Pasar Komersial Tak Tergarap; Gagal Penuhi Target, Pengurus PSSI agar Mundur

Minggu, 06 Mei 2007

kompas-cetak79

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/06/UTAMA/3506715.htm

Jakarta, Kompas – Pasar komersial sepak bola Indonesia tidak tergarap serius. Akibatnya, mayoritas klub peserta Liga Indonesia yang mengaku profesional masih bergantung pada kucuran dana APBD.

Fenomena ketergantungan itu sebenarnya sarat problem. Mengingat, Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 dan Peraturan Mendagri No 13/2005 sudah menegaskan, dana APBD hanya bisa digunakan untuk sementara waktu dan harus disertai pertanggungjawaban keuangan yang jelas. Salah satu solusi yang digagas adalah dana APBD dikucurkan sebagai investasi sehingga tidak ada pengalokasian dana tiap tahun dan tiap sen pengeluaran dapat termonitor. Konsekuensinya, klub harus memiliki badan usaha.
Demikian intisari seminar “Meletakkan Dasar-dasar Pembangunan dan Profesionalisme Sepak Bola”, yang diadakan Kompas dan tabloid Bola, Sabtu (5/5) di Hotel Santika. Tampil sebagai pembicara Sekjen PSSI (demisioner) Nugraha Besoes, Ketua Umum Persikota Tangerang Wahidin Halim, Staf Ahli Menpora Djohar Arifin Husein, usahawan muda Erick Thohir, pakar marketing Rhenald Kasali dan Fritz E Simanjuntak, Hasani Abdulgani (Mahaka Sport), serta Handojo (PT Djarum) dan Henny Susanto (PT HM Sampoerna).

Erick yang sukses mengangkat prestasi dan mempromosikan klub basket Mahaka Satria Muda menjelaskan, ada empat sumber potensial pemasukan klub. Keempatnya meliputi dana sponsorship, tiket penonton, aksesori klub, dan hak siar TV (TV rights). Sayangnya, lanjut Erick, pengelola klub sepak bola baru memikirkan pemasukan dari sponsor. Itu pun sponsor event, bukan sponsor yang diusahakan klub.

“Padahal, jika kebocoran tiket penonton bisa diatasi, berdasar pengalaman membikin event bola basket, pemasukan dari tiket bisa menutup 40 persen pengeluaran operasional klub. Kalau basket saja bisa demikian, apalagi sepak bola yang pasarnya jauh lebih besar. Urusan hak siar TV pun di sepak bola lebih menjanjikan. Apalagi sekarang, siaran langsung sepak bola sudah memasuki prime time,” ujarnya.

Hasani menyatakan, penjualan tiket adalah sumber pemasukan terbesar klub. Oleh karena itu, kapasitas stadion menjadi penting. Target pemasukan dari tiket, ujar Hasani, minimal 50 persen dari nilai pasar industri sepak bola (soccer related income). Adapun pemasukan dari sponsor minimal 20 persen dari soccer related income; kemudian hak siar TV minimal 15 persen, penjualan aksesori minimal 7,5 persen, dan penjualan pemain minimal juga 7,5 persen.

Sementara Fritz Simanjuntak berpendapat, sebenarnya sepak bola Indonesia bisa digerakkan dengan pola services industry (industri jasa atau pelayanan). Celakanya, justru di industri inilah manusia Indonesia punya banyak kelemahan. “Orang Indonesia dikenal ramah. Tetapi, ketika harus bekerja untuk melayani, kita sangat judes. Berbeda dengan orang Singapura yang secara pribadi ketus-ketus, tetapi ketika bekerja dan dituntut memberi pelayanan, mereka bisa sangat maksimal,” kata Simanjuntak.

Tak ada kemauan berubah
Selama seminar berlangsung, muncul kritik terhadap kemauan pengurus PSSI dan juga pengelola klub untuk membenahi pengelolaan sepak bola. Rhenald Kasali yang berbicara seusai jam makan siang, misalnya, mempertanyakan potensi perubahan sebab saat ia memaparkan ide-idenya tak ada lagi pengurus PSSI yang hadir. Setidaknya, absennya pengurus PSSI di sebagian seminar itu membuktikan pengurus PSSI tak punya beberapa karakter yang menjadi syarat perubahan, yaitu karakter openness to experience (terbuka terhadap ide atau opini baru) dan agreeableness (kemampuan untuk bersepakat dengan orang lain).

Agus, salah seorang penanya dari unsur wartawan, juga sempat melontarkan ide pemotongan satu generasi di PSSI untuk perubahan. Namun, Nugraha Besoes menyatakan, usulan semacam itu tak relevan untuk ditanggapi. Soal penggunaan dana APBD oleh klub, ia menyebut hal itu merupakan bagian dari warisan lama ketika klub itu masih berbentuk perserikatan.

“Saya berpendapat, dua pilar sepak bola adalah klub dan tim nasional. Berbicara tentang klub, saya bertanya apakah klub-klub sekarang ini sudah profesional. Kalau profesional, mengapa mereka kurang maksimal mendidik pemainnya,” kata Nugraha sembari menyebut dua nama pemain nasional yang bermasalah justru setelah mereka dikontrak klub senilai ratusan juta rupiah.

Effendi Gazali yang menjadi moderator ketika Nugraha menjadi pembicara mengungkapkan, mungkin potong satu generasi bukan solusi. Akan tetapi, pakar komunikasi massa Universitas Indonesia itu menilai wajar jika publik mendesak Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur jika gagal mencapai target dalam satu-dua tahun ke depan.

“Katakanlah dalam satu-dua tahun ke depan, PSSI harus membuat tim nasional juara SEA Games dan juara di Turnamen Sepak Bola ASEAN. Kalau gagal, kita semua mendesak Pak Nurdin dan kabinetnya mundur,” kata Effendi. Pernyataan moderator itu ditanggapi Nugraha dengan berujar, “Apakah mengganti pengurus itu akan menyelesaikan masalah?” (ADP)

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: