Pasar, Informasi, dan Regulasi

Ahmad Erani Yustika
Kamis, 08 November 2007

kompas-cetak87

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0711/08/opini/3965620.htm

Mekanisme pasar menjadi salah satu isu dalam ilmu ekonomi yang tidak habis dikupas hingga kini.
Kubu ekonomi paling kanan (klasik/neoklasik) yakin pasar dapat menjalankan tugas mengawal kegiatan ekonomi secara efisien sehingga peran institusi lain (baca: pemerintah) tidak diperlukan. Sebaliknya, kubu paling kiri (ekonomi marxian) percaya tentang cacat bawaan pasar, pasar dianggap institusi yang hanya menyokong kepentingan kapitalis sehingga merugikan preferensi khalayak (yang tidak bermodal).

Peran pasar yang tidak sempurna itulah yang dikritisi tiga sekawan ekonom: Leonid Hurwicz, Eric S Maskin, dan Roger B Myerson, sehingga komite memilih mereka sebagai pemenang Nobel Ekonomi.

Kelangkaan insentif
Ilmu ekonomi eksis dalam ranah ilmu pengetahuan karena dipandang sebagai cabang ilmu sosial yang bisa menerangkan problem manusia: ketersediaan sumber daya ekonomi yang terbatas.

Pada dua hal itu, semua teori ilmu ekonomi mencari berbagai penemuan baru. Teori desain mekanisme (mechanism-design theory) yang diusung tiga ekonom tersebut untuk mencapai dua tujuan itu.

Dalam kasus itu, teori desain mekanisme menyodorkan alternatif lelang. Dalam isu perdagangan internasional, insentif semacam itu dibutuhkan untuk memperlancar transaksi sekaligus mencegah kemungkinan kerugian salah satu pihak.

Meski demikian, tidak mudah mendesain sistem insentif dalam kegiatan ekonomi yang multikompleks. Syarat sistem insentif bekerja adalah tersedianya informasi lengkap sehingga dapat diakses semua pelaku ekonomi (padahal ini mustahil).

Informasi yang kurang lengkap membuat sistem insentif tidak bekerja sempurna. Bagi mereka, kegagalan mekanisme pasar disebabkan ketidaksanggupan melengkapi informasi. Artinya, informasi yang digulirkan mekanisme pasar selalu asimetris. Di sinilah teori desain mekanisme berselancar di antara kelangkaan informasi (di satu sisi) dan kemampuan mencari kompensasi atas ketidaksempurnaan pasar (di sisi lain). Dalam kasus monopoli, kompensasi bisa berupa pengenaan pajak perusahaan yang lalu ditransfer ke konsumen.

Regulasi (berbagi) informasi
Kasus itu bisa dilanjutkan dalam perpajakan, penentuan harga saham, kesepakatan lelang, keputusan pemberian kredit, dan perilaku memilih. Dengan regulasi itu—yang sudah dikembangkan teori ekonomi kelembagaan—tindakan dan keputusan ekonomi diambil dengan mempertimbangkan kepentingan semua pihak sehingga kemungkinan kerugian yang bakal diderita salah satu partisipan, dieliminasi.

Jika ini yang terjadi, prinsip efisiensi dan kerja sama/kompetisi dalam kegiatan ekonomi bisa dicapai. Kontribusi inilah yang disumbangkan sehingga komite tidak ragu memilih mereka sebagai pemenang Nobel Ekonomi. Semoga pesan teori mereka dapat dicerna pengambil kebijakan dan ekonom negeri ini.

Ahmad Erani Yustika Ketua Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FE Unibraw

About Indah Sri Wulandari

Gerak Ekonomi untuk Daulat Kemanusiaan Lihat semua pos milik Indah Sri Wulandari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: