Pasar Sebagai “Panggung”

Febrie Hastiyanto
Sabtu, 23 Juni 2007

kompas-cetak82

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/23/jogja/1038856.htm

Sejak setahun lalu Pasar Gede Hardjonagoro di Solo telah menjadi pasar tradisional pertama yang menjadi “panggung” bagi pentas-pentas seni dan budaya. Beragam komunitas sejak dari Republik Aeng-Aeng, siswa sekolah menengah kejuruan, Pasamuan Pasar Tradisional Surakarta atau Papatsuta, komunitas seni dan masyarakat kampus menggelar acara seni dan budaya di pasar ini, dari menyanyi, fashion show, hingga teater rakyat.

Tidak jarang demonstran yang melintasi pasar ini juga berhenti sejenak, berorasi membela perekomian rakyat dari kapitalisme-yang disimbolkan dengan “pasar”. Tidak mau ketinggalan, sebuah stasiun televisi lokal di Solo juga menayangkan acara diskusi nyantai di malam hari bertajuk Jagongan Pasar Gede, meski shooting-nya berlangsung di studio.
Petani dan pedagang merupakan dua jenis mata pencarian yang paling banyak dilakukan penduduk Jawa di daerah pedalaman-seperti Solo atau Yogyakarta. Tidak jarang, petani juga sekaligus menjadi pedagang, baik berdagang untuk barter hasil pertaniannya maupun kulakan hasil bumi. Sehingga, tidak heran bila sawah, ladang, serta pasar telah menjadi ruang hidup dalam kultur penduduk agraris ini. Sebelum teknologi informasi demikian canggih, dahulu pasar selain menjadi tempat transaksi jual beli juga menjadi ruang berbagi, mulai dari informasi, keluh kesah, hingga ngudoroso soal-soal yang berat semacam skandal politik di pusat pemerintahan lokal.

Kondisi ini mulai bergeser sejak pasar-pasar modern mulai dikenal sebagai kosakata budaya penduduk kita. Pasar modern berbentuk mal, supermarket, maupun pusat grosir kemudian menjadi ruang-ruang kebudayaan baru. Pasar modern yang jeli membaca peluang memanfaatkan ketiadaan (baca: berkurangnya) ruang-ruang publik dengan mengonstruksi dirinya sebagai pusat belanja yang one stop service. Semua ada di mal. Ingin belanja, makan, nonton film di bioskop, bahkan berdiskusi dari yang ringan hingga berbobot semacam bedah buku mulai banyak dilakukan di mal.

Belakangan di mal juga dibuka fasilitas kebugaran semisal fitness, senam, hingga yoga. Tidak heran bila warga kemudian menggunakan mal sebagai lokasi wisata baru. Penduduk daerah-daerah pinggiran juga mulai tidak ke kebun binatang, pasar, atau alun-alun bila bertamasya ke kota. Selain tidak menarik lagi, mal telah menjadi tempat tamasya yang praktis sekaligus berkelas.

Bila pada awal kehadirannya mal ditakuti karena soal harga yang murah, atau fasilitas yang cukup baik semisal eskalator, lift, ruang ber-AC, atau musik di sepanjang waktu, kekhawatiran akan mal pada prospek pasar tradisional yang perlu menjadi perhatian justru transformasi mal dari pusat belanja menjadi pusat budaya. Kondisi ini yang harus dijawab oleh pemerintah daerah, komunitas pasar, dan warga.

Revitalisasi
Peran pasar tradisional sebagai ruang kebudayaan yang beralih di mal menjadikan pasar tradisional semakin ditinggalkan penikmatnya. Revitalisasi pasar perlu dilakukan agar keberadaan pasar tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Revitalisasi yang pertama dapat dilakukan dengan melakukan penataan terhadap zoning pasar.

Zoning dilakukan dengan mengelompokkan pedagang berdasarkan jenis dagangan sehingga pembeli dan pengunjung dapat mengakses sentra-sentra jenis dagangan. Perlu diperhatikan agar setiap pasar memiliki ruang terbuka di lobi lantai dasar pasar. Lobi lantai dasar ini bebas dari pedagang sehingga dapat dimanfaatkan sebagai “panggung” bagi kegiatan-kegiatan seni, budaya, dan intelektual di pasar.

Selama ini ruang terbuka hampir pasti tidak ada sehingga ketika berbagai komunitas menggelar pentas seni dan kebudayaan di Pasar Gede justru merepotkan pembeli dan pedagang karena sempitnya “panggung”. Alih-alih menarik perhatian, pentas-pentas ini bukan tidak mungkin menimbulkan resistensi pembeli dan pedagang yang merasa terganggu.

Pentas-pentas yang telah dilakukan juga cenderung sebagai proyek idealis atau bertempat di pasar yang hanya diposisikan sebagai “tempelan”. Karena itu, komunitas-komunitas pasar, kesenian, dan kampus termasuk pemerintah kota dapat melakukan promosi pentas seni dan budaya dengan menjadikan pasar sebagai “panggung” yang reguler.

Masyarakat seni kampus-seperti Institut Seni Indonesia atau Universitas Negeri Sebelas Maret-dapat mengagendakan pentas seni dan budayanya tidak hanya di kampus, Taman Budaya Surakarta (TBS), atau pusat-pusat kebudayaan yang selama ini telah ada, semisal Sriwedari dan Balekambang. Pemerintah kota dapat merespons dengan menjadikan pasar sebagai salah satu lokasi kegiatan dalam festival-festival budaya yang reguler dilakukan seperti Bengawan Solo Fair, bahkan Festival Keraton tahunan.

Pentas-pentas yang dilakukan juga harus mulai membuka diri terhadap pentas-pentas idealis sekaligus komersil, termasuk kegiatan- kegiatan yang melibatkan pengunjung seperti festival, lomba, atau diskusi.

Febrie Hastiyanto Pegiat Kelompok Studi IDEA, Alumnus Sosiologi FISIP Universitas Negeri Sebelas Maret Solo

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

One response to “Pasar Sebagai “Panggung”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: