembako dan kelontong harus menghadapi kematiannya. Kendati masih meyakini datangnya pelanggan, pedagang kecil sulit membidik keuntungan. Bisa balik modal saja sudah bersyukur.

Tak pelak, pasar tradisional di penjuru Nusantara yang berjumlah sekitar 13.650 unit terancam punah di tahun-tahun mendatang. Berdasarkan penelitian AC Nielsen pada Oktober 2005, pertumbuhan pasar tradisional telah mencapai minus delapan persen, sementara pertumbuhan hipermarket yang terus merangsek ke pelosok kampung mencapai 31,4 persen.

Pesatnya perkembangan hipermarket itu sejalan dengan tutupnya 400 kios pedagang pasar tradisional karena tidak mampu melanjutkan usaha. Jika tidak dikendalikan, pasar tradisional yang melibatkan sekitar 12,6 juta pedagang—ditambah masing- masing rata-rata dua pegawai dan empat anggota keluarganya—terancam kehilangan pendapatan dan jatuh miskin.

Sebagai bisnis berskala global, hipermarket dapat menghadirkan barang dari segala penjuru dunia. Bukan hal aneh jika produk mancanegara pun membanjiri pasar di Indonesia. Produk China menguasai pasar tekstil di Pasar Tanah Abang, membuat industri kerajinan di Cibaduyut, Tasikmalaya, dan Pekalongan banyak yang gulung tikar.

Dengan kata lain, hipermarket telah memangsa pedagang-pedagang kecil secara perlahan.

Basis ekonomi rakyat
Putaran roda ekonomi dalam transaksi pasar tradisional melibatkan pelaku bermodal kecil hingga pedagang berskala menengah merupakan sinergi mata rantai yang menopang basis ekonomi kerakyatan. Sebagian besar usaha ekonomi yang menghidupkan urat nadi pasar tradisional berbasis pada inisiatif rakyat. Pasar tradisional merupakan sentra motor penggerak kehidupan mayoritas masyarakat Indonesia. Namun, ia hanya dipandang sebelah mata.

Celakanya, pemerintah (pusat maupun daerah) terkesan mendukung upaya “penghapusan” pedagang kecil. Penggusuran pasar tradisional pun semakin terpola jelas. Dikatakan, pasar akan direnovasi agar menjadi lebih bagus, rapi, nyaman, dan aman. Kemudian, pedagang diminta menebus kios baru yang harganya melangit. Tentu saja, hanya segelintir pedagang yang mampu mendapatkan kiosnya kembali.

Di negeri ini sangat mudah mendapatkan lahan untuk mal, plasa, supermarket, dan hipermarket, tapi selalu saja mengalami kesulitan mencapai tempat berdagang bagi pasar rakyat dan pedagang kaki lima. Ini terjadi karena pemerintah menerapkan diskriminasi.

Di era otonomi, pemerintah daerah justru mengundang kehadiran pasar modern di wilayahnya. Hipermarket diberi peluang lebar untuk membangun serta membuka lebar pintu ekspansi usaha. Kaum pemilik modal bebas menentukan titik-titik lokasi strategis. Sebagai imbalan, pemerintah mendapat pemasukan dari investor yang berhasil mendirikan hipermarket. Katanya, itu untuk mengejar setoran target pendapatan asli daerah alias PAD.

Tentu sangat tidak bijak jika pemerintah mau menerima setoran retribusi pasar tradisional, tanpa memikirkan kelangsungan hidup rakyat kecil dan sektor informal. Tanpa upaya membendung laju pertumbuhan hipermarket, kecil kemungkinan pasar tradisional bisa bertahan di tengah iklim persaingan yang sangat ketat.

Jika tidak diproteksi, tampaknya ia bakal sulit ditemukan di tahun-tahun mendatang. Yang tertinggal hanya seonggok nostalgia ihwal pasar rakyat yang telah menopang kehidupan masyarakat selama berabad-abad. Nostalgia ihwal diri kita sendiri.

Imam Cahyono Koordinator Riset al-Maun Institute Jakarta

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: