Pasar Perlu Instrumen Sosial; Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Jangan Dianggap Beban

Sabtu, 02 Desember 2006

kompas-cetak78

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0612/02/humaniora/3138452.htm

Jakarta, Kompas – Hiruk-pikuk perekonomian tidak sebatas suku bunga, indeks harga saham, dan investasi. Untuk mencapai kesejahteraan bersama perlu ditanam instrumen sosial dalam kinerja pasar.

Hal itu yang antara lain terungkap dalam diskusi bertajuk “Membangun Ekonomi Pasar Sosial untuk Indonesia: Mungkinkah?” di Jakarta, Jumat (1/12). Diskusi digelar dalam rangka peluncuran buku Karya Lengkap Driyarkara: Esai-Esai Filsafat Pemikir yang Terlibat dalam Perjuangan Bangsanya.
Pendiri Kompas-Gramedia Jakob Oetama dalam sambutannya mengungkapkan, tema pembangunan ekonomi pasar sosial sangat relevan. Katanya, “Saat ini kita sedang mencari dan merumuskan kembali dengan menyesuaikan antara warisan sejarah dan perkembangan global.”

Peranan ekonomi pasar dalam sejarahnya memberikan kebebasan, tetapi juga sekaligus memunculkan monopoli dan oligopoli. Di sisi lain, ada peranan negara sebagai pengayom dengan jaminan hukum dan perundangan-undangan. Namun, masalahnya, seberapa besar pemerintah serta lembaga negara lainnya memahami peranan mereka?

Ekonomi pasar sosial mencakup tidak hanya aspek ekonomi, tetapi juga kebutuhan dan hak dasar seperti hak sosial, politik, sipil, dan budaya.

Karya-karya Driyarkara sendiri, menurut Jakob, saat ini menjadi sangat relevan. Driyarkara berpandangan manusia sebagai homo homini socius atau teman atau sesama bagi manusia lain. Dalam pembahasan tentang Pancasila, Driyarkara secara khusus menyoroti sila kedua, yakni kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila itu yang kemudian dihubungkan dengan ekonomi, budaya, dan ilmu pengetahuan.

Pendapat senada diungkapkan Ketua Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara B Herry-Priyono. Dia memandang perlu menyuntikkan instrumen sosial sehingga tujuan bersama itu menjadi sesuatu yang sengaja dikejar. Ekonomi pasar pada dasarnya bukan sesuatu yang alami, tetapi diciptakan. Oleh karena itu, kontrak sosial sangat penting dalam ekonomi pasar sosial. Kinerja ekonomi pasar terus-menerus diubah agar sesuai dengan kontrak sosial. Tugas pemerintah menjaga tegangan antara kreativitas individual dan sosialitas tersebut.

Sudhamek AWS selaku CEO Garudafood mengakui pentingnya tanggung jawab sosial para pelaku usaha. Bagi dia, tanggung jawab sosial korporat bukanlah beban, tetapi hal yang menguntungkan kedua belah pihak, baik perusahaan maupun stakeholder- nya. Garudafood, misalnya, membina para petani kecil yang kemudian berdampak semakin baiknya kualitas hasil garapan petani.

Direktur Eksekutif Prasetya Mulya Djisman Simanjuntak berpendapat, tanggung jawab sosial korporat sendiri sifatnya masih bergantung pada kemauan manusia yang mengendalikan perusahaan. Agar diperoleh jaminan kepastian, tanggung jawab itu harus dikuatkan secara legal. (INE)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: